BPNB Gelar Festival Makyong

0
212
Penampilan dari Sanggar Malaysia saat pembukaan Festival Kesenian Tradisional Makyong. f-istimewa

Hadirkan Sanggar dari Malaysia

TANJUNGPINANG – Kesenian Makyong dari Kijang Mantang, Bintan, Batam serta Malaysia dipertunjukkan melalui Festival Kesenian Tradisional yang dilaksanakan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kepri.

Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari di Hotel Sunrise, Tanjungpinang. Pembukaan dihadiri peneliti Makyong asal Amerika, Dr Patricia Hardwick, Senin (8/4) malam, lalu.

Hadir juga Prof Ghulam Sarwar Yousof asal Malaysia sebagai salah satu pembicara. Diketahui, ia ini sudah menerbitkan beberapa buku tentang Makyong. Selain itu, akan ada pembicara dari Jakarta.

Hadir juga empat sanggar seni Makyong serta Plt Kadispar Tanjungpinang, Safarudin serta beberapa tamu lainnya.

Kepala BPNB Kepri, Toto Sucipto menuturkan, melalui acara ini, beberapa kegiatan dilaksanakan. Bukan hanya menampilkan kesenian Makyong dari masing-masing sanggar, tetapi juga ada worshop yang menghadirkan beberapa narasumber termasuk dari Jakarta.

”Akan menambah pengetahuan masing-masing sanggar terkait kesenian Makyong,” ucapnya.

Ia menuturkan, selain itu akan ada bengkel Makyong yang juga membahas perbedaan dan persamaan Makyong dari masing-masing sanggar. Menurutnya, perbedaan tersebut bukan untuk diributkan melainkan memperkaya masing-masing sanggar terkait kesenian Makyong itu sendiri.

Toto menuturkan, kegiatan ini upaya menggeliatkan kembali kesenian tradisional serta menjalankan tugas pokok untuk pengembangan dan pelestarian selain melakukan kajian.

Ia menilai, kesenian Makyong menjadi salah satu kesenian tradisional Melayu. Hanya saja jarang ditampilkan meskipun kini beberapa sanggar masih eksis.

Menurutnya, untuk menghidupkan kembali kesenian Makyong perlu peran semua stakeholder.

Diantaranya para penggiat, pemerintah serta masyarakat secara umum.

Dituturkannya, kesenian Makyong sebagai salah satu cara menikmati hampir semua bentuk kebudayaan Melayu dalam satu panggung. Dinataranya, seni peran, sastra lisan, musik, dan tari.

Dr Patricia menuturkan, Makyong salah satu teater rakyat di tanah Melayu yang sudah hidup selama berabad-abad.

Menurut beberapa sumber yang ditemuinya, salah satunya Aswandy bahwa kesenian Makyong sudah ada di Pulau Penyengat sejak 1850-an.

Waktu itu, Engku Puteri Raja Hamidah menampilkan teater Mak Yong di istananya, sempena pesta pernikahan anak Kapitan Cina Tanjungpinang yang juga menjadi anak angkatnya.

Kisah ini direkam oleh Encik Abdullah dari Kampung Bulang, Pulau Penyengat dalam bait-bait Syair Kawin Tan Tik Cu atau Syair Perkawinan Anak Kapitan Cina atau Syair Tik Sing yang ditulis tahun 1860.

Selain itu, menurut beberapa sumber yang ditemuinya, kelompok terater Mak Yong kemudian tersebar di Pulau Mantang setelah penghapusan kerajaan Riau Lingga pada tahun 1913.

”Ada juga sumber yang menyebutkan kesenian Makyong juga ada di Thailand. Terkait yang mana lebih dahulu perlu kajian kembali,” ucapnya sembari menyebutkan bahwa ia pun sudah meneliti kesenian Makyong Malaysia beberapa waktu lalu.

Prof Ghulam menuturkan, bahwa kesenian Makyong di Malaysia pun kini sudah tidak terlalu berkembang. Alasan utamanya karena anak muda di sana pun lebih tertarik dengan pekerjaan yang potensial secara benefit.

Meski demikian masih tetap ada namun tidak begitu berkembang karena pelakonnya jarang tampil. Dituturkannya, ada dua perbedaan mencolok terkait kesenian Makyong Malaysia, yaitu ada rebab dan serunai sedangkan dari Kepri, tidak pakai. Menurutnya perbedaan kedua yaitu dari pakaian serta aktrisnya.

”Kesenian ini kan berkembang, yang saya lihat perbendaan mencolok di dua hal ini. Meskipun penari Makyong di Malaysia juga ada perempuan dan laki-laki. Tapi aslinya hanya para laki-laki,” ucapnya. (dlp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here