Buang Bayi Kok Jadi Trendy

0
634
Ira Yuliana, S.Pd,.M.Pd

Oleh: Ira Yuliana, S.Pd,.M.Pd
Dosen PTS Batam

Beberapa minggu terakhir kita dikagetkan dengan pemberitaan dari kota Batam. Bagaimana tidak, dalam waktu sepekan tiga peristiwa terkait pembuangan bayi mewarnai berbagai pemberitaan lokal Batam. “Selama sekitar satu minggu, tiga bayi yag dibuang orangtuanya ditemukan di berbagai lokasi berbeda di Batam. Lebih mirisnya lagi, dalam satu hari, tepatnya, Senin (15/1), ditemukan dua bayi di dua tempat dengan kondisi berbeda” (Tanjungpinang pos, 16 Januari 2018). Sebenarnya berita tentang pembuangan bayi bukan lagi hal yang langka saat ini. Namun kali ini yang berbeda dan menarik perhatian masyarakat adalah penemuan dua pembuangan bayi ditemukan pada hari yang sama dengan lokasi yang tidak terlalu jauh, dan selang beberapa hari kemudian ditemukan satu lagi bayi, masih dikawasan Batam, luar biasa tiga bayi ditemukan dalam waktu sepekan!.

Fenomena pembuangan bayi, yang kian hari kian marak sudah seharusnya membuat kita berbenah. Kondisi yang sudah layak dikatakan darurat, anak manusia yang merupakan karunia dari Allah swt, bahkan sangat dinanti kehadirannya saat ini seolah menjadi sesuatu yang tidak berharga bahkan dari nyawa hewan sekalipun. Menjadi menarik bagi kita yang prihatin kemudian tersentuh hati nurani dan keimanan untuk mencari akar masalah atas perilaku ini. Jika dipelajari setidaknya ada empat faktor yang menjadi penyebab perilaku pembuangan bayi ini. diantaranya faktor sosial, faktor spiritual, faktor ekonomi dan perkembangan teknologi.

Pertama, faktor sosial; rusaknya tata pergaulan saat ini menjadi pemicu utama perilaku ini, bahkan tak sekedar membuang, tindakan sampai membunuh bayipun dilakukan. Pacaran, kumpul kebo, seks bebas telah menjadi hal lumrah, seolah menjadi fenomena sosial yg dianggap biasa. Data yang diperoleh, bahkan hanya data hanya untuk sebagian wilayah di kota Batam sungguh sangat mencengangkan, “Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor KUA Sekupang, sepanjang bulan Januari hingga September 2015, tercatat 575 pasangan yang menikah dan enam puluh persen diantaranya adalah pasangan muda yang telah hamil. Bahkan tiga pasang diantaranya masih tergolong pelajar” (https://swarakepri.com). Salah pergaulan, seks bebas inilah kemudian berdampak pada banyaknya terjadi kehamilan diluar nikah, Saat panik dan tidak mampu bertanggung jawab aborsi, membunuh atau membuang bayi pada akhir dianggap sebagai solusi praktis. Ini

Kedua, faktor spiritual, lemahnya pemahaman pada agama baik pada remaja atau dewasa sekalipun, membuat mereka permisif atas segala penyimpangan tingkah laku dalam tata pergaulan. Ditambah orang tua pada umumnya yang sibuk berkerja sehingga tidak mampu mendidik anak secara optimal, pun mengontrol pergaulan anak tidak mampu dilakukan sepenuhnya. Disatu sisi kajian-kajian islam bagi pemuda dan remaja mengalami persekusi dan distigmatisasi dengan isu-isu negatif misal radikal, teroris dll, hal ini sungguh disayangkan karena faktor pemahaman spiritual ini memainkan peran penting pada diri manusia agar segala prilakunya tidak melanggar aturan Allah swt termasuk dalam ini haramnya pacaran, khalwat dan ikhtilat, serta memerintahkan kewajiban menutup aurat bagi perempuan dan menjaga pandangan bagi laki-laki. Bagaimana mungkin pemahaman spiritual dapat meningkat jika kajian-kajian Islam dijauhkan bahkan dilarang padahal ia merupakan solusi untuk menguatkan pemahaman spiritual ditengah masyarakat, khususnya remaja.

Ketiga Faktor ekonomi, keadaan ekonomi yang makin hari makin sempit membuat masyarakat menjerit, pun begitu pada banyak keluarga kebanyakan. Keluarga harus menanggung beban hidup yang teramat sulit Sempitnya ekonomi ini jugalah menjadi pemicu maraknya pembuangan bayi. Alasan tidak sanggup membesarkan anak karena sulitnya kehidupan yang dijalani menjadi alasan yang mengemuka ketika ditanyakan. Tak jarang mereka membuang bayi mereka sembarangan bahkan di pinggir jalan. Mereka selalu punya alasan membuang bayi mereka dengan teganya. Konsep setiap anak memilki rezeqi masing-masing seolah dongeng bagi mereka ketika melihat fakta yang harus dijalani dan sedikitnya pemahaman Islam.

Keempat Faktor perkembangan teknologi, perkembangan teknologi dan era reformasi juga mengambil bagian dalam maraknya pembuangan bayi. Media elektronik, sinetron, film dan terutama sosmed yang saat ini berkembang pesat memudahkan remaja untuk mengakses berbagai konten yang mereka inginkan termasuk konten negatif seperti video porno dll. Hal ini merusak pola pikir remaja, kemudian membuat mereka penasaran dan melakukan hal-hal yang sama seperti yang mereka tonton dalam keseharian termasuk saat pacaran.

Sekulerisme Munculkan Permasalahan sistemik
Komponen masyarakat hakikinya tediri dari tiga pilar, yakni individu, masyarakat dan negara. Permasalahan pembuangan bayi adalah masalah yang terjadi ditengah masyarakat dan pada dasarnya membutuhkan solusi yang sistemik. Karena keempat faktor tadi baik spiritual, ekonomi, sosial dan perkembangan teknologi tidak lepas dari empat komponen tersebut.

Sekulerisme yakni pemahaman yang mengharuskan agama dihilangkan dari kehidupan, Kemudian mengkerdilkan seolah agama hanya mengatur peribadatan tapi tidak dalam keseharian telah membuat agama kehilangan peran dalam menyelesaikan permasalahn yang dihadapai manusia. Sekulerisme telah membuat manusia gersang dari spiritual, sehingga kemudian wajar jika manusia cenderung melakukan perbuatan sesuai hawa nafsunya.

Pemahaman sprirtual yang gersang ini membuat manusia permisif atas dosa, hamil diluar nikah telah menjadi fenomena yang bukan lagi tentang dosa, sebaliknya malah dimaklumi dengan berbagai logika. Kehidupan yang sempit dengan mudahnya membuat orang putus asa, ketawakalan pada Allah swt atas rezeqi pun tinggal konsep semata. Teknologi yang seharusnya membawa kebaikan, malah kemudian disalahgunakan pada hal yang menghantarkan pada keburukan. Kehidupan sosial pun akhirnya sulit menjadi masayarakat yang islami, malah sebaliknya menjadi masyarakat yang serba bebas, didukung kemudian oleh negara yang tidak mau mencampuri urusan pribadi.

Sungguh perilaku manusia ditentukan oleh pemikiran yang diemban untuk kemudian dijadikan pemahaman. Islam mengatur detil tentang kehidupan termasuk tata pergaulan. Oleh karena itu, mari berbenah, terapkan Islam kaffah untuk selamatkan generasi. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here