Bonus Demografi, Siapkan Siswa

0
64
RATUSAN orangtua siswa yang menyekolahkan anaknya di sekolah As-Sakinah dan Ar-Refah mengikuti seminar parenting di Hotel Aston yang digelar YBIS Tanjungpinang, Minggu (9/9). F-martunas/tanjungpinang pos

400-an Orangtua Ikuti Seminar Parenting yang Digelar YBIS

Tahun 2030 nanti, Indonesia akan mengalami puncak bonus demografi. Karena itu, anak-anak harus dipersiapkan dari sekarang. Peran keluarga sangat diperlukan untuk menciptakan generasi muda mengisi bonus demografi nanti.

TANJUNGPINANG – BONUS demografi merupakan kondisi dimana populasi usia produktif lebih banyak dari usia nonproduktif. Indonesia sendiri diprediksi akan mengalami puncak bonus demografi 12 tahun lagi.

Membeludaknya tenaga kerja produktif adalah peluang emas bagi Indonesia untuk menggenjot roda ekonomi. Idealnya, pertumbuhan ekonomi terpacu, sektor riil terdongkrak, dan daya saing meningkat.

Secara normatif, bonus demografi seyogianya membawa sebuah negara menuju arah lebih baik, khususnya membawa kesejahteraan untuk segenap tumpah darahnya.

Masa fase bonus demografi Indonesia ini diperkirakan puluhan tahun. Sehingga, anak-anak yang sekolah saat ini menjadi bagian dari bonus demografi tersebut.

Untuk mengisinya, dibutuhkan anak-anak yang juga berakhlak mulia. Tidak hanya SDM terampil, namun memiliki akhlak yang baik.

Orangtua siswa yang menyekolahkan anaknya di PAUDIT As-Sakinah, TKIT As-Sakinah, SDIT As-Sakinah, SDIT Ar-Refah dan SMPIT As-Sakinah Tanjungpinang pun diberi bekal bagaimana mendidik anak dan membekali mereka dengan sikap atau perilaku yang berakhlak mulia.

Pihak Yayasan Bina Insan Sakinah (YBIS) Tanjungpinang yang membawahi sekolah-sekolah tersebut menyiapkan pembekalan itu melalui Seminar Parenting yang digelar di Hotel Aston Tanjungpinang, Minggu (9/9) kemarin.

Kegiatan ini dibuka Ketua YBIS Tanjungpinang, Ustaz Muqtafin M.PD, pengurus yayasan lainnya seperti Hj Ismiyati yang juga anggota DPRD Kota Tanjungpinang, para kepala sekolah dan guru-guru. Sekitar 400-an orangtua siswa hadir saat itu.

Mereka menghadirkan Gunawan dr sebagai pembicara. Gunawan merupakan psikolog yang sudah diundang kemana-mana untuk memberi bimbingan kepada orangtua bagaimana mempersiapkan anaknya di zaman milenial ini dan menyongsong fase bonus demografi.

Gunawan mengatakan, saat ini dunia sedang krisis pemimpin muda. Banyak negara di dunia ini yang pemimpinnya di atas 60 tahun.

Ia mencontohkan, saat dirinya diundang menjadi pembicara di Batam pekan ini oleh perusahaan Amerika Serikat, Gunawan sempat bertanya kepada pimpinan perusahaan itu yang sudah berusia 60 tahun, kenapa yang tua masih terus dipakai di perusahaan itu.

”Katanya, gap (jarak) keahlian yang muda dengan yang tua sangat jauh. Makanya, yang tua masih terus dipakai. Ke depan, bagaimana yang muda harus bisa menggantikan posisi mereka,” jelas Gunawan.

Bonus demografi, kata dia, juga tertulis di Alquran dan disebutkan di dalamnya, ada saatnya satu bangsa akan mengganti kekuasaan. Ganti kekuasaan bukan berarti menguasai dunia. Namun, bisa jadi ini kesempatan bagi kawula Indonesia untuk bekerja di berbagai belahan dunia dan menjadi pemimpin-pemimpin muda nantinya.

Namun, kata dia, meski kesempatan itu sudah di depan mata, jika anak tidak dipersiapkan, tidak ada guna.

Masyarakat Indonesia khususnya Tanjungpinang, kata dia, harus belajar dari Pulau Penyengat yang kecil itu. Dari sana lahir pahlawan nasional dan pakar sastra yang sangat terkenal. Orang-orang hebat seperti Raja Ali Haji harus muncul kembali dari tanah Melayu ini.

”Bahkan, ibunya Bahasa Indonesia berasal dari Penyengat. Makanya, ketika saya diundang ke Tanjungpinang, saya penasaran dengan Penyengat dan harus saya kunjungi,” katanya disambut tepuk tangan orangtua siswa.

Untuk menyiapkan masa depan anak-anak, maka yang sangat penting dilakukan orangtua adalah menyiapkan sikap, perilaku, moral, adab atau perilakunya. Perilaku adalah casing dari seseorang. Inilah yang terpenting dalam mendidik anak oleh orangtua.

Manusia itu terdiri dari tiga hal utama yakni, pikiran, perasaan dan perbuatan. Isinya manusia adalah pikiran dan perasaan. Pikiran dan perasaan manusia tidak bisa diselami. Namun, semua itu bisa dilihat dari perbuatannya. ”Kenapa casing paling penting, karena itulah perbuatan, perilaku, tindakan. Perilaku itulah yang harus kita siapkan agar bersikap baik, berakhlak mulia,” terangnya lagi.

Untuk menyiapkan perilaku anak menjadi baik, maka orangtua perlu memahami tiga periode perkembangan watak anak.

Periode pertama saat usia 0-7 tahun. Ini merupakan periode yang sangat krusial. Bila perlu, seorang ibu meninggalkan pekerjaannya hingga anaknya berusia tujuh tahun.

Memang, kata dia, hal ini tidak mudah karena menyangkut ekonomi. Namun sebaiknya dibahas suami istri bagaimana baiknya. Fase ini dibentuk lewat komunikasi. Apa yang dilihat dan didengar serta dirasa lewat dua cara. Yakni lewat pengulangan dan lewat kejadian besar yang melibatkan emosi secara besar. Tapi dampaknya ada dua yakni negatif dan positi. Negatif, bisa mengakibatkan trauma.

”Apa yang paling sering anak lihat, apa yang paling sering anak perhatikan, itu yang jadi sub kepribadiannya paling kuat nanti. Ini masa krusial anak. Karena itu, peran ibu-bapaknya sangat diperlukan,” jelasnya.

Saat usia seperti ini, orangtua harus sadar akan apa yang dilakukannya. Beri ketenangan pada si anak. Jika menangis, jangan bentak, jangan suruh diam. Tapi cari apa penyebabnya. Kemudian ada periode usia 8-14 tahun dan periode 14-21 tahun.

Pada periode kedua ini, apa yang paling anak sukai, maka itu yang jadi sub kepribadiannya. Misalnya anak suka nonton film atau nonton Youtube. Siapa tokoh yang disukai dalam film tersebut, itulah yang jadi sub kepribadian dia.

Karena itu, peran orangtua sangat penting melihat apa yang ditonton anaknya. Jangan sampai anaknya menyukai tokoh yang tak baik. Nanti semua itu akan terekam di otaknya.

Kemudian, anak juga akan suka dengan guru tertentu. Karena itu, guru-guru harus menunjukkan sikap yang baik dan berakhlak mulia. Sebab, sifat mereka akan direkam anak-anak dirinya. Ia mengatakan, sebaiknya ada guru yang bagus bercerita tentang sahabat nabi. Ceritakan perbuatan baik mereka untuk dicontoh. Itu lebih bagus agar menjadi tokoh yang mereka rekam.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here