Bom Waktu Lahan Parkir Siswa Siswi

0
410
Faisal,S.Pd

Faisal,S.Pd
Guru SMKN 04 Tanjungpinang

Pendidikan zaman sekarang di Dunia Pendidikan ini diwarnai dengan pengaruh globalisasi, mungkin saja sekarang ini pendidikan kehilangan maknanya sebagai sarana pembelajaran.

Kompetensi yang harus juga dimiliki oleh peserta didik adalah penguasaan teknologi. Saat ini pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan seperti dalam kegiatan belajar mengajar sampai administrasi pendidikan, menjadi sebuah momok dalam dunia pendidikan di Indonesia

Dengan perkembangan zaman yang sangat pesat sdewasa ini, pertumbuhan tehnologi mengiring pasae bebas diseluruh negara, sampai ke asia tenggara khususnya negara inonesia tidak mau tampak ketinggalan dari negara-negara lainnya. Maka pasar bebas bembuat masyrakat dengan mudah mendapatkan transportasi sehingga memanjakan dengan berbekal uang 500 ribu saja masyarakat bisa memiliki kendaraan roda dua dengan mudah tanpa banyak syarat-syarat yang memberatkan mereka.

Dengan mudahnya mendapatkan media transportasi pribadi maka sudah barang tentu akan berdampak pada jumlah volume pengendara di jalan rayapun semakin meningkat.meningkatnya jumlah itu bukan hanya pada pengendara yang berhak mengendarai sepeda motor tetapi sudah bergeser pada aturan tertentu yaitu para siswa/i yang belum cukup umur sudah mengendarai sepeda motor dijalan raya tanpa mengantongi surat ini mengemudi (SIM ).

Tetapi ini yang lebih menarik lagi adalah siswa/i yang berstatus pelajar yang masih berlum cukup umur untuk mengantongi SIM dengan senang mengunakan kendaraannya itu untuk pergi kesekolah sebagai alat transportasi pribadinya kesekolah, memang ini sebagian kecil juga sangat membantu siswa untuk pergi kesekolah dikarenakan trasportasi umum mumgkin kurang bisa diandalakan karena macam-macam faktor misalkan saja karena jumlah angkot tidak sesuai dengan jumlah pelajar yang ada di daerah itu, atau transportasi umum tidak bisa melintasi rute sekolah yang jauh dari kota dan mungkin saja karena harus menunggu ramainya penumpang baru supir bisa mengjalankan angkotnya, banyak lagi untuk disebutkan.

Itu teropong dari kecilnya manfaat dari sisiwai diberikan izin mengendarai sepeda motor, ada masalah yang jelas didepan mata juga tetapi mungkin tidak dianggap masalah serius oleh kita dan pemerintah, dalam hal ini pemerintah harus dapat mencarikan pintu solusinya. Yaitu: lahan parkir untuk siswa yang menjadi bom waktu utuk dunia pendidikan khususnya sekolah.

Baik coba bersama-sama kita analisa sederhana saja.
Dalam UUD 1945 PASAL 31 AYAT 1-5:
1.Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
2.Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
3.Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.
4.Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan Pendidikan nasional.
5.Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Maka dengan aturan tersebut maka pemerintah berhutang apabila tidak melaksanakan butir-buitr tiap-tiap pasal tersebut diatas.maka pemerintah harus menyiapakan pendidikan utuk masyarakat indonesia dengan membangun sekolah sebagai wadah darI hak masyarakat indonesia.

Tetapi dizaman sekarang ini jumlah pertumbuhan msyarakat hari kehari semakin meningkat atau bertambah jumlahnya tiap tahunya. Dengan bertambahnya jumlah rakyat inonesia khususnya anak-anak Emas generasi bangsapun bertambah dan harus menerima pendidikan dari negara, perkembanga itu juga berdampak dengan bertambahnya jumlah sekolah baik tingakt SD, SMP dan SMA/sederajat sesuai jumlah usia pelajar yang ada diasetiap didaerah.

Dalam hal ini terkait persoalan parkir untuk siswa/i disekolah maka tiga komponen penting harus dapat berpikir dan berkasama. Yaitu : orangtua/guru dan pemerintah dalam hal ini pemenrintah daerah baik ditingkat II maupun ditingkat I.

Coba sama-sama kita membayangka secara sederhana saja, setiap sekolah harus menyiapakan lahan parkir untuk sisanya, misalkann saja sekolah itu jumlah siswanya hanya mencapai 300 siswa karena baru dibuka dan dioperasikan oleh pemerintah karena sebuah daerah yang sudah banyak penduduknya dan memenuhi untuk dibangun sekolah baik SD, SMP dan Sederajat layak kita berikan apresiasi dan jempol buat pemerintah daerah tersebut, namun bergesernya waktu maka jumlah siswa yang semula hanya 300 orang saja semakin tahun akan bertambah karena bertambahnya jumlah masyarakat disekitar sekolah, dan suatu waktu menajdi 1000 siswa/i disekolah tersebut.belum lagi ditambahnya kendaraan guru dan pegai TU.

Maka ini menjadi masalah besar yang dulunya dianggap enteng atau kecil, bagaimana tidak kita berucap itu, pertumbuhan jumlah ruang kelas siswa yang di sebut RKS, maka lahan sekolah yang semula hanya dibangun pemerintah daerah hanya 3 hektar maka dengan bertambahanya gedung RKS maupun Lab maka otomatis berkurang lahan sekolah tersebut, jadi bagamana untuk lahar parkir siswa/i..tidak bisa diterima akal kalau banugunan distop hanya untuk memikirkan lahan parkir siswa.dan tidak mungkin juga setiap pemerintah hendak membangun sebuah sekolah baru maka lahannya harus diberikan lebih lebar karena hanya utnuk parkir siswa sama saja mesia-siakan lahan itu artinya.

Sekarang ini saya menatap banyak sekolah yang usia sekolahnya belasan tahun pihak sekolah mulai berkerut keningnya mencari jalan keluar untuk parkir para guru dan tu apalagi untuk sisiwanya.

Saya menduga ini semua karena ada hubungannya dengan perkembangan pasar bebas bisnis dan perkembangan alat trasportasi pribadi yang mudah didapatkan sehingga siswa terkesan boleh mengendarai sepeda motor walau belum cukup syarat padahal alasan mereka bisa dibenarkan karena jarak tempuh sekolah yang jauh, alat transportasi umum tidak mendukung.

Nah pemerintah harusnya dapat menghidangkan solusi utuk para sekolah dan siswa dengan bisa saja mengandakan alat trasnportasi umum untuk pelajar seperti bus antar jemput dari pemerintah daerah baik tingkat I dan tingkat II. Dengan adanya bus antar jemput yang untuk siswa maka insyallah pelan-pelan masalah akan terselesaikan, pihak sekolah tidak lagi bingung menyiapkan lahan parkir, siswa tidak lagi mengendarai kendaraan tanpa sim, ugal-ugalan sisiwa dijalan berkurang, macet sudah pasti jauh dari kata itu.

Dengan menentukan titik terminal bus antar jemput siswa maka orangtua hanya cukup mengantar anaknya ke titik-titik yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, sudah tentu dengan waktu yang ditentukan dengan berkolaborasi dengan pihak sekolah dan orangtua siswa/i.

Mudahan saja mimpi ini terwujud dan pendidikan disetiap daerah tercipta denga indah dan tentram dan damai dalam urusan trasportasi.

“Maju di depan dan terus berinovasilah pendidikan di tanah airku’’

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here