Bias Gender Wanita Karir di Era Teknologi

0
52
Veby Irton

Oleh: Veby Irton
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, FISIP, UMRAH

Hak asasi perempuan adalah hak asasi manusia, Penegakan hak asasi perempuan merupakan bagian dari penegakkan hak asasi manusia. Sesuai dengan komitmen Internasional dalam Deklarasi PBB tahun 1993, maka perlindungan, pemenuhan dan penghormatan hak asasi perempuan adalah tanggung jawab semua pihak baik Lembaga-Lembaga Negara (eksekutif, legislative, yudikatif) maupun partai politik dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Bahkan warga negara secara perorangan punya tanggung jawab untuk melindungi dan memenuhi hak asasi perempuan.

Hak harus dilindungi, dihormati dan ditingkatkan demi peningkatan martabat kemanusiaan, kesejahteraan, kebahagiaan, kecerdasan, serta keadilan. Untuk itu Negara disebetut sebagai unsur utama pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia. Setiap orang dilahirkan dengan harkat dan martabat yang sama dan sederajat, sehingga berhak atas pengakuan, jaminan perlindungan atas hak-hak yang tidak dapat dikurangi dalam situasi apapun.

Perempuan pada zaman sekarang tidak hanya dituntut untuk memiliki kelebihan secara fisik tetapi juga secara intelektual maka dari itu tak heran kesadaran mengenyam pendidikan lebih tinggi juga semakin disadari bagi seorang perempuan stigma yang berkembang di masyarakat tentang perempuan yang harus cerdas memiliki beberapa alasan seperti pada cara seorang perempuan menyelesaikan masalah, kecerdasannya juga bisa dimanfaatkan guna membantu merampungkan masalah orang-orang disekitarnya dan secara psikologis kecerdasan seorang perempuan cenderung membuatnya lebih hati-hati saat membuat keputusan dalam lingkup pekerjaan, seorang perempuan cerdas akan lebih dihargai karna kemampuannya menciptakan ide-ide segar didalam lingkungan kerja.

Menjadi perempuan muda dewasa memiliki kebutuhan untuk bisa tampil total. Fokusnya lebih kepada bagai mana menjadi diri sendiri dengan mengenali diri wanita itu sendiri termasuk emosi dan bagaimana cara mengelolanya. Dan dalam berkarir wanita harus tahu caranya menjalin hubungan dengan orang lain dan wanita yang berkarir memiliki pemikiran untuk berinvestasi semakin cepat pemikiran tersebut maka akan semakin baik. Dengan hal itu diharapkan wanita mempunyai simpanan dimasa depan.

Pandangan tentang wanita karir memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang menjadi kelebihan adalah wanita karir khususnya di kota-kota besar memiliki waktu luang yang banyak serta wanita karir telah menjadikan jenjang pendidikan sebagi sumber daya pontensial yang diharapkan dapat berpartisipasi dan berperan aktif dalam pembangunan.

Tidak sedikit juga kekurangan terhadap wanita karir seperti pembagian waktu antara karir dan keluarga, kemungkinan negatif yang dikaitkan dengan kelalaian seorang wanita sekaligus sebagai istri dan juga meningkatnya jumlah wanita yang mementingkan karir serta meningkatkan jumlah pengangguran di kalangan pria.

Namun wanita juga sering mengalam bias gender dalam dunia kerja. Survei terhadap 22 ribu perusahaan dan profesional perempuan di Asia menunjukkan, 48% di antara mereka tidak mendapatkan gaji yang setara bahkan 38% karyawan wanita mengaku kurang mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan karir.

Banyak wanita yang berhenti berkarir, lalu kemudian hari ingin melanjutkan karirnya kembali namun pihak perusahaan sendiri mengaggap sudah tidak up to date dengan tren industri yang terjadi. Indonesia belum memiliki ekosistem yang berpihak pada perempuan khususnya wanita karir yang sempat bekeja. 48 persen manajer perekrutan tidak akan merekrut karyawan perempuan yang sempat berhenti bekerja dengan alasan keluarga ataupun melanjutkan kuliah.

Hal ini menjadi kesulitan bagi wanita dalam merintis kembali karir ditengah era teknologi dan industri yang berkembang serta persaingan terhadap tenaga kompeten muda.

Satu hal yang mungkin tidak menjadi perekrutan dalam bekerja yaitu wanita yang ingin kembali bekerja memiliki motivasi kerja yang tinggi saat memutuskan untuk kembali bekerja. Meskipun menejer tidak memprioritaskan dalam perekrutan wanita yang ingin kembali berkarir, namun kurangnya SDM memberikan kesempatan besar bagi kaum wanita untuk kembali bersaing dengan catatan memiliki kemampuan yang memadai dan up to date. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here