Bertahan Hidup di Gubuk Reyot

0
157
KONDISI rumah Rohatin yang sangat memprihatinkan, hanya ada satu ruang untuk makan dan tidur. f-suhardi/tanjungpinang pos

Derita Warga Miskin di Ibu Kota

Keluarga Rohatin harus bertahan di rumah gubuk miliknya di Jalan Olahraga RT7/RW5 Kelurahan Air Raja, Tanjungpinang. Rumah ini tidak jauh dari Kantor Wali Kota Tanjungpinang, Senggarang dan kondisinya sangat tidak layak huni serta sudah reyot.

TANJUNGPINANG – RUMAH tersebut sangat tidak layak dihuni. Ukurannya sekitar 4×4 meter saja dan semuanya terbuat dari kayu. Rohatin tinggal bersama istri dan lima anaknya.

Tiga anaknya yang sudah usia sekolah, tak satu pun yang mengenyam pendidikan. Berbagai alasan terutama alasan ekonomi membuat anaknya tak sekolah.

Penghasilan Rohatin yang membuat keluarga ini tidak bisa menikmati tidur di kasur empuk. Rohatin kadang ikut kerja membantu tukang jika ada proyek.

Jika kerja ikut proyek, ia paling banyak menerima Rp2 juta sebulan. ”Kadang tak ada kerja, kami mulung sama anak-anak. Darimana bisa makan kalau tak kerja,” ujarnya sambil menunjuk ke botol bekas di depan gubuk derita tersebut. Dirinya bukan pendatang baru di Ibu Kota Provinsi Kepri ini. Namun ia sudah tinggal di kota ini sejak tahun 1990. Bahkan, ia juga sudah punya KTP Siak yang dikeluarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pemko Tanjungpinang.

Empat anaknya sudah masuk Kartu Keluarga (KK) kecuali istri dan anaknya yang paling kecil. Adapun lima anaknya yakni Januar, Ramadhani Zaskia Fitrah, Nurhayati, Indra Gunawan dan Fitria.

Kamis (11/10), kondisi rumah tersebut sempat beredar di medsos. Mendapat informasi ini dari masyarakat, Lurah Pinang Kencana Syamsul Tanjungpinang Timur langsung menuju ke lokasi.

Syamsul mengatakan, dirinya sudah menyampaikan kondisi keluarga tersebut kepada Lurah Air Raja. ”Tadi saya datang untuk memastikan apakah ini warga saya atau tidak. Karena saya belum tahu lokasinya. Ternyata ini wilayah Pak Lurah Air Raja. Sudah saya sampaikan ke pak lurahnya,” katanya saat meninjau rumah tersebut.

Di rumah itu, kondisinya sangat memprihatinkan. Tidak ada asbesnya dan atap rumahnya bocor. Kemarin malam, mereka tidak bisa tidur karena hujan deras malam itu.

Dinding rumah yang terbuat dari tikar dan spanduk bekas itu sudah bocor. Sehingga saat hujan turun, airnya merembes ke dalam rumah. Tidak ada tempat berteduh yang lain karena ukuran rumah itu pas-pasan untuk mereka bertujuh.

”Kami tak bisa tidur pak. Basah dari atas. Si kecil menangis kedinginan,” ujar Dewi sambil menggendong Fitria yang sejak lahir sudah tinggal di rumah kecil seperti itu.

Kemarin, Fitria yang terlihat lapar di rumah itu. Ia menggigit buah jambu yang matang dan keras. Ia tak bisa menggigitnya, namun tetap dipaksakan juga.

Terlihat di rumah itu dot untuk Fitria dengan isinya teh manis. Ketika ditanya apakah Fitria dikasih minum susu tambahan selain ASI, abangnya Indra mengatakan tidak pernah.

Disinggung tentang bagaimana cara mereka merayakan hari raya Idul Fitri, spontan Januar dan Dewi menyampaikan, mereka tidak pernah membeli baju baru apalagi liburan ke suatu tempat.

Kemarin, anggota dan pengurus Komunitas Motor Jantan (Mojan) Kepri turun ke lokasi rumah itu dan gotong-royong memasang dinding rumah tersebut dari triplek. Atapnya juga diganti dengan yang baru agar tidak bocor lagi.

Setidaknya mereka bisa tidur saat hujan turun. Namun mereka tetap tidur di lantai yang tidak rata karena dibuat dari potongan bekas triplek. Di sanalah tujuh orang itu tidur dengan angin menusuk badan di malam hari.(MARTUNAS-SUHARDI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here