Belajar Kebaikan dari Sang Cincau dalam Memaknai Perubahan

0
1083
Dvi Afriansyah

Oleh: Dvi Afriansyah
Civitas Akademika STAIN Sultan Abdurrahman, Kepri

Sejarah mencatat cincau ternyata berasal dari Tiongkok. Orang-orang Tiongkok lah yang pertama kali membuat cincau, dan pada masa-masa berikutnya cincau juga dibuat oleh masyarakat di negara-negara Asia tenggara termasuk Indonesia. Cincau adalah produk olahan makanan dan minuman yang berbentuk gel yang dibuat dari ekstrak daun tumbuhan tertentu. Nah, satu yang sering tidak diketahui oleh banyak orang adalah ternyata cincau yang selama ini kita kenal sejatinya dibuat tidak hanya dari satu jenis daun saja ia bisa dibikin dari berbagai jenis daun.

‘’Daun Cincau” nya orang Kepulauan Riau, misalnya boleh jadi berbeda dengan daun cincaunya yang dimaksud oleh orang Jawa Tengah. Begitu pun dengan sebutan “Daun Cincau” bagi orang Sulawesi atau pun Kalimantan. Itulah sebabnya saya terinspirasi oleh dosen daya Drs.Nazaruddin,MH yang selalu di setiap ucapan baik itu ketika lagi ngobrol bersama di kedai kopi atau pun di media sosial beliau tak pernah terlepas dari kata Cincau Oii.

Ternyata filosofi Cincau yang beliau maksudkan bisa jadi Cincau yang mampu memaknai perubahan dari daun menjadi ekstrak gell yang bermanfaat bagi manusia, berupa obat bagi luar dan dalam, serta bagi kondisi kita saat ini sangat lah sesuai dengan khasiat cincau itu sendiri yang mampu memberikan efek dingin alias menyembuhkan panas dalam bagi tubuh kita. Begitu juga dari hal sederhana yang seringkali bisa memicu perdebatan dan perpecahan antar etnis hanya dari perbedaan dalam memaknai penyebutan “Daun Cincau” atau darimana sih sebenarnya “Cincau” itu sejatinya berasal yang bisa berujung konflik.

Baca Juga :  Langkah Membangun Minat Membaca

Setiap kehidupan yang berada di dalam ruang dan waktu, sedikit maupun banyak,besar ataupun kecil pastilah mengalami perubahan, yang tidak berubah itu hanyalah kata “Perubahan” itu sendiri. Menurut Peter Serge, Manusia yang tidak belajar tidak akan pernah berubah, jika tidak berubah maka dia mati. Perubahan adalah suatu keniscayaan tapi tindakan untuk menyikapi perubahan itu pilihan.Perubahan tanpa didukung oleh proses pembelajaran yang terus-menerus adalah “bualan”.

Belajar bukanlah suatu masalah atau hal yang dianggap sebagai beban hidup. Pada dasarnya dengan belajar harapannya nilai, sikap, tingkah laku, kebiasaan, keterampilan, pengetahuan berubah kearah yang lebih baik. Namun belajar itu harus dimaknai secara holistik, begitu banyak dari kita kurang tepat dalam memaknai arti penting belajar itu sendiri. Sebab setiap individu yang telah tercerdaskan dan telah mampu berubah menjadi lebih baik, akan memberi imbas pada perbaikan lingkungan kehidupan masyarakatnya.

Seringkali kebanyakan dari kita menghindar diri dari proses pembelajaran. Perilaku-perilaku tersebut muncul dipermukaan ini, saya ambil contoh didunia kemahasiswaan,seperti Kita bahagia apabila dosen tidak dating, membuat tugas ala kadarnya yang penting jadi, Kerja Kelompok biar saja teman kita yang mengerjakannya, mengikuti organisasi atau kepanitiaan hanya sekedar mencari sertifikat dan mengisi curriculum vitae saja, Ikut diskusi kalau ada hadiah atau sertifikat saja bukan untuk memunculkan ide dan gagasan – gagasan baru, Menulis skripsi walaupun salah biarkan saja tak perlu direvisi yang penting cepat selesai jadi lah Sarjana (secara simbolik namun tidak essensial), IPK biar tinggi secara nominal tidak riil pun tidak masalah.

Baca Juga :  Membangun Perekonomian Kepri Berbasis Data

Selain itu kita belajar hanya biar nilai ujian kita bagus, belajar biar lulusnya cepat dan mendapat predikat Suma Cumlaude, belajar juga bukan agar bisa melanjutkan S2, S3, hingga professor atau belajar hanya agar dapat pekerjaan atau hal-hal lain yang scoop-nya begitu kecil.

Belajar itu bukan untuk apa-apa selain untuk belajar itu sendiri, masa depan adalah milik para pembelajar. Para pembelajar adalah orang-orang yang setiap hari memprogram dirinya, untuk menguasai keterampilan baru agar dapat mereka gunakan dalam meraih masa depan yang lebih sukses. Sebaliknya, orang-orang yang malas belajar atau yang sudah menganggap dirinya sangat pintar. Biasanya, baru akan mulai belajar saat dirinya terdesak oleh realitas perubahan. Jadi, mereka baru memiliki gagasan atau pikiran untuk menguasai keterampilan baru, ketika pola kerja mereka sudah kontraproduktif dengan realitas.

Baca Juga :  Puncak Apresiasi Publik Terhadap TNI

Belajar itu bagaimana agar hidup semakin berkualitas, belajar itu bagaimana pengetahuan sikap dan keterampilan kita terus diasah kearah yang lebih baik. Sehingga dengan belajar hidup kita itu berkualitas dan dapat pula meningkatkan kualitas hidup orang lain,masyarakat,bangsa dan Negara bahkan peradaban dunia. Belajar itu bagaimana hidup kita menjadi bermanfaat untuk sesame,bukan untuk kepentingan pribadi yang sangat sempit,Karena hidup kita itu tidak sendiri tapi berdampingan antara Tuhan,Manusia dan Alam.

Cincau saja yang berawal dari daun mau melakukan perubahan menjadi jelly yang memiliki khasiat baik bagi kesehatan kita dan terlepas dari banyaknya versi Cincau yang berkembang di Indonesia, Cincau tetaplah Cincau. Kuliner yang nikmat yang menyegarkan bila dibikin es dan diminum saat cuaca sedang panas-panasnya. Namun, ia bisa juga menjadi sangat keras dan menyebalkan jika dibikin tebak-tebakan : Cincau oiii Cincau, Cincau apa yang egois? Atau Aku cincau kau dan dia oiii. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here