Berasa Panas Tak Dapat Tidur

0
218
PERADA

KEARIFAN Melayu mengajarkan nilai ini: dalam kehidupan di alam yang fana manusia tak boleh hanya mementingkan diri sendiri. Sikap dan perilaku yang hanya berorientasi kepada diri tergolong aib dan tak bermartabat. Berhubung dengan itu, manusia dianjurkan dan diajarkan agar mampu mengembangkan sekaligus menerapkan nilai senasib sepenanggungan. Kejayaan kehidupan diyakini akan diperoleh jika manusia mampu hidup bersama secara harmonis dalam suka dan duka. Tugas setiap manusia adalah menghadirkan sebanyak-banyaknya suka (bahagia) bagi sesama, bahkan bagi kehidupan amnya, yang bersamaan dengan itu dia mampu melenyapkan atau sekurang-kurangnya mengurangi duka (nestapa) manusia. Itulah di antara tanda bahwa kehadirannya di dunia memang berguna.

Apa tanda sifat junjungan
Senasib sepenanggungan berhandai taulan
Seaib semalu jadi pegangan
Setikar sebantal bukan pantangan
Sepiring sepinggan tiada alangan
Seadat sepusaka menjadi pedoman

Ungkapan di atas memberikan petunjuk bahwa penerapan nilai senasib sepenanggungan atau seaib semalu sangat penting di dalam kehidupan di dunia. Dengan nilai tersebut dimaksudkan setiap manusia seyogianya mengutamakan kebersamaan di dalam hidup ini sehingga pahit-maung, suka-duka, dan atau susah-senang kehidupan dapat dirasakan dan diatasi bersama-sama. Tak ada beban yang tak dapat dipikul, tak ada kesulitan yang tak dapat diatasi, dan tak ada masalah yang tak dapat dipecahkan. Asal, kesemuanya itu dirasakan sebagai tanggung jawab bersama dan diatasi bersama-sama pula.

Sejalan dengan kenyataan itu, Raja Ali Haji rahimahullah, melalui karya-karya beliau, banyak mengedepankan keutamaan sifat dan perilaku senasib sepenanggungan yang mesti dipahami, dihayati, dan diamalkan untuk mencapai kebahagiaan sejati. Dengan demikian, dalam perhubungan di antara sesama manusia, apatah lagi sebangsa, nilai senasib sepenanggungan dan seaib semalu harus dijadikan perekat utama keutuhan dan persebatian bangsa.

Praktik yang harus diterapkan adalah tatkala senang, samalah senang; ketika susah, sama pula susah. Itulah inti nilai senasib sepenanggungan yang dianjurkan tersebut. Syair Abdul Muluk, antara lain, menyiarkan nilai senasib sepenanggungan yang diidealkan itu.

Kepada isterinya sultan berkata
Seperti ‘kan titik airnya mata
Tinggallah tuan emas juwita
Adinda jangan bergundah cita

Siti Rahmah mendengar pesan
Ia menangis seperti ‘kan pingsan
Suaranya manis dengan perlahan
Sujud menyembah di kaki sultan

Akan hal Puteri Rafiah
Tiga bulan hamillah sudah
Demi mendengar sultan bertitah
Hilanglah lenyap rasanya arwah

Petikan bait-bait syair si atas berkisah tentang peristiwa Sultan Abdul Muluk menyampaikan berita kepada istrinya bahwa dia akan pergi berperang. Suasana menjadi sangat haru karena suami dan istrinya itu larut dalam duka-nestapa. Istri Abdul Muluk sangat khawatir suaminya akan tewas di medan perang, sedangkan sang suami berasa belas dan kasihan untuk meninggalkan istrinya dalam keadaan yang gundah-gulana. Walaupun begitu, demi mempertahankan marwah negeri dan martabat bangsa, dengan gagahnya Sultan Abdul Muluk tetap pergi memimpin peperangan. Tidakkah dengan kobaran semangat ini para sultan atau raja dan para pemimpin zaman dahulu rela syahid di medan juang demi mempertahankan marwah bangsa dan negara? Zaman sekarang bagaimanakah kisahnya?

Cinta dan pengabdian kepada negara dan bangsa jauh lebih tinggi nilainya daripada cinta kepada keluarga. Akan tetapi, tatkala kesemua cinta itu berbancuh menyatu dalam pengabdian manusia yang berorientasi mutu (cinta kepada negara, bangsa, dan keluarga berdasarkan cinta kepada Allah), makna dan nilainya jauh lebih tinggi lagi yang boleh membuat semangat seorang wira menjadi membara untuk melenyapkan semua angkara murka yang datang menerpa. Sultan Abdul Muluk mendapatkan semangat juang itu karena istrinya, keluarganya, bahkan seisi negeri, ikut merasakan penanggungannya. Kala itulah dia benar-benar merasakan adanya sifat susah dan senang sama dirasa atau senasib sepenanggungan di kalangan keluarga serta rakyat serata negeri sekaliannya.

Dari kisah yang dirajut melalui tokoh-tokoh itu, yang hendak ditegaskan adalah dalam hidup berkeluarga, berbangsa, dan bernegara; nilai senasib sepenanggungan atau seaib semalu sangat mustahak lagi mutlak keberadaannya supaya semangat juang terus bergelora. Jika kualitas itu ada dalam diri setiap manusia, tiada suatu rintangan pun yang mampu menghambat matlamat perjuangan di dalam hidup di dunia ini. Kebahagiaan berkeluarga, berbangsa, dan atau bernegara harus diraih, asal syarat utamanya dipenuhi.

Satu di antara syaratnya adalah warga bangsa, warga negara, dan atau anggota keluarga mampu memahami, menghayati, mengarifi, dan lebih-lebih mengamalkan sifat, sikap, dan perilaku senang sama senang, susah sama susah atau susah senang sama dirasa atau senasib sepenanggungan. Itulah bagian dari kehalusan budi yang seyogianya dipelihara, dibina, dilaksanakan, dan senantiasa dimekarkan dalam diri setiap manusia. Nilai itu sangat penting artinya dalam pembinaan kehidupan berkeluarga, berbangsa, dan bernegara.

Alangkah malangnya keluarga, begitu berdukanya bangsa, dan betapa ruginya negara jika nilai agung itu dimanipulasi sedemikian rupa untuk kepentingan kelompok atau dan golongan tertentu, yang sudah pasti pula mengorbankan kepentingan orang banyak atau banyak orang. Semoga bangsa kita dijauhkan oleh Allah dari praktik-praktik jahat yang menghalalkan segala cara untuk kepentingan kelompok dan golongan tertentu, dengan mengorbankan bangsa, sama ada secara terang-terangan ataupun terselubung dalam apa pun bidang kehidupan. Bahkan, untuk menghadapi praktik-praktik keji seperti itulah, kita sebagai bangsa yang juga keluarga besar harus memanfaatkan kesaktian nilai senasib sepenanggungan yang luhur dan terala supaya kita dapat mewaspadai, mengantisipasi, dan pada gilirannya melawan segala tindakan dan perbuatan keji untuk menghancurkan bangsa ini.

Kitab Tuhfat al-Nafis ada juga mengungkapkan perkara yang berhubung dengan sifat, sikap, dan perilaku senasib sepenanggungan. Ada baiknya kita perhatikan petikannya.

“Syahadan tiada berapa lamanya maka tibalah ke Riau. Maka naiklah orang memberi tahu kepada Yang Dipertuan dan lainnya. Maka gemparlah segala raja-raja itu mendengar khabar paduka adinda sakit sangat itu. Maka turunlah Yang Dipertuan Muda dan Raja Idris dan Syahbandar dan segala anak-anaknya. Maka apabila tiba ke keci maka berjumpalah dengan Raja Ahmad pada hal sangat demamnya serta kurusnya, maka saudara-saudaranya pun menangis-nangislah …,” (Matheson (Ed.), 1982:291).

Petikan teks di atas berkisah tentang Raja Ahmad ibni Raja Haji Fisabillah jatuh sakit dalam perjalanan dari Betawi sehingga dibawa pulang ke Riau (Tanjungpinang sekarang). Begitu mendengar beliau sakit, semua saudaranya berasa sedih dan mengambil berat atau menaruh perhatian akan penyakit beliau itu, termasuk Baginda Yang Dipertuan Muda dan orang besar-besar kerajaan.

Dari nukilan kisah itu, dapat ditemukan amanatnya bahwa dalam hidup berkeluarga dan berbangsa kita tak boleh hanya mau menerima kesenangan, tetapi juga seyogianya sanggup merasakan kesusahan atau penderitaan. Itulah arti hidup berkeluarga dan berbangsa yang sebenarnya. Anggota keluarga dan warga bangsa yang memiliki kualitas baik itu bermakna juga memiliki kehalusan budi, yang memang sangat dianjurkan dalam tamadun Melayu-Islam.

Perkara pentingnya nilai senasib sepenanggungan dalam kehidupan berkeluarga dan berbangsa secara tersirat memang dianjurkan oleh Allah. Inilah di antara pedoman tentang perkara itu.

“Dan, tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan, barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata,” (Q.S. Al-Ahzaab:36).

Di dalam firman-Nya yang dipetik di atas, Allah menegaskan bahwa Dia-lah yang menetapkan sesuatu ketetapan kepada manusia. Hal itu bermakna susah dan senang, suka dan duka, atau buruk dan baik yang dialami oleh manusia juga memang ketetapan dari-Nya. Oleh sebab itu, dalam perhubungan hidup berkeluarga, berbangsa, dan bernegara; tak ada alasan bagi manusia untuk enggan berasa susah atau senang dan duka atau suka yang dialami keluarga atau bangsa. Oleh sebab itu, meraka yang sanggup merasakan kesemuanya itulah yang tergolong orang-orang beriman. Dengan demikian, tentulah mereka yang gagal menerapkan nilai kehalusan budi senasib sepenanggungan boleh diragukan keimanannya kepada Allah.

Bahkan, Rasulullah SAW pun berwasiat melalui sabda Baginda berkenaan dengan rasa senasib sepenanggungan sehingga dapat kita dijadikan pedoman dalam melakoni kehidupan di dunia yang sesungguhnya fana ini.

Dari Nukman bin Basyir bahwa beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan kaum mukmin dalam cinta kasih dan belas kasih laksana tubuh, bila salah satu anggotanya sakit, maka seluruh tubuhnya akan berasa panas dan tak dapat tidur,” (H.R. Muttafaq ‘Alaih).

Wasiat Rasulullah SAW di atas sangat tegas memberi pedoman kepada umatnya. Dengan analogi yang digunakan oleh Baginda Rasul SAW itu, bermakna setiap manusia, khasnya orang-orang yang beriman, seyogianya sama-sama dapat merasakan susah dan senangnya hidup di dunia ini. Dengan perkataan lain, kita tak boleh hanya mau merasakan bahagianya kehidupan, tetapi tak sanggup merasakan deritanya. Orang-orang yang tak sanggup merasakan cobaan hidup bersama tentulah perlu dipertanyakan pula kualitas keimanannya.

Karya-karya Raja Ali Haji memang memberi pencerahan tentang mustahaknya sifat, sikap, dan perilaku senasib sepenanggungan dan seaib semalu. Ternyata, kualitas budi itu juga sejalan dengan ajaran agama Islam. Jelaslah bahwa sifat, sikap, dan perilaku itu tergolong mulia lagi terpuji. Itulah penanda manusia yang memiliki kehalusan budi.

Tak dapat tiada jadinya, pembentukan, pembinaan, dan pengembangan nilai senasib sepenanggungan atau seaib semalu di dalam kehidupan berkeluarga, berbangsa, dan bernegara memang tak dapat ditawar-tawar. Pilihannya pada kita adalah memperjuangkannya sekuat daya. Jika berjaya, kita akan menyaksikan dan merasakan betapa hari-hari akan dijalani dengan kebahagiaan yang tiada bertara. Namun, jika gagal, kita akan didera oleh suramnya kehidupan berkeluarga dan tragisnya kehidupan berbangsa yang dipermainkan oleh kekuatan global yang sejatinya tak mengenal nilai bertimbang rasa.

Sejarah perjalanan umat manusia mengajarkan bahwa nafsu manusia yang tak mampu memperhitungkan balasan Allah memang cenderung mati rasa. Oleh sebab itu, kita senantiasa harus waspada. Senasib sepenanggungan dalam kebaikan menjadi satu di antara sekian kekuatan nilai yang mampu melawan sebarang anasir yang berupaya merenggut kebahagiaan kita, baik sebagai keluarga maupun bangsa. Kita menghimpun diri sebagai suatu bangsa untuk memperoleh hak kebahagiaan kita bersama sebagai anak bangsa dan makhluk Allah Yang Mahakuasa. Jika cita-cita itu terjejas demi melayani birahi mabuk kuasa orang satu-dua, kesemuanya itu untuk apa?***

Kolom
Abdul Malik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here