Berkah Bagi Ibu-ibu Pemecah Batu

0
623
PECAH BATU: Rohimah saat memecah batu di Desa Bayat, Anambas. f-indra gunawan/tanjungpinang pos

Saat Dana Desa Digunakan untuk Pembangunan

Desa Bayat Kecamatan Palmatak Anambas terpisah dari desa lain. Desa ini berada di pulau tersendiri. Untuk sampai ke desa ini harus naik speedboat atau pancung. Seperti apa aktivitas warga di sana?

ANAMBAS – TIDAK ada satu unit pun roda dua di sana. Jumlah kendaraan roda dua juga tidak banyak. Padahal, ratusan kepala keluarga (KK) menghuni desa itu. Jalan kampung sudah dicor beton sekitar dua meter lebarnya. Panjang jalan sekitar tiga kilometer. Bagi yang punya motor, bisa melaju dari ujung ke ujung.

Namun, banyak juga warga di sana jalan kaki lantaran tak punya motor. Tak banyak warga yang mampu membeli motor karena penghasilan mereka juga terbatas. Umumnya, warga yang tinggal di pulau ini adalah nelayan tradisional. Sehingga, tidak ada jaminan mereka dapat ikan setiap kali turun ke laut.

Meski ada tangkapan, namun hasilnya pas-pasan untuk membeli beras, cabai, sayur, bawang dan lainnya. Tidak banyak yang bisa menabung untuk membeli motor.

Wartawan koran ini pun mengunjungi desa tersebut, Senin (18/9) lalu. Tiga jam lamanya baru sampai ke desa ini. Namun, jika naik speedboat hanya 20 menit saja.

Rumah penduduk banyak berdiri di tepi laut. Banyak pelantar kayu yang menghubungkan satu rumah ke rumah lainnya. Namun, sudah ada juga pelantar dari beton.

Rumah penduduk pun masih kebanyakan dari kayu, belum banyak dari beton. Jika ada yang membangun rumah beton, maka ibu-ibu rumah tangga langsung ceria.

Di kampung ini, ibu-ibu rumah tangga punya pekerjaan sampingan memecah batu kerikil. Namun pekerjaan ini dadakan saja. Tidak selalu ada tiap hari.

Apalagi di desa ini ada pengelolanya. Sehingga penghasilannya pun bisa dikatakan merata. Jika ada pesanan betu kerikil, maka si pengelola yang mengatur diserahkan kepada kelompok mana.

Si pengelola berusaha membagi pesanan secara merata, sehingga tidak ada ibu-ibu yang mendapatkan banyak pesanan. Setiap kelompok terdiri dari dua orang.

Belakangan ini, pesanan batu kerikil lumayan banyak. Itu karena Dana Desa (DD) yang ada digunakan untuk pembangunan. Inilah yang jadi berkah buat ibu-ibu pemecah batu di sana.

Wartawan Tanjungpinang Pos sempat berbincang dengan Rohimah, salah satu kelompok ibu-ibu pemecah batu di sana. Rohimah bersama temannya duduk di atas batu kerikil yang sudah dipecah mereka. Nampak tangannya dengan lincah memukul batu pakai martil ukuran dua kilo.

Telapak tangan mereka nampak kasar. Sebab, mereka tidak mengenakan sarung tangan. Rohimah mengatakan, mereka lebih leluasa bekerja juga tak pakai sarung tangan. Jika tangan kena martil memang terasa sakit. Namun, itu jarang terjadi lantaran sudah terbiasa memecah batu.

Ia mengatakan, dengan adanya aktivitas pembangunan di desa, sejumlah ibu rumah tangga mendadak menjadi pemecah batu kerikil untuk menambah penghasilan.

Kegiatan memecah batu kerikil tersebut untuk mendukung kegiatan pembangunan dengan menjualnya kepada kontraktor pelaksana kegiatan di desa.

”Beruntung ada pembangunan di kampung kami dan kami ganti pekerjaan dari mengurus rumah tangga menjadi pekerja menitik batu. Batu tersebut dijual kepada para pelaksana pembangunan di desa,” ungkap Rohimah sambil memecah batunya.

Sehari, ia bersama ibu-ibu lainnya bisa memecah batu kerikil sebanyak setengah kubik. Sementara, harga dijual sebesar Rp 500 ribu per kubiknya. Artinya, selama dua hari mereka bisa mengumpulkan satu kubik dan hasilnya dibagi dua. Masing-masing dapat Rp 125 ribu sehari.

Ia juga sangat bersyukur atas adanya sejumlah pembangunan di desanya dan bisa membantu suaminya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi bagi keluarganya.

”Saya bersyukur bisa membantu suami untuk mencukupi ekonomi keluarga. Hasil satu kubik Rp 500 ribu kami bagi dua selama dua hari kerja. Itu pun kalau ada pembangunan,” ucap Rohimah.

Selain dari pembangunan yang dilakukan oleh pihak desa, ada juga pesanan dari beberapa warga yang hendak membangun rumah. Namun, jumlah batu yang dibutuhkan tidak banyak. Beberapa tahun ini, di desa tempat tinggalnya banyak kegiatan membangun. Diantaranya, pembangunan pelantar beton, jalan setiap gang rumah warga, bendung tempat sumber air dan sejumlah gedung milik desa dan sekolah.

”Semakin banyak pembangunan, tentunya semakin lama kami merasakan dampak positifnya. Mudah-mudahan hal itu terus berlanjut,” jelasnya.

Di desa ini, daya listrik dari mesin diesel yang disediakan pemerintah dan dikelola masyarakat. Lampu menyala mulai dari pukul 18.00 hingga pukul 23.00 WIB (lima jam) dan pembayarannya sesuai pemakaian karena setiap rumah sudah dipasangi meteran listrik. Penduduk Desa Bayat hampir 75 persen bekerja sebagai nelayan. Sisanya ada yang bekerja sebagai buruh, guru, pemerintah desa dan tukang kebun.

”Listrik hanya menyala 5 jam saja, sisanya padam. Pembayaran listrik sesuai dengan pemakaian. Kalau bisa listrik bisa menyala lebih lama. Ini harapan kami kepada pemerintah,” terangnya.(INDRA GUNAWAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here