Beda Pilihan Politik jangan Memutus Hubungan

0
195
Robby Patria

Apakah Anda pernah berdebat di WhatsApp (WA) tentang soal presiden yang sedang berkompetisi di saat ini? Maka itu salah satu bahwa rakyat Indonesia saat ini sedang terbelah dua kubu. Dan kasus perdebatan itu terkadang lama untuk kembali menyatu seperti sediakala.

Adalah soal beda pilihan yang membuat masyarakat terbelah begitu tajam. Bahkan WA group yang seharusnya berisi diskusi-diskusi yang menarik berubah menjadi sarana yang menjengkelkan. Karena masing-masing orang menyerang salah satu capres. Kemudian yang lain menyerang dengan menyebarkan berita-berita kategori berita palsu dan hoaks yang tak diverifikasi terlebih dahulu.

Menurut laporan Tirto, kasus pemilu yang harusnya menjadi pesta kebahagian rakyat berubah menjadi tangisan dan pertumpahan darah. Honduras salah satu negara yang berkonflik saat ini akibat pemilu. Di Kenya, pemilu kerap berujung duka. Pada 2007, sekitar 1.300 orang meninggal dan 600.000 orang lainnya mengungsi akibat penyerangan kepada suku-suku yang dianggap berseberangan dalam pemilu.

Alhamdulillah selama pemilu era Reformasi, Indonesia bisa melalui pemilu dengan baik. Walaupun ada riak riak keributan terjadi di tengah masyarakat. Dan Indonesia baru pertama kali ini melaksanakan pemilu serentak presiden dan DPR secara bersama-sama. Inilah faktor yang menyebabkan masyarakat kita mulai beda pilihan.

Olga Khazan menulis What Causes Some Elections to Go Violent? Ia memaparkan bahwa sebagian besar yang menghadapi permasalahan pada pemilu berasal dari negara-negara berkembang. Indonesia pun sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia masih negara berkembang sedang diuji apakah kita bisa berdemokrasi dengan baik di 2019?

Kebisingan di group WA, Twiter dan Facebook seharusnya habis di medsos saja. Jangan sampai membawa petaka seperti yang terjadi di Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Subaidi, seorang tukang gigi, tewas setelah tubuhnya ditembus peluru panas dengan pistol rakitan milik Andika, akibat berdebat di medsos.

Banyak yang tertarik membahas politik seolah-olah mereka yang paling paham soal politik. Mereka seperti kenal dekat dengan capres yang dibela mati-matian. Demam pemilu di kita terkadang belum diikuti dengan kedewasaan dalam menghadapi pilihan yang berbeda. Dalam WA group keluarga bahkan ada yang mengatakan, ”Kalau keluar dari WA group keluarga nanti bisa dicoret dari KK.”

Sehingga walaupun tidak setuju dengan pembahasan capres tertentu, tetap bertahan dengan situasi yang ada. WA dan medsos lainnya bukan lagi menjadi sarana menampilkan diri pribadi dan aktivitas pribadi. Namun di tahun politik, medsos menjadi “hantu” yang menakutkan. Jika sudah siap bermedsos, maka Anda sudah siap untuk di-bully. Banyak korban yang sudah menderita bahkan masuk penjara karena medsos. Anda bisa diblok bahkan putus pertemanan dan silaturahmi hanya karena berbeda pilihan.

Pandangan klasik (Aristoteles) mengemukakan bahwa politik digunakan masyarakat untuk mencapai suatu kebaikan bersama yang dianggap memiliki nilai moral yang lebih tinggi daripada kepentingan swasta. Dan Pemilu 2019 harusnya berdasarkan nilai-nilai kemanusian yang sudah ada sejak dulu kala. Sehingga kita bisa melewati dan menghasilkan wakil rakyat yang berkualitas dan pemimpin terbaik hanya dengan pemilu yang berintegritas dan bermartabat. Tapi jangan lupa, perbedaan dalam pilihan capres jangan sampai putus pertemanan. Apalagi sampai putus hubungan cinta kasih.(Patria)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here