Berbisnis Lewat BUMDes

0
668
Suhardi

Oleh: Suhardi
Jurnalis di Kepri

Sejujurnya pemikiran Presiden RI Jokowi Dodo (Jokowi) membangun dari pesisir bukan sekedar asal bunyi (Asbun). Jika peluang yang diberikan Presiden itu, lantas bisa di cerna dengan akal sehat bagi seorang pemimpin yang entreprenuer, ia mampu menjadi miliarder bahkan triliuner pertama di Indonesia.

Berpikir sederhana, sebenarnya lewat ide presidennya, Menteri Kabinet Kerja Eko Putro Sandjojo, telah mengembangkan program Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Nama BUMDes ini masih dikenal asing di telinga para pemimpin yang baru hanya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat. Lantas dia terpilih menjabat sebagai Kepala Desa.

Baru satu periode menjabat, sang Bupati menginginkan supaya dia mengembangkan usaha lokal lewat BUMDes. Lalu dia bingung, apa itu BUMDes? sejak dirinya masih menjabat sebagai masyarakat biasa, tidak ada wacana BUMDes itu? lalu kenapa sekarang di haruskan.

Program Presiden Jokowi, kadang aneh-aneh saja. Masak, si tukang sayur, mantan buruh nelayan yang baru saja dapat aji mumpung diangkat sebagai kepala desa, lalu di minta mengelola BUMDes. Kalau disuruh bangun dan membuat sampan mungkin sanggup. Tapi ini sejak menjadi pejabat, justru semakin ribet. Nah loh, kalau tidak mau ribet, mendingan tidak jadi pemimpin.

Bagi saya, Presiden Jokowi memang visioner dan genius. Dibalik kesederhanaannya itu, ia justru punya harapan besar yang mungkin, di dalam idenya itu, masyarakat di wilayah hinterland dan tertinggal saat ini ada sang Bill Gates yang baru, walau pun katrok namun setiap bulan bisa menghasilkan miliaran rupiah untuk daerah tempat tinggalnya.

Tidak hanya kaya, ia pun bisa menjadikan daerah tempat tinggalnya, sebagai satu daerah percontohan, paling berpengaruh serta memiliki konsep pemikiran yang sama dengan Presiden Jokowi. Tidak mau terlalu berlarut-larut mengawali kata pembuka ini. Belum lama ini, sempat berbincang santai dengan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kependudukan dan Catatan Sipil Pemprov Kepri Sardison.

Baca Juga :  Jadikan Pasar Lambung Pariwisata

Sardison menceritakan, tentang banyak keraguan dan impian yang besar untuk menumbuh kembangkan sebanyak 275 Desa se Provinsi Kepri. Namun dirinya tetap membangunan keyakinan yang besar, walaupun hanya sekitar 21 Desa yang sudah berhasil membangun program BUMDes cukup baik.

Ia sedikit memuji tentang program Menteri Kabinet Kerja Jokowi ini. Menurut dia, lewat Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, sejujurnya Desa-desa yang di pikirkan Presiden Jokowi saat ini, bisa bersaing setingkat internasional serta mampu mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang cukup spektakuler untuk mendorong provinsi ini menjadi, sebuah provinsi yang mandiri.

Program Presiden lewat, Menteri Eko Putro Sandjojo ini, seharusnya bisa di manfaatkan. Modal yang cukup besar, jangan jadi beban apalagi takut karena sampai masuk penjara. Justru jika si Bupati adalah seorang yang berjiwa entreprenuer, mampu mendorong si bawahanya kepala Desa untuk juga berjiwa pengusaha, dengan modal yang sedikit apalagi sampai miliaran yang diberikan pemerintah itu, mampu menjadikan tempat tinggalnya di kunjungi Bill Gates.

Kenapa demikian, karena ia juga berhasil mencetuskan ide baru, gagasan baru, misalnya desa yang sudah punya internet yang misalnya mau belanja ikan, tidak butuh ke warung tinggal pesan lewat ponsel. Ikan segar itu, lalu di antar dengan kendaraan, tanpa harus antrian. Ini kalau misalnya kepala desa yang walaupun hanya tukang buat sampan, namun punya ide seperti Bill Gates si penemu sofeware Microsoft. Alat ini biasa dipakai untuk seseorang membuat surat-menyurat lewat balik layar program CPU yang dihibungkan ke layar monitor.

Baca Juga :  Dampak Penyalahgunaan Narkotika pada Kesehatan Masyarakat

Nah balik lagi ke masalah BUMDes yang bingung gimana cara menggunakannya. Lalu untuk apa saja supaya tak terjerat hukum. Mungkin pemerintah tidak akan berani mencurigai anda, kalau misalnya dana BUMdes yang banyak itu, dimanfaatkan untuk berbisnis, membangun jejaring yang sehat, membangun kepercayaan, membangun cita-cita yang visioner. serta bercita-cita ingin orang besar setiap hari ke kampungnya. Walaupun misalnya daerah tempat tinggal itu, di di Lingga, Bintan, Natuna, Anambas bahkan Karimun.

Sikap yang entreprenuer inilah, yang di impikan Sardison. Walaupun sebenarnya, beliau hanya bisa bermimpi. Sardison menceritakan, dari 50 Desa yang terdeteksi oleh timnya di Kepri, hanya beberapa desa yang bisa menghasilkan misalnya satu satu Rp 20 juta. Penghasilan itu, kata dia lewat usaha menjahit, lewat usaha sol sepatu bahkan menjahit sendal.

“Saya sudah sangat bersyukur, itu artinya mereka sudah dapat mandiri,” ujar Sardison meyakinkan.

Namun alangkah bersyukur dan sujud syukurnya, kalau misalnya 50 Desa yang ia himpun, setiap bulan mampu mengahasilkan paling sedikit Rp 200 juta atau Rp 200 miliar pertahun, lewat program yang dana dan modalnya di bantu BUMDes ini.

Sardison menyampaikan, bahwa kekayaan Provinsi Kepri sangat majemuk. Ia menujukkan, bahwa di Anambas misalnya maju dengan sektor pariwisata. Di Bintan misalnya ada pariwisata dan perikanan. Di Natuna misalkan, ada Perikanan pariwisata, serta memiliki akses yang cukup baik dengan jajaran Kementerian Pemerintah Pusat.

Baca Juga :  Pentingnya HAM Ditegakkan

Karimun bahkan, unggul di bidang maritim, sektor perminyakan, bahkan hasil tambang yang masih berlimpah ruah. Bahkan Lingga maju dengan pariwisata, pertanian dan keramahan masyarakat yang memberikan daya tarik wisatawan lokal dan asing untuk tidak bosan datang ke daerah itu.

Beragam keunggulan daerah penerima bantuan modal BUMDes ini, lantas, kenapa masih tidak di manfaatkan dengan sebaik mungkin. Siapa yang salah? tanya Sardison menyayangkan. Kepri di tengah pertumbuhan ekonomi yang merosot tajam ke bawah, bisa terdorong berkat daya beli petani yang cukup tinggi akhir-akhir ini.

Itu artinya, bukan tidak mungkin lewat program si Jokowi ini, Provinsi Kepri yang unggul di bidang maritim ini, bisa menjadi sebuah provinsi yang sehat dalam mengelola dana BUMDes saat ini. Tentu semua kepala daerah baik setingkat Menteri sampai Bupati dan Kecamatan tidak mau kepala Desa tersandung hukum.

Sardison menyampaikan, masih banyak kesempatan yang mahal, lewat BUMDes ini untuk diraih. Jika dilakukan dengan Bismillah serta dilandasi dengan jiwa Tanggungjawab yang besar. Bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan komunikasi, bisa menjalin kerjasama dengan perbangkan, bahkan bisa juga menjalin kerjasama dengan perusahaan media. “Kesempatan menjadi triliuner itu ada, jika kita mampu menjadi wirausaha yang mampu membangun masyarakatnya seperti Bill Gates,” tutup Sardison. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here