Beralih ke Transportasi Laut

0
351
WAKIL Ketua I DPRD Kota Tanjungpinang, Ade Angga saat meninjau kondisi pelabuhan kapal laut di Pelabuhan Sribayintan, Bintan, belum lama ini. f-martunas/tanjungpinang pos

Akibat Harga Tiket-Bagasi Pesawat Mahal

Akibat harga bagasi dan ongkos pesawat yang selangit, penumpang akan beralih ke transportasi laut. Perbedaan pengeluaran yang terlalu jomplang, menjadikan transportasi laut jadi alternatif untuk masyarakat.

BATAM – ANGGOTA Komisi III DPRD Kepri, Asep Nurdin mengatakan, saat ini Kepri kembali ke zaman dulu. Ketika pesawat mulai melayani dengan harga yang mahal, penumpang menjadikan transportasi laut pilihan utama untuk bepergian.

Namun, ketika harga ongkos penumpang pesawat masih murah dan bagasi murah, transportasi laut mulai ditinggal. ”Sekarang kembali lagi ke zaman dulu. Harga tiket pesawat mahal, ongkos naik kapal masih murah. Orang akan banyak naik kapal,” ujarnya kepada Tanjungpinang Pos, Kamis (24/1).

Untuk itu, PT Pelni pengelola kapal lintas provinsi, termasuk operator feri lintas provinsi agar melakukan antisipasi seandainya penumpang laut membeludak akibat dampak harga tiket dan bagasi pesawat yang mahal.

Asep mengatakan, dirinya belum dapat informasi apakah penumpang KM Kelud yang dikelola PT Pelni meningkat atau tidak sejak kenaikan tarif bagasi dan ongkos pesawat.

Namun ia yakin, masyarakat terutama kalangan menengah ke bawah akan lebih memilih naik transportasi laut. Memang, untuk tiba di tujuan beda beberapa jam, namun bisa hemat beberapa juta rupiah.

Politis Hanura Kepri ini meminta operator kapal-kapal perintis, feri lintas provinsi di Kepri untuk bersiap-siap melakukan pembenahan kapal dan perbaikan pelayanan di kapal.

KM Kelud misalnya, pihak operator harus menjaga kebersihan kapal, perbaiki toilet yang rusak, lantai kapal jangan bocor, tempat tidur harus bersih, sehingga penumpang nyaman.

Ia juga akan diskusi dengan ketua dan anggota Komisi III DPRD Kepri serta Dinas Perhubungan dan pihak Pelni untuk duduk bersama membahas hal ini. Bila penting, mereka akan turun mengecek kondisi kapal.

Anggota DPRD Batam, Udin P Sihaloho juga meminta agar kapal-kapal di Batam diminta dibenahi pengelolanya. Termasuk KM Kelud yang melayani penumpang di berbagai provinsi.

Pembenahan dimaksud mulai pelabuhan sampai pelayanan di armada. Pembenahan itu diharapkan dapat memberikan kepuasan kepada masyarakat yang diperkirakan akan meningkat, pascakenaikan harga tiket pesawat. Terutama dampak dari bagasi berbayar yang diterapkan mulai dari Lion Air.

Udin P Sihaloho mengatakan, kondisi harga tiket dan bagasi berbayar menjadikan angkutan laut alternatif utama di Batam. ”Masyarakat kemungkinan akan beralih ke angkutan laut. Kecuali ada mau dikejar cepat, barulah naik pesawat,” kata Udin, Kamis (24/1).

Dengan demikian, diminta agar Badan Pengusahaan (BP) dan Pemko Batam, bersama-sama membenahi pelabuhan Pelni. Pelabuhan diminta agar lebih nyaman bagi calon penumpang. ”Kita berharap, ada perbaikan dari Pemko dan BP Batam, di pelabuhan Pelni,” imbaunya.

Demikian dengan kapal Pelni. Makanan dan kamar mandi perlu dibenahi. Makanan disediakan yang lebih baik. Kamar mandi lebih bersih, karena di Kelud keluhan penumpang, masih sering ketemu kecoak.

”Jadi, bagaimana meningkatkan pelayanan dan selama di kapal, penumpang nyaman. Bagaimana pengguna dimanusiakan, karena penumpang menginap di kapal,” imbuh dia.

Terkait dengan bagasi berbayar yang diberlakukan di Lion Air, Udin tidak banyak berkomentar. Alasannya, kebijakan itu diambil perusahaan penerbangan, seperti halnya yang sudah berlaku di berbagai negara di dunia.

”Tapi kondisi diberlakukan bagasi berbayar, maka penumpang dengan pesawat akan turun drastis,” jelas dia.

Penggunaan bagasi berbayar sendiri, diakui Udin sudah dialaminya. Dimana, tarif diberlakukan sesuai dengan jarak penerbangan dan semua bagasi, berbayar. Sementara untuk keluarga, minimal setiap perjalanan, minimal 7-10 Kg.

”Baju dan perlengkapan. Saya sendiri kemarin bawa 9 Kg. Itu berbayar. Belum harga tiket yang tinggi,” imbuh Udin.

Rido, salah satu warga menceritakan pengalamannya saat naik kapal Pelni dari Batam ke Belawan, Sumut. Ongkos mereka lima orang bersama istri dan tiga orang anaknya hanya Rp1,05 juta naik kelas ekonomi.

Meski harganya murah, namun mereka tetap diberi makan tiga kali, dan masing-masing dapat tempat tidur. Kemudian, bebas mengambil air panas.

Adapun koper yang mereka bawa dua, termasuk tas besar satu dan tas kecil dua. Ia memperkirakan, berat barang mereka hampir 120 Kg. Jika naik pesawat ke Medan dengan harga bagasi Rp30 ribu/Kg, maka untuk barang-barangnya saja harus dikeluarkan uang Rp3,6 juta.

Belum ongkos lima orang sekitar Rp6 juta (perkiraan Rp1,2 juta per orang). Maka sekali jalan, mereka harus mengeluarkan sekitar Rp10 juta sudah termasuk ongkos taksi ke bandara.

Malah, kata dia, keluarganya lebih senang naik kapal lantaran santai, bisa tidur-tiduran dan berkenalan dengan penumpang lainnya. Tidak terasa, 24 jam dari Batam sudah sampai di Belawan, Sumut.(MARTUA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here