Belajar Bersama Belasan Maestro

0
441
SANTAI: Qurnia Febriani duduk usai belajar biola. f-istimewa/tanjungpinang pos

Qurnia Febriani, Budak Tanjungunggat Lolos Seleksi Menteri

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI membuka kesempatan bagi pelajar di Indonesia untuk belajar dengan sejumlah maestro.

Tanjungpinang – TAPI tidak mudah untuk meraih kesempatan ini. Karena mereka yang berniat harus ikut seleksi. Di Tanjungpinang, hanya satu siswa yang lolos.

Siswa Tanjungunggat semakin cemerlang. Kesan negatif yang selama ini melekat pada nama tersebut sudah mulai terkikis habis. Terbukti dengan banyaknya prestasi yang dilahirkan dari kampung tempat perdamaian Melayu-Bugis pada era Engku Putri tersebut. Salah satu adalah jebolnya, Qurnia Febriani, anak Tanjungunggat di agenda bergengsi Belajar Bersama Maestro (BBM) yang digelar Kemendikbud tersebut.

BBM bukan akronim untuk bahan bakar minyak ataupun aplikasi chat milik vendor ternama. BBM adalah program yang digarap langsung Kementrian Kebudayaan Republik Indonesia, singkatan dari Belajar Bersama Maestro. Ada kabar baik dan kabar buruk yang ingin disampaikan awak media kepada pembaca. Kabar buruknya khusus wilayah Kepri, ternyata angka peserta yang lolos dari seleksi kementerian tersebut sungguh jauh dari harapan.

Padahal, Kepulauan Riau adalah wilayah gerbang lintas negara yang masih menjaga kelestarian nilai tradisi. Harusnya jumlah peserta yang bisa masuk dalam kategori itu banyak. Kenyataannya hanya sedikit. Informasi yang diperoleh awak media, khusus Kepri hanya mampu meloloskan 4 peserta di agenda BBM tersebut dengan rincian 2 peserta dari Kota Batam, 1 dari Karimun dan yang terakhir dari Tanjungpinang.

Kabar baiknya, khusus peserta dari Tanjungpinang yang lolos seleksi menteri tersebut bukanlah anak gedungan, melainkan seorang remaja putri dari keluarga sederhana yang berlokasi di sudut Tanjungunggat namun dengan segudang prestasi.Melalui abang kandungnya, Rudy Irwansyah awak media mencoba mengulik lebih dalam siapa sebenarnya Qurnia Febriani itu dan prestasi apa yang dimilikinya hingga mampu mengantarkannya sampai tingkat kementerian.

”Dia (Qurnia, red) masih Kelas 2 SMA. Dia sekolah di SMAN 2 Tanjungpinang. Alhamdulillah sudah berangkat tanggal 9 Juli kemarin ke Jakarta untuk ikut kegiatan itu,” Kata dia membenarkan. Sepintas, rumah tempat kediaman Qurnia tidak ada yang berbeda. Ruang tamu sederhana itu berisi perabotan sekedarnya. Sama dengan yang dimiliki oleh keluarga kebanyakan, kecuali satu hal yang sedikit menggelitik mata wartawan, yakni dipojok dinding rumah desain lama tersebut, sedang nangkring biola tua.

”Oh, itu biola bertuah. Saya belajar dari biola itu dan Qurnia pun belajar dari biola itu,” jelas Rudy yang juga piawai memainkan alat musik gesek berdawai empat itu.

Ternyata, salah satu prestasi Qurnia yang menjadi pertimbangan alot gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bukan hanya kepiawaiannya menggesekkan alat musik yang berasal dari Perancis itu, namun juga talenta lain yang dimiliki oleh gadis berwajah Melayu tersebut.

Ya, selain ahli menguasai instrumen musik tradisional, Qurnia juga jago dalam menghayati peran dalam teater. Beberapa sertifikat berlabel nasional juga menjadi pertimbangan yang memberatkan namanya untuk lolos seleksi. Belajar Bersama Maestro (BBM) itu adalah kesempatan Qurnia untuk menekuni seni dan budaya. Sebab tidak banyak pelajar yang memiliki peluang emas seperti dia.

”Katanya sih, selama dua minggu di Jakarta mereka akan menimba Ilmu langsung dari maestro seni,” beber Rudy. Ada sederet nama para maestro yang akan mengajari mereka seperti Titiek Puspa, Ki Manteb Sudarsoso, Krisna Murti, Retno Maruti, Sunaryo, Timbul Raharjo, Hanafi, Caro David Habel Edon, Djana Partanain, Asia Ramli.
Kemudian, Dedek Wahyudi, Iman Soleh, Jese Rizal Firdaus, Fendi Siregar hingga Zakarya yang kesemuanya merupakan pakar seni penampilan, panggung maupun peran yang handal di Indonesia.

Kebahagiaan keluarga Qurnia memang tidak dapat dipungkiri. Sorot binar bola mata sang kakak adalah kebanggaan tertinggi yang diberikan kepada adiknya. Bukan hanya berhasil lolos di ajang bergengsi, namun juga bisa menjadi tauladan remaja Tanjungunggat yang semakin hari, semakin berbenah diri.

”Tanjungunggat ini sangat sakral pada masanya dulu, tidak salah kiranya kalau kejayaan itu dimunculkan kembali sebagaimana ikrar yang disampaikan oleh Melayu-Bugis di Tanjungunggat,” ujar sang kakak.(YOAN S)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here