Belajar dari Pemilu Serentak 2019

0
384
Abd. Rahman Mawazi

Oleh: Abd. Rahman Mawazi
Bergiat di STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Pemilihan umum (pemilu) Indonesia 2019 ini merupakan pemilu serentak yang paling ramai dan paling gaduh. Kontestasi pemilu yang biasa untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), kini bertambah ramai dengan kehadiran persaingan memperebutkan kursi presiden dan wakil presiden. Jadilah yang terakhir ini sebagai pusat perhatian pemilu tahun ini karena hanya diikuti oleh dua pasang kontestan, apalagi kedua capresnya sudah bersaing sejak lima tahun lalu.

Kuatnya perhatin masyarakat terhadap pemilu capres dan cawapres, yang akan mengisi bagian eksekutif, seakan menenggelamkan tiga bagian kontestasi untuk legislatif. Media sosial seperti Facebook, Twitter, Intagram, WhatsApp, dan lainnya semakin riuh karena polarisasi pemilih capres. Di media sosial itu juga terjadi kegaduhan yang nyata, meski di dunia nyata biasa-biasa saja. Kedua pendukung saling berlomba mengklaim sebagai pendukung setia dan berusaha mempengaruhi orang lain untuk turut mendukung pilihannya.

Dari perspektif ajaran politik Carl Schmitt, kondisi distingsi “kawan-lawan” ini sebenarnya adalah realitas politik yang sebenarnya atau politik otentik. Apabila ini terjadi, maka itulah wajah politik sebenarnya. Justru ketika politik adem ayem dan terjadi apatisme di kalangan masyarakat, berarti telah terjadi krisis politik atau depolitisasi, sebab politik tidak lagi memberikan gairah. Dengan hanya dua pasang capres dan cawapres ini, maka kawan dan lawan itu semakin tampak jelas.

Kawan dan lawan semakin gencar mencari pendukungnya. Namun, bila dilihat dari resalitas politik di medsos saat ini, narasi klaim ukungan dan pengaruh ini juga menjadi problem karena terlalu banyak wacana yang kurang realistis. Mungkin hal semacam itu terjadi karena mengikuti doktrin kuasa wacana (baca: pengetahuan) sebagaimana yang diajarkan Micheal Foucault. Sehingga terkadang klaim-klaim itu membuat jengah kalangan yang belum punya pilihan; dielukan oleh pendukungnya, tapi dicibir oleh pendukung yang lain. Kenyataan dunia medsos ini pula yang membuat apatisme politik pada pemilu kali ini diduga semakin tinggi.

Bahwa politik adalah seni mempengaruhi orang lain, sebagaimana ajaran Hannah Arendt, itu memang terjadi. Bahkan, bila dikombinasikan dengan ajaran Foucault di atas, realitas politik semacam ini semakin memperlihatkan kekuatan doktrin politik keduanya; mencari pengaruh dengan wacana, baik sisi positif maupun sisi negatif. Maka, sangat wajar bila kemudian ada yang menyebarkan hoaks, ada pula yang membuat klaim-klaim awal, bahkan ada yang membuat semacam mitologi dan ramalan-ramalan dalam upaya mempengaruhi yang lain.

Sampai di sini, kita akan semakin sadar betapa dunia politik itu memang penuh hingar-bingar political influence sehingga kita tidak perlu baper (bawa perasaan) apabila ada klaim-klaim tertentu dari para pendukung masing-masing calon. Kita nikmati saja visi dan misi serta program yang dicanangkan oleh pasangan capres dan cawapres, tanpa perlu larut terlalu jauh pada klaim-klaim, kemudian berikan pilihan.

Nyatanya, sebagaimana kata Thomas Hobbes, siapapun yang akan keluar sebagai pemenang dalam pemilu presiden dan wakil presiden, kekuasaan akan digunakan untuk mengendalikan kecenderungan tiap-tiap manusia. Tidak perlu heran, apabila setiap penguasa selalu memperlihatkan wajah garang di harapan rakyatnya. Manusia sebagai serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus) perlu kendali dalam satu kuasa supaya tidak saling perang melawan semuanya (bellum omnium contra omnes).

Sejarah kekuasaan telah memberikan pelajaran betapa kekuasa itu manis sehingga selalu dikerumuni dan diperbutkan oleh banyak orang. Setiap penguasa selalu enggan meninggalkan kursi kekuasaannya dan bahkan cendrung untuk menjadi penguasa abadi. Apapun alasan yang digunakan dalam perebutan kekuasaan, entah alasan agama, suku, teritorial, dan lain sebagainya, telah memperlihatkan betapa mencari pengaruh dan memperkuat legitimasi kuasa terkadang menampilkan wajah yang tidak manusiawi.

Dari sini kita mendapatkan pelajaran bahwa narasi apapun yang digunakan para kontestan dalam meraih kekuasaan, ia tetap akan menjalankan kekuasaannya untuk mengendalikan dan mempengaruhi orang lain, sebagaiamana yang diajarkan oleh Max Webber. Bersamaan dengan itu juga, ada sistem mekanis dalam birokrasi pemerintahan yang juga tidak semudah janji-janji politik saat kampanye.

Pertanyaanya, jikalau penguasa bisa semaunya mempengaruhi, apakah masih perlu pemilu? Ini adalah satu bentuk pertanyaan rumit yang sering dikeluarkan oleh golongan putih (golput) atau penganut apatisme dalam politik. Perlu diketahui bahwa politik adalah instrumen dalam kehidupan sosial. Sedangkan pemilu adalah perangkat yang digunakan untuk memilih penguasa agar siapapun yang terpilih bisa mewujudkan, apa yang disebut oleh Aristotales sebagai, ‘kebahagiaan bersama’.

Kalau diperhatikan, narasi-narasi apatisme itu juga mulai mewarnai media sosial, semisal “Siapapun presidennya, kita tetap harus kerja”. Kahadirannya muncul sebagai reaksi atas ditingsi kawan-lawan yang sudah dianggap terlalu gaduh di media sosial. Golput atau abstain dalam pemilu tidak memiliki arti apa-apa dalam sistem demokrasi. Sejauh ini, ajaran para pakar politik di Indonesia masih menganjurkan agar rakyat menggunakan hak pilihnya.

Terlepas dari beragam narasi dalam mempengaruhi kawan dan lawan, tujuan politik itu sendiri ialah untuk mencapai kebahagiaan bersama. Bisa jadi, menjadi golput justru menafikan tujuan bersama itu atau sebaliknya. Meski demikian, klaim kebenaran tunggal dalam politik juga bukanlah pengejawantahan politik otentik. Maka, di era digital ini, yang diperlukan dalam menghidupkan realitas politik otentik ialah mengurangi sikap berlebihan dalam memandang kawan maupun lawan. Sudah menjadi hukum alam apabila yang berkuasa diserang oleh yang tidak berkuasa, dan yang berkuasa meredam seragan yang tidak berkuasa.

Apapun yang berkecamuk dalam pikiran dan pilihan, hal itu adalah sebuah bentuk ekspresi yang nyata dalam politik, termasuk abstain sekalipun. Titik akhir sebagai pemilih adalah kertas suara, sedangkan titik akhir bagi kontestan adalah pengumuman hasil. Apapun hasilnya, narasi kuasa wacana masih tetap akan tereproduksi. Ini adalah politik otentik, politik untuk kebahagiaan bersama. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here