Benahi Batuampar, Pelabuhan Pelni Dipindah ke Sekupang

0
169
Pelabuhan bongkar muat Batuampar. f-istimewa

BATAM – Badan Pengusahaan (BP) Batam, melakukan pembenahan pelabuhan Batuampar. Crane alat bongkar muat diganti dengan crane permanen. Sehingga waktu bongkar menit, tidak lebih empat menit per kontainer. Pembenahan juga dilakukan di pelabuhan Pelni di Sekupang, sehingga sebelum arus mudik Natal dan Tahun Baru, pelabuhan Pelni sudah pindah dari Batuampar ke Sekupang.

Wali Kota Batam, ex officio Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, HM Rudi, Kamis (10/10) di Batam, mengungkapkan langkah itu. Diakui, pembenahan Batuampar sudah dilakukan saat dirinya belum menjabat kepala BP Batam.

”Alat pembongkaran pelabuhan disempurnakan. Ini yang akan diselesaikan dalam waktu dekat ini. Ini sudah lama, perintah Wapres. Sudah sebelum saya,” beber Rudi.

Dengan crane yang didatangkan ke Pelabuhan Bauampar itu, maka kontainer akan dengan mudah dan cepat dipindahkan. ”Ini crane permanen. Butuh 3-4 menit saja. Kalau crane truk, bisa butuh sampai 1 jam. Jadi selisih puluhan kali,” ujar Rudi.

Direktur Promosi dan Humas Badan Pengusahaan (BP) Batam, Dendi Gustinandar mengatakan, jelang Natal atau Tahun Baru nanti, pelabuhan itu sudah dipindah kembali ke Sekupang. Sehingga, pengangkutan penumpang jelang Natal atau Tahun Baru sudah bisa dioperasionalkan di sana.

”Operasional pelabuhan sedang mempersiapkan beberapa hal yang dibutuhkan untuk pemindahan tersebut. BP Batam juga telah berkomunikasi dengan Pelni, terkait pemindahan ini,” imbuhnya.

Saat ini sudah ada dua HMC (Harbour Mobile Crane) yang sudah ada di sana dan ada 2 RTG (Rubber Tyred Gentry Crane) yang sudah beroperasi hasil dari kerjasama operasi (KSO) alat dengan Pelindo I. Alat itu didatangkan dari Pelabuhan Surabaya.

Hingga Juni 2019 total Teus di Pelabuhan Batu Ampar hampir mencapai 439.000 Teus, dengan rincian 309.000 Teus ada di Batu Ampar sedangkan sisanya berasal dari Pelabuhan Kabil dan tempat lainnya.

Sebelumnya, Direktur Badan Pengelola Pelabuhan (BPP) Batam, Nasrul Amri Latif, menyatakan bahwa kendala tingginya biaya logistik di Batam tak terlepas dari beberapa hal di antaranya biaya freight yang tinggi, fasilitas bongkar muat pelabuhan yang kurang dari standar kepelabuhanan, kesempatan pengembangan direct call, serta transhipment yang belum tergarap, hingga tata kelola logistik di pelabuhan yang masih dilakukan perusahaan logistik asal Singapura secara door-to-door.

”Ada beberapa solusi jangka pendek yang saat ini diupayakan Badan Pengelola Pelabuhan Batam, seperti rencana menurunkan biaya freight dari semula USD 400 menjadi USD 250-280 Batam-Singapura, serta meningkatkan fasilitas efisiensi kegiatan bongkar muat dengan menyediakan HMC (Harbour Mobile Crane), RTG (Rubber Tyred Gantry) dan HT (Head Truck),” kata Nasrul.

BP Batam juga berencana memperluas area container yard (CY) yang semula 2 hektar menjadi 10 hektar dan rencana direct call ke China dan Afrika. Kami juga mendapat informasi dari Port of Singapore Authority (PSA) bahwa barge (tongkang) boleh sandar di Port of Singapore (PSA) yang akan kami jajaki untuk menekan biaya logistic. (mbb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here