Bikin Hotel Sepi, Suvenir Tak Laku

0
67
TURIS Tiongkok saat tiba di Bandara RHF Tanjungpinang. f-raymon/tanjungpinang pos

Temuan Anggota DPRD Kepri Soal Monopoli Turis

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri Kepri merilis jumlah wisatawan mancanegara atau wisman yang berkunjung ke Provinsi Kepri pada Oktober 2018 mencapai 205.765 kunjungan.

TANJUNGPINANG – Jumlah ini mengalami penurunan 9,35 persen dibanding jumlah wisman bulan sebelumnya. Adapun jumlah wisman September 2018 sebanyak 226.980 kunjungan.

Kepala BPS Kepri, Zulkipli menuturkan, penurunan jumlah kunjungan wisman selama Oktober 2018 disebabkan oleh penurunan jumlah kunjungan wisman dari 4 pintu masuk yang ada di Provinsi Kepri terdiri dari, Kota Batam turun 8,22 persen, Kabupaten Bintan turun 10,28 persen, Kota Tanjungpinang turun 14,13 persen, dan Kabupaten Karimun turun 17,98 persen.

Jumlah kunjungan wisman secara kumulatif terbesar masih dominasi dari pintu masuk Kota Batam yaitu sebanyak 1.498.754 kunjungan (71,53 persen) diikuti dari pintu masuk Kabupaten Bintan sebanyak 414.015 kunjungan (19,76 persen), Kota Tanjungpinang sebanyak 113.503 kunjungan (5,42 persen), dan Kabupaten Karimun sebanyak 68.949 kunjungan (3,29 persen).

”Selama Januari-Oktober 2018, wisman berkebangsaan Singapura tercatat paling banyak, yakni 1.006.726 kunjungan. Jumlah kunjungan terbanyak kedua adalah wisman berkebangsaan Malaysia. Sedangkan wisman Tiongkok tidak memberikan dampak yang signifikan,” terangnya.

Capaian negatif bagi dunia pariwisata di Kepri ini langsung dikritik keras Ketua Komisi II DPRD Kepri Hotman Hutapea. Menurutnya, belum lama ini pihaknya sudah menceritakan kondisi kunjungan wisman di Kepri seperti apa. Salah satunya, persoalan praktik monopoli wisman.

Menurut politikus Partai Demokrat Kepri itu, banyak agent tour and travel yang mengembangkan usahanya di Kepri yang disinyalir melakukan praktik monopoli mulai dari hal terkecil penjualan suvenir hingga penjualan UMKM lainnya.

”Sehingga kalau demikian, pantas saja, wajar saja, bahwa tidak berdampak positif terhadap perkembangan pariwisata,” ujar Hotman.

Hotman menuturkan, praktik ini mudah saja ditemukan di wilayah Kota Batam, Bintan dan Tanjungpinang. ”Setelah datang ke Kepri, mereka bawa ke lokasi tempat usaha mereka, di sana mereka siapkan jamuan makan, suvenir hingga perjalanan wisata. Bahkan sampai, tempat penginapan pun mereka kuasai. Hal ini yang kami sampaikan ke Kemenpar belum lama ini. Pemerintah Bali pun mengadukan hal yang sama,” beber Hotman.

Terakhir Hotman menilai, wajar saja misalnya rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di Kepri selama bulan Oktober 2018 adalah 1,86 hari, lebih rendah 0,07 poin dibanding dengan rata-rata lama menginap tamu pada September 2018.

Pada bulan Oktober 2018, rata-rata lama menginap tamu Indonesia mencapai 1,69 hari, lebih rendah 0,34 poin dibanding dengan rata-rata lama menginap tamu asing yang mencapai 2,03 hari.

Selanjutnya selama Oktober 2018, jika dilihat menurut klasifikasi hotel, rata-rata lama menginap tamu asing dan tamu Indonesia tertinggi dicapai oleh hotel berbintang 5 dengan lama menginap selama 2,17 hari. Sedangkan rata-rata lama menginap terendah pada hotel berbintang 3, yaitu selama 1,67 hari.(SUHARDI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here