Batam Belum Jadi Lokomotif untuk Sumatera

0
32
Suyono

Industri Batam yang diharapkan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi kawasan Sumatera ternyata belum sesuai harapan. Bahkan pertumbuhan ekonomi Batam masih di bawah 5 persen.

TANJUNGPINANG – Kendati demikian, Batam masih bisa diharapkan jadi pusat industri dan pariwisata di wilayah Indonesia bagian barat. Namun belum bisa menjadi lokomotif.

”Karena pertumbuhan yang diharapkan tidak tercapai,” kata pengamat ekonomi dari Univeritas Internasional Batam Suyono Saputra, kemarin.

Dia melihat sejauh ini, empat kawasan Free Trade Zone yang ditetapkan pemerintah seperi Batam, Bintan, Tanjungpinang dan Karimun belum mampu mendorong pertumbuhan di Sumatera.

Bahkan Kepri tragisnya berada nomor dua paling bawah dalam pertumbuhan ekonomi. Jauh kalah dibandingkan provinsi lain yg tak ada fasilitas khusus.

Menurut Suyono, jika melihat struktur ekonomi Batam saat ini, 60 persen masih ditopang oleh industri manufaktur elektronik, shipyard, fabrikasi dan lainnya.

”Sektor ini sampai 10 tahun ke depan tetap menjadi tulang punggung ekonomi walaupun ‘maaf cakap’ BP membuat 1000 event tari. Padahal yang penting sudahkah BP-Pemko membuat peta jalan pengembangan industri 5, 10 dan 20 tahun ke depan?” ujarnya.

Dikatakan, BP sebagai penanggungjawab sektor indusri maka perlu tanya apa BP sudah buat peta jalan industri masa depan di Batam?

”Sepanjang 2018 ini saya mencatat yang telah dilakukan BP hanya event wisata dan hiburan dan retorika untuk membangun basis logistik nasional baik melalui pembenahan Pelabuhan Batu Ampar dan Hang Nadim,” ujarnya.

Lebih lanjut disebutkan, bisnis alih kapal juga menjadi mimpi tak kesampaian. Dan agak eneh juga ketika BP dan Pemko menggarap bersama sama pariwisata yang belum saatnya BP terjun ke sana.

”Karena kontribusi sektor pariwisata masih kecil dan dampaknya dalam mengurangi angka pengangguran juga belum signifikan. Harusnya BP fokus menggarap industri,” kata dia.

Suyono melihat potensi Batam bangkit kembali dari krisis 2015 tergatung kepada pengelola Batam. Sejauh mana pihak tersebut serius memikirkan nasib pulau ini ke depan. Secara global dan regional, ekonomi diprediksi melambat, terutama tiga poros ekonomi dunia yaitu AS, UE dan China.

Perlambatan itu berdampak terhadap arus investasi langsung ke negara emerging market termasuk Indonesia yang terkhusus Batam.

”Tapi data yang saya peroleh, arus investasi untuk industri di Vietnam, Thailand dan Malaysia, justru naik signifikan terutama investor dari China, Jepang dan Korea. Artinya apa, Vietnam sudah siap membangun ekosistem industri yang bagus, membuat klasterisasi industri dengan beragam insentif yang lebih menarik dibandingkan Batam,” jelasnya.

Suyono mengatakan, Batam sulit keluar dari krisis jika belum membuat atau membenahi road map pengembangan industri yang mampu beradaptasi dengan kondisi global. Termasuk merelaksasi berbagai aturan dan hambatan yang ada selama ini.

Dia memandang keraguan pemerintah dan dunia usaha antara FTZ dan KEK harusnya tidak menjadi masalah.

”Jika niat kita ingin membangun ekosistem industri dan membenahi road map industri menjadi lebih baik, maka KEK bisa jadi alternatif. Tentu dengan syarat dan ketentuan yang spesifik. Karena pada prinsipnya investor lebih utamakan tentang insentif dan ekosistem yang terbangun untuk memudahkan mereka terkoneksi dengan jaringan global,” imbuhnya.

Dan harus diingat, lanjutnya, KEK juga bisa jadi solusi membereskan dualisme kelembagaan. Karena dengan begitu sudah terbagi dengan jelas mana wilayah.(PATRIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here