Belajar Memungkinkan Kreativitas

0
300
Jerumat

TAK banyak penyair Indonesia yang menurut saya sudah punya rumah dengan alamat yang pasti di negeri puisi Indonesia. Di antara yang tak banyak itu adalah Sutardji Calzoum Bachri. Ketika kritikus Dami N Toda berkata Chairil adalah ibarat mata Anda yang kanan, maka Sutardji adalah Anda yang kiri, maka menurut saya, dia telah memberi isyarat yang gampang ditangkap: dimanakah rumah dan alamat Sutardji.

Tapi bagi sebagian penghuni negeri puisi Indonesia, Sutardji tampaknya tidak boleh duduk betah di rumahnya. Sebagian dari kita mungkin menganggap dia tak pantas diberi rumah yang pantas. Sebagian dari kita mungkin menganggap rumah itu tidak ada, atau kalau pun ada rumah itu adalah rumah hantu. Menurut saya, kenyataannya adalah rumah itu terletak di sebuah bukit yang tinggi. Banyak penjelajah dan pendatang baru di negeri puisi Indonesia yang tak kuat niat sajak dan lemah daya tahan menyairnya menganggap bukit itu terlalu tinggi. Tak akan tercapai, dan akhirnya menganggap singgah ke rumah itu tak ada gunanya.

Sekedar singgah, sekedar berkunjung pun tak berguna? Saya sendiri mewajibkan diri saya untuk singgah. Bertemu dan berbincang dengan si tuan rumah dan minta satu dua nasihat sebelum melanjutkan perjalanan. Sutardji memang bukan bukan orang yang suka memberi nasihat. Ia memberi tantangan. Ia adalah buku besar yang halaman-halamannya bertuliskan naskah penting dengan huruf-huruf berukuran besar. Mudah dibaca, tapi kita yang terbiasa dengan buku picisan mungkin akan gentar bahkan untuk menyentuh tepinya saja, bahkan untuk meraba sampulnya saja.

Salah satu dari naskah penting itu adalah “Kredo Puisi” yang ditulis 30 Maret 1973. Naskah itu menjadi pengantar kumpulan sajak “O” yang merangkum sajak-sajaknya yang ia tulis sepanjang 1966-1973. Banyak pembaca kredo itu yang “terpesona” dengan bagian ini: “Kata-kata harus bebas dari pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.” Bagian ini memang memukau. Dan saya setuju bahwa ini adalah salah satu bagian penting dari kredo sembilan paragraf itu.

Mari kita tilik tanggal-tanggal itu. 30 Maret 1973. Dan tahun 1966-1973. Artinya dia merumuskan kredonya setelah ia menuliskan sajak-sajaknya. Saya rasanya pernah mendengar ia berkata suatu kali bahwa kredo itu harus ia buat untuk membantu orang lain masuk ke alam sajak-sajaknya, menikmati sajak-sajaknya, memahami sajak-sajaknya. Risiko seorang pendobrak adalah disalahpahami. Itu pula yang terjadi pada si mata kanan Chairil. Pada masa hidupnya, ia dan sajak-sajaknya juga pernah disalahpahami. Itu pula yang terjadi pada Shakespeare.

Kenapa Sutardji menulis ”Kredo”? Dalam buku ”Hijau Kelon dan Puisi 2002″ ada satu tulisannya berjudul “Ihwal Personal”. Di situ ia jelaskan karena ia yakin dan sadar tidak ada kritikus yang berwibawa sekalipun pada waktu itu, mampu berapresiasi dan memahami kumpulan sajak ”O” pada pertama kali terbit, maka ia menuliskan kredo itu. “Penyair tidak perlu mematikan diri jika karyanya selesai ditulis atau diterbitkan, ia harus hidup dengan komentar, visi tentang karyanya untuk menolong para kritikus agar tidak mati atau pingsan dengan kemunculan karyanya,” katanya.

Saya kira ”Kredo Puisi” sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Membaca sajak-sajak Sutardji dalam ”O” (28 sajak) dan kemudian ”Amuk” (sajak-sajak tahun 1973-1976, 15 sajak) dengan bekal pemahaman yang cukup atas kredo itu sungguh mengundang kenikmatan. Sutardji dalam sajak-sajak itu – seperti ia rumuskan dalam kredo itu – memang telah berhasil membiarkan kata-kata bebas. Dan dengan penuh gairah karena menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tidak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas.

Tapi, jangan terpesona pada kredo yang gagah itu saja. Sutardji sendiri suatu ketika saya dengar berkata bahwa bukan kredo yang menentukan nasib penyair, tapi penyairlah yang menentukan kredo puisi-puisinya. Kredo boleh ditinggalkan kapan saja. Dan itulah yang dilakukan oleh Sutardji. Bahkan untuk kumpulan sajak ”Kapak” (sajak-sajak tahun 1976-1979), Sutardji memberi pengantar lain ”Pengantar Kapak” (ditulis pada 17 Mei 1979).

Apa katanya dalam pengantar itu? Saya suka pada bagian ini: “Menyair adalah suatu pekerjaan yang serius. Namun penyair tidak harus menyair sampai mati. Dia boleh meninggalkan kepenyairannya kapan saja. Tapi bila kau sedang menulis sajak, kau harus melakukan secara sungguh-sungguh. Seintens mungkin, semaksimal mungkin.”

Jadi menurut saya, orang – apalagi pendatang baru di negeri puisi Indonesia – yang masih mempertanyakan kelayakan Sutardji mendiami “rumah mewah” di puncak yang telah ia daki sendiri adalah orang yang tak paham bahwa dia telah salah paham membaca Sutardji. Sekali lagi Sutardji adalah naskah penting yang telah membuat negeri puisi Indonesia menjadi sangat bergairah. Puisi-puisinya menggalakkan debat dan mengundang tafsir yang meriah. Resital atas sajak-sajaknya oleh dia sendiri selalu seperti hendak meledakkan panggung. Saya sedikitnya empat kali melihat dia tampil di panggung dan selalu dengan aksi panggung yang berbeda.

Menurut saya, nasihat penting yang perlu dipatuhi dari ”Kredo Puisi” Sutardji adalah ini: “Bila kata telah dibebaskan, kreativitas pun dimungkinkan.” Tertantangkah kita membebaskan kata untuk puisi kita? Membebaskan dengan cara kita sendiri tentu saja, bukan dengan cara Sutardji. Baiklah, kalau pun ada sebagian dari kita yang menganggap kata itu tidak pernah sepenuhnya bebas, dan dengan demikian setiap upaya untuk membebaskannya adalah sia-sia, maka temukanlah cara, tentukanlah sikap dan rumuskanlah kredo sendiri untuk satu hal yang amat penting yang kita kutip dari kredo itu yaitu “memungkinkan kreativitas”. Menimbulkan hal-hal yang tak terduga sebelumnya, yang kreatif.

Ada tantangan abadi dari Sutardji kepada para penyair. Ia sampaikan itu pada ”Pengantar Kapak”. Katanya, “Kau harus melakukan pencarian-pencarian, kau harus mencari dan menemukan bahasa. Yang tak menemukan bahasa tak kan pernah disebut penyair. Saya menyair dan karena itu saya menemukan bahasa saya”.

Kita tidak akan bisa menemukan apa-apa bila tidak kreatif. Jadi menurut saya, mumpung masih di hulu, mumpung masih jauh dari muara maka kata kunci yang harus segera disebut-sebut berulang-ulang adalah “bagaimana kita membuat kreativitas kita menyajak membuka sebanyak-banyaknya kemungkinan-kemungkinan yang kreatif”.***

OLEH: HASAN ASPAHANI
Juru Baca di haripuisi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here