Batam Kekurangan 5.017 Ton Beras

0
416
WALI KOTA Batam Rudi saat menyerahkan beras murah kepada warga Bulang, baru-baru ini. F-martua/tanjungpinang pos

BATAM – Warga Batam kini kekurangan beras. Salah satu upaya yang mudah dan murah yakni dengan cara impor beras. Dan itu diakui Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad. Menurut Amsakar impor beras itu perlu dan sudah mendesak. Alasannya, kebutuhan beras itu yang mendorong pihaknya mengajukan impor langsung ke Batam dan tidak melalui Cipinang. Jika dinilai perlu, dilakukan impor terbatas. Menurutnya, saat ini stok beras hanya sekitar 4.391 ton. Sementara kebutuhan beras sekiar 9.409,17 ton.

Demikian disampaikan Amsakar Achmad, usai paripurna DPRD Batam, Senin (12/2) di gedung dewan Batam. Diungkapkan Amsakar, dari data yang diterima dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Batam. “Stok bulog sekitar 1.254,62 ton. Sementara stok yang tersedia di distributor, sekitar 3.136.40 ton. Jadi totalnya stok ada 4.391,02 ton,” jelas Amsakar.

Amsakar yang didampingi Kadisperindag Batam, Zarefriadi mengatakan, kebutuhan beras Februari 2018 ini, 9.408,17 ton. ”Jadi dikurangi dengan ketersediaan yang ada di Bulog dan pasar, kekurangan stok yang sekarang, 5.017,15 ton,” jelasnya.

Diingatkan, mereka akan mencari solusi bagi kekurangan stok beras ini. Sehingga tidak sampai terjadi kelangkaan beras di Batam. Sebagaimana disampaikan Amsakar, pihaknya akan memanggil distributor beras di Batam. ”Kita akan mencari solusi dan diskusikan dengan para distributor nanti,” harap Amsakar.

Diingatkan, permintaan mereka untuk membuka keran import langsung ke Batam, ke pemerintah pusat melalui Komisi VI DPR RI, mengingat kebutuhan. Terkait beras ini juga sudah beberapa kali disorot buruh, karena dampak UMK naik tidak berpengaru banyak bagi kesejahteraan buruh, karena harga beras tetap tinggi.

”Persoalan beras seperti disampaikan buruh, terkait harga. Harga beras signifikan bagi buruh. Sementara kita juga kekurangan beras dari kebutuhan semestinya,” jelasnya.

Sehingga untuk menutupi kekurangan itu, diminta dipenuhi melalui importasi. Jika dipandang perlu, maka dilakukan import terbatas. Alasannya, jika mendatangkan dari Cipinang, harganya tetap tinggi, sehingga distributor enggan mendatangkan ke Batam.

”Nanti bisa diawasi badan bahan pangan. Kalau dilakukan pembatasan impor, saya yakin tidak ada masalah. Kalau dibuka 4ribu ton per bulan, atau 3 ribu ton pun tidak ada masalah,” harap Amsakar.

Terkait dengan keengganan importir mendatangkan beras ke Batam dari Cipinang, karena harga. Jika dipaksakan dengan mendatangkan dari Cipinang, distributor beras mengaku dilematis soal harga. ”Kalau harga net 11.300, dan dijual Bulog di atas harga net, kan bisa bermasalah. Kalau menjual rugi, ngapai,” cetusnya.

Menurut Amsakar, kalaupun pemerintah pusat bicara panen raya, namun bagi Batam, tidak berpengaruh. Alasannya, Batam bukan pengahasil beras. ”Ini bukan daerah penghasil. Ini yang menjadi persoalan kita,” jelas mantan Kadisperindag itu.

Ditanya terkait dengan kemungkinan mendatangkan beras dari Sumbar dan Jambi, diakui biaya transportasi tetap tinggi. ”Kalau membawa dari Sumbar itu untung, akan saya lakukan. Dari 15 distributor, sepertinya tidak tertarik mendatangkan beras Sumbar. Ini karena tidak bisa di bawah HET. Kalau diatas HET, akan ditegur Satgas Pangan,” imbuhnya.

Sementara Kadisperindag Batam, Zarefriadi mengatakan, kebutuhan beras di Batam, sekitar 300 ton per hari atau hampir 10 ribu ton perbulan. Permasalahan mendatangkan beras lokal, terkait ongkos. Baik dari Jambi atau Sumbar, diakui ongkos kirim tinggi. ”Masih jauh ongkos dari Tanjung Jabung ke Kerinci ke Tanjung Jabung ke Kuala Tungkal lagi,” imbuhnya.(MARTUA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here