BI Minta Perbanyak Stasiun SPBG

0
275
Petugas SPBG PGN Batamcenter saat mengisi bahan bakar gas untuk kendaraan. f-dokumen/tanjungpinang pos

BATAM –¬†Pertumbuhan ekonomi Kepri saat ini masih tergolong rendah atau diangka sekitar 2,5 sampai 2,9 persen selama triwulan I tahun 2018. Di sisi lain, inflasi ditargetkan 3,5 persen, karena peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) naik. Mecermati kondisi itu, Bank Indonesia (BI) Kepri, merekomendasikan pemanfaatan bahan bakar gas (BBG) sebagai bahan bakar kendaraan massal dan mobil dinas.

Kepala Bank Indonesia (BI) Kepri, Gusti Raisal Eka Putra, Senin (12/3) di Batam mengatakan, inflasi yang terjadi tahun 2018 ini, salah satunya dari harga bahan bakar minyak (BBM) naik. Sehingga direkomendasikan, agar pemerintahan di Provinsi Kepri, menggunakan BBG. Selisih antara BBM dan BBG disebut hampir setengah.

“Hitungan harganya beda, tapi kalau harga BBM dan BBG per satuan dikonversi, hampir setengah selisih harga. jadi, perlu mendorong kendaraan di Kepri gunakan BBG,” jelasnya.

Menurutnya, dengan menggunakan gas, biaya transportasi masyarakat akan turun. Demikian dengan pemerintahan, jika semua menggunakan BBG, maka biaya yang digunakan dari APBD, akan lebih efisien. “Menggunakan BBG, akan sangat baik dari segi inflasi. Dari BI sudah melihat, untuk BBM, ada kecenderungan tidak terkontrol,” sambung Gusti.

Diakui, pemanfaatan BBG untuk kendaraan di Batam, masih tergolong terbatas untuk taksi dan mobil dinas. Jumlah kendaraannya juga disebutkan masih terbatas. Namun untuk mendorong peningkatan penggunaan BBG, Gusti merekomendasikan agar jumlah SPBG ditambah. Sehingga masyarakat mudah mendapatkan BBG.

“Sekarang kan, masih dilayani satu stasiun pengisian bahan bakar gas tepatnya di Batam Centre. Kedepan, ?kalau mendorong kendaraan di Kepri menggunakan BBG, harus ditambah SPBG. PGN perlu lebih intens sosialisasi,” himbau Gusti.

Ditempat berbeda, Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad mengatakan, usulan itu sangat positif. Terlebih selain lebih hemat, penggunaan BBG juga dinilai lebih hemat. Sehingga, bagi pemerintah akan lebih efisien di penggunaan APBD. “Kita juga memiliki cadangan gas yang cukup di Batam,” jelas Amsakar.

Amsakar juga berharap agar PGN atau pemerintah pusat menambah bantuan alat konverter kit. Sehingga tidak memberatkan. Dimana, secara keseluruhan, alat konverter kit di Batam diakui baru 100 unit. Itu termaksud untuk taksi dan mobil dinas Pemko.

“Harga BBG lebih murah. Tapi minta tambahan beberapa SPBG. Kalau ditambah SPBG, saya akan ikut sosialisasikan agar pengendara pakai BBG. Setidaknya di Sekupang dibuat satu,” ujar mantan Kadis Perindag Batam ini.

Menanggapi hal itu, Area Head PT Gagas Energy Batam sebagai mitra PGN Batam, Angga Sumarno, mengatakan satu SPBG saat ini, masih cukup. “Sebenarnya, untuk saat ini SPBG kita masih bisa menampung sekitar kurang 1.000 kendaraan. Saat ini, kendaraaan di Batam yang menggunakan konverter kit untuk BBG, baru sekitar 310 unit,” bebernya.

Dengan demikian, kapasitas SPBG saat ini diakui masih mampu menampung. “Namun kalau jumlah kendaraan yang menggunakan BBG sudah lebih dari 1.000 unit, kita akan mempertimbangkan untuk membangun SPBG lagi atau MRU (Mobile Refueling Unit),” imbuh Angga mengakhiri. (MARTUA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here