Biaya Pengelola Sampah Rp 300 Ribu per Ton

0
711

BATAM – Pengelolaan sampah dengan sistem insenerasi dinilai mudah. Semua sampah, jenis apapun bisa langsung dibakar dan dijadikan energi. Dengan menggunakan insenerasi, masa TPA Telaga Punggur, bisa berumur sampai 20 tahun lebih lama dari diperkirakan. Hanya saja, untuk menggunakan ini dinilai berat. Alasannya, investor yang tertarik dengan sistem itu, meminta biaya Rp300 ribu per ton.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam, Dendi Purnomo, Selasa (22/8) mengatakan, biaya itu tergolong besar. ”Pengelolaan insenerasi membutuhkan biaya yang tak sedikit. Mereka minta Rp 300 ribu per ton. Terlalu besar bagi kami. Kita maunya di bawah Rp 200 ribu. Kalau sekarang, Sanitary Landfill, kita hanya Rp 75 ribu,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kasus Kekerasan Anak di Kepri Masih Tinggi

Selain itu, tipping fee untuk pengelolaan ini juga lumayan besar, dan tentunya terlalu memberatkan. Seperti sebelumnya, beberapa perusahaan dari Jepang, Belanda dan China, mundur dari proyek ini, karena masalah tipping fee. ”Harus lelang untuk pengelolaan sampah. Kalau lelang, Rp300 ribu itu bisa jadi nilai maksimum. Tentu dengan teknologi yang sama. Di Jakarta, itu Rp 400 ribu. Kita lebih murah,” katanya.

Saat ini pihaknya masih menunggu Peraturan Daerah (Perda) Bea Gerbang. Sehingga bisa dilakukan lelang pengelolaan sampah. Rencananya, akan ada tiga pengelolaan sampah yang akan dipilih Pemko Batam. Masing-masing gasifikasi, insenerasi dan sanitary landfill.
Gasifikasi merupakan teknologinya tergolong tinggi. Namun pengelolaannya rumit, karena harus ada pemilahan sampah dengan nilai kalor tertentu, sebelum sampah dibakar dan dijadikan gas.  ”Dan dalam lelang, tentunya sudah harus ada payung hukumnya, yakni Perda Bea Gerbang yang mengatur tipping fee,” imbuhnya.

Baca Juga :  Pemko Ajak BUMD ke Jambi Realisasikan MoU

Sebelumnya, 18 calon investor pengelolaan sampah, gagal menanamkan investasinya di Batam. Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menjelaskan bahwa pertimbangan belum adanya regulasi yang mengatur soal penerapan teknologi dalam pengelolaan sampah di Batam, membuat mereka mundur. ”Untuk pengelolaan sampah itu perlu teknologi yang memadai,” pungkasnya.(Martua)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here