Bergembira Dengan Bubur Asyura

0
177

MENJADI sebuah kegembiraan tersendiri tiap memasuki bulan Muharram. Setiap tanggal 10 pada bulan awal dalam tahun baru Hijriah ini ada sesuatu yang ditunggu warga Penyengat. Yakni, tradisi Bubur Asyura. Tradisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Sekaligus menjadi bukti asas gotong-royong masih ada di kampung kami.

Berkuali-kuali. Bubur Asyura memang dimasak dalam porsi besar. Ketika matang, setiap rumah mendapatkan jatah satu rantang. Biasanya akan menjadi kudapan utama ketika memasuki azan Magrib alias waktu berbuka puasa sunnah bagi mereka yang menjalankan. Kegembiraan memasak dan membagikan bubur ini tidak hanya milik orang dewasa, tapi juga kanak-kanak yang selalu tak ingin melewatkan melihat lebih dekat.

Setiap tahun, pengurus Masjid Sultan Riau memang mengalokasikan biaya belanja untuk bahan baku Bubur Asyura yang terdiri dari beras, ubi, kelapa, kentang, keledek, hingga keladi dan labu juga beragam sayuran lain. Kemudian, juru masak yang sudah ditunjuk pun menunaikannya dengan girang dalam menyambut kegembiraan di 10 Muharram.

“Kalau tak puasa, apa kami dapat juga?” tanya seorang wisatawan di Penyengat.
Iya. Siapa saja boleh bergabung dalam kegembiraan ini. Siapa saja.***

NURFATILLA AFIDAH
Warga Penyengat yang menyukai fotografi.
Sarjana Ekonomi yang hobi jalan-jalan.
Simak akun @ilooot di Instagram.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here