Banyak Siswi Hamil, Ketua LAM Prihatin

0
144
Para pelajar saat kampanye memerangi pernikahan dini beberapa waktu lalu. f-dokumen/tanjunpinang pos

Pergaulan Bebas Mewabah ke Pelajar

Maraknya seks bebas di kalangan pelajar menuntut semua orangtua untuk lebih ketat dalam mengawasi anak-anaknya.

TANJUNGPINANG – Selama 2018 saja, Pengadilan Agama Tanjungpinang terpaksa mengeluarkan rekomendasi untuk menikahkan untuk 46 pelajar yang hamil. 46 kasus ini baru yang hasil saja. Tentu ini bertanda angka remaja yang terjerumus pergaulan seks bebas sudah jauh lebih besar dari mereka yang ketahuan hamil.

Memperihatinkannya angka kehamilan data dari pengadilan Agama Tanjungpinang ini sudah terlihat sejak tahun-tahun sebelumnya. Pada 2017 tercatat ada 42 kasus pengajuan permohonan pernikahan anak usia sekolah. Umumnya, pengajuan permohonan nikah ini karena sudah terlanjur hamil.

Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Tanjungpinang juga mengaku memprihatinkan prilaku anak remaja zaman sekarang. Menurut Wan Rafiwar, banyak yang masih berstatus pelajar tapi sudah berani melakukan hubungan selayaknya suami istri.

Seharusnya, anak remaja yang berstatus pelajar harus serius menimba ilmu di bangku sekolah. Namun, karena pengaruh teknologi dan pergaulan yang tidak terkontrol malah banyak yang nekad melakukan prbuatan yang tidak sepatutnya dilakukan oleh pelajar.

”Ini suatu pukulan buat kita semua sebagai orang tua dan daerah. Sebab, mereka sudah memalukan orangtua dan daerah,” kata Ketua LAM Kota Tanjungpinang, Wan Rafiwar kepada Tanjungpinang Pos, Minggu (23/12).

Wan Rafiwar menyebutkan, maraknya pelajar yang hamil ini, semua disebabkan hasil pergaulan bebas yang sudah dijalani anak remaja. Pergaulan bebas bisa didapat dari lingkungan bermain. Selain itu, sambungnya, handphone juga mempengaruhi pola pikir anak hingga nekat melakukan apa yang semestinya tidak boleh mereka perbuat.

”Karena hampir semua anak zaman sekarang sudah memiliki handphone pribadi. Teknologi itu mestinya untuk memudahkan kita melakukan pekerjaan dan mempermudah anak-anak dalam melakukan pencaria refrensi. Namun kalau disalahgunakan dampaknya sangat buruk. Dengan teknologi yang canggih, anak-anak bisa dengan mudah mengakses apa yang diinginkan. Misalnya, foto maupun video yang tidak wajar. Perlu ada kontrol penggunaan ponsel dari orangtua dan para guru,” sebutnya.

Selain itu, menurut Wan Rafiwar, Peraturan Dareah tentang Jam belajar bagi anak sekolah harus terus ditegakkan dengan menggelar patroli. Anak-anak remaja yang berkumpul yang tidak melakukan hal yang bermanfaat harus dibubarkan. Batas nongkrong bagi remaja paa malam liburan juga harus tegas dan dirazia secara rutin,” harapnya.

Wan mengajak para orang tua untuk sama-sama memantau perkembangan dan pergaulan anak-anak. ”Apa bila mereka pegang ponsel hendaknya orangtua mendampingi anaknya. Ini untuk mencegah anak agar tidak membuka hal yang tidak semestinya mereka buka,” saranya.

Memang, katanya, tidak akan mungkin orangtua mengawasi anak selama 24 jam. Tapi, hendaknya ini perlu dilakukan para orang tua. Karena semua ini demi kemajuan serta masa depan anak.

”Kalau gunakan ponsel dengan baik, maka banyak ilmu yang kita dapatkan dengan baik. Misalnya, ilmu agama yang kita dapatkan di ponsel,” ucap dia.

Ia berharap, orang tua untuk mengajarkan hingga memberikan ilmu agama sejak dini ke anaknya. Agar anak bisa menghormati, menghargai hingga memiliki ilmu agama yang diberikan orang tua maupun guru disaat sekolah.

”Kalau kita lihat, anak sekarang seperti kurang menghargai orang yang lebih tua darinya. Mudah-mudahan dengan ilmu agama, anak bisa berbuat yang baik dan positif,” sebut dia.(ANDRI DS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here