BI Perkirakan Ekonomi Kepri Tumbuh 3,1 Persen

0
500
SEJUMLAH pekerja saat membangun kapal di Batam, belum lama ini. Diperkirakan, ekonomi Kepri akan meningkat sedikit tahun 2018 ini. f-abas/tanjungpinang pos

BATAM – Bank Indonesia (BI) Kepri memperkirakan ekonomi Kepri tumbuh di angka kisaran 2,7 sampai 3,1 persen tahun 2018 ini. Sementara ekonomi Kepri pada Triwulan IV tahun 2017, hanya tumbuh 2,57 persen.

Untuk Batam, jika ekonomi ingin tumbuh sampai 7 persen, didorong agar Badan Pengusahaan (BP) Batam bersama Pemko segera merealisasikan investasi yang sudah masuk, namun belum mulai kontruksi.

Saran itu disampaikan Kepala BI Kepri, Gusti Raisal Eka Putra, Rabu (28/2) di Batam. Menurutnya, pada triwulan I tahun 2018 ini, diperkirakan ekonomi menguat akan tumbuh. ”Tapi tidak banyak. Kisarannya, antara 2,5 sampai 2,9 persen (yoy). Pertumbuhan terutama ditopang sektor konstruksi dan perdagangan,” jelas Gusti.

Disebutkannya, perkiraan pertumbuhan ekonomi Kepri naik menjadi 2,7 sampai 3,1 persen tidak lepas dari tren pertumbuhan harga migas, diperkirakan masih akan berlanjut di 2018.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi dunia akan mendorong pertumbuhan eksternal terhadap produk industri kapal. ”Proyeksi pertumbuhan ekonomi Kepri pada 2018, secara keseluruhan hanya tembus 2,7-3,1 persen. Tapi prediksi yang kami buat ini, bisa kekecilan. Kami memprediksi dengan perkiraan positif dari indikator. Belum indikasi yang mengarah pertumbuhan 7 persen,” jelasnya.

Baca Juga :  Pintu Masuk Dijaga, Setiap Tamu Disapa 

Sementara untuk pariwisata diakui, pertumbuhan kunjungan wisman di Januari belum mendongkrak perekonomian. Alasannya, waktu kunjungan wisman Malaysia dan Singapura, tidak panjang. ”Ke depan dibutuhkan langkah mendorong wisman, long stay lebih lama,” jelasnya.

Selain itu, ke depan yang bisa mendongkrak ekonomi dibolehkan lagi ekspor barang mentah hasil tambang. Menurutnya, kebijakan pemerintah itu baik. Selain itu, banyak kegiatan yang dilakukan kementerian akan berdampak bagi Batam. ”Kita sangat mendukung kegiatan di Batam, sehingga membuat optimisme pengusaha juga,” imbuhnya.

Perekonomian Kepri juga diperkirakan tumbuh, jika realisasi investasi yang besar di Lagoi, Bintan dan proyek pembangunan hotel dan resor serta proyek pemerintah baik APBN dan APBD sudah jalan.

Baca Juga :  Kapal Penyeberangan Bocor dan Terombang Ambing di Laut Natuna

Sementara target inflasi 3,5±1 persen. Diperkirakan, inflasi ini disebabkan peningkatan tarif BBM karena tren kenaikan harga migas dunia. ”Peningkatan konsumsi RT menjelang bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri dapat memicu inflasi volatie,” bebernya.

Dijelaskannya, untuk tahun 2017, inflasi naik dibanding 2016. Hal itu dipengaruhi sektor investasi. Dimana, berdasarkan data BKPM, PMA terkontraksi 11,7 persen. Serapan terbesar investasi dari sektor industri pertambangan. Sementara PMDN tumbuh melemah 100,7 persen (yoy), terutama dari sektor industri perumahan dan kawasan.

”Data BKPM, investasi terbesar ditanamkan pada sektor pertambangan, hotel dan restoran serta industri logam. Secara tahunan, kinerja investasi mulai membaik, namun masih tumbuh terbatas. Terutama karena kontribusi investasi bangunan,” jelasnya.

Sementara net ekspor terkontraksi karena pelemahan ekspor antardaerah. Ekspor migas dan non migas masih tumbuh pada triwulan IV. Ekspor non migas terutama elektronik dan CPO.

”Data aktivitas pelabuhan ekspor antardaerah melalui Pelabuhan Batuampar dan curah Kabil, menunjukkan menurunnya ekspor domestik,” imbuh Gusti.

Baca Juga :  Kepri Bebas Penyakit Difteri!

Gusti juga menyorot investasi di Batam, baik yang mengurus perizinan dan yang penjajakan. BP Batam diminta untuk mendorong investor merealisasikan investasinya

”Yang kemarin beberapa perusahaan dari Cina akan masuk, belum memberikan dampak. Kalau sudah direalisasikan, akan memberikan dampak pada ekonomi kita,” jelas Gusti.

Disebutkannya, hasil survei dan diskusi dengan pelaku usaha, belum banyak yang direalisasikan BP dan Pemko. Sehingga dia mendorong agar Pemko dan BP meminta investor segera merealisasikan investasi. Sehingga dampak pada perekonomian terasa.

”Kalau investasi yang naik tinggi, 7 persen itu dampaknya akan besar. Kami belum berani sampai perkirakan 7 persen karena belum ada indikasi realisasi, baru rencana investasi. Dampak ekonominya ada, saat mulai konstruksi. (mbb)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here