Budidaya Ikan Berkembang Pesat

0
891
MELEMPAR BUBU: Anak-anak Pulau Kelong, di Kecamatan Bintan Pesisir. Saat melemparkan bubu untuk menangkap kepiting. F-ADLY BARA HANANI/TANJUNGPINANG POS

Tanjungpinang – PEMERINTAH Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), masih dianggap belum maksimal menjalankan ekonomi kemaritiman secara menyeluruh.

Beberapa sektor memang telah dinyatakan berhasil dalam pengembangan. Dan masyarakat telah merasakan keberhasian sebagai penunjang ekonomi sehari-hari. Namun belum seluruh sektor maritim yang tergarap.

Menurut Sarifudin, mahasiswa Fakultas Ekonomi (Fekon) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) jika pemerintah serius mengembangkan konsep ekonomi maritim, tentu akan sangat memajukan daerah dan menumbuhkan perekonomian daerah.

”Ekonomi berbasis maritim memang telah lama dimulai bahkan sejak kerajaan Melayu. Seperti halnya perdagangan antar negara, industri perkapalan, serta budaya maritim yang menunjang perekonomian. Itu sudah terjadi sampai saat ini,” ujar Sarifudin, Rabu (31/1).

Hanya saja, menurut Sarifudin, hal itu bagai jalan di tempat. Pemerintah dinilai belum maksimal mengelola potensi kemaritiman yang ada.

Meski ada perkembangan, namun untuk sektor industri perkapalan, wisata bahari, serta pengelolaan kawasan perikanan tangkap itu belum maksimal.

Kata Sarifudin, ada beberapa kawasan pengembangan budidaya ikan yang ada di wilayah Kepri, yang telah dikunjunginya. Katanya, masyarakat Kepri cukup berhasil dalam mengembangbiakkan ikan pada keramba budidaya. Setelah itu, proses jual beli juga telah dinyatakan berhasil dan masyarakat menikmati hasilnya.

”Saya mengapresiasi itu, dan perlu dikembangkan dan ini perlu sentuhan pemerintah. Yang terpenting bagaimana masyarakat Kepri, khususnya petani budidaya tidak terlalu terikat pada juragan penampung alias tauke. Sehingga mereka bisa lebih leluasa dalam menjual, dan budidayanya bisa lebih maju,” harapnya Sarifudin.

Sektor kelautan, lanjut yang belum maksimal dalam mengembangkannya, kata Safrudin bisa dibuktikan dengan tidak adanya peningkatan serta inovasi alat tangkap nelayan.

Umumnya, nelayan di Kepri masih menggunakan alat tangkap tradisional. Ini jauh berbeda dengan negara tetangga, yang alat tangkap nelayan sudah menggunakan teknologi.

”Jika memang unggul pada budidaya ikan, mestinya terus dikembangkan. Mulai dari target jumlah panen, kualitas bibit, serta pengawasan lingkungan hidup, dan terakhir sistem penjualan yang tetap menguntungkan bagi petani budidaya ikan,” ungkapnya.

Lokasi budidaya ikan di Kepri, tersebar di beberapa pulau kecil. Seperti halnya Kawasan Kabupaten Bintan, Kabupaten Lingga, serta wilayah Batam. Menurut Sarifudin budidaya yang ada terbilang berhasil.

Di antaranya budidaya ikan kerapu sunu, kerapu tiger, serta lobster. Bahkan beberapa kelompok, telah menyalurkan hasil panen budidaya untuk kebutuhan ekspor.

”Saat ini, pihak terkait seperti Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), serta Dinas Lingkungan Hidup masih kurang mengawasi pencemaran di laut. Karena serangan limbah beracun yang buang oleh kapal-kapal minyak, masih sering terjadi tanpa ada penanganan serius,” katanya.

Sarifudin menambahkan, konsep ekonomi maritim sangat luas. Selain itu, pemerintah harus melihat mana yang menjadi sektor unggulan.

Misalkan, untuk sektor kelautan, yang mencakupi wilayah perikanan tangkap, industri perkapalan, kawasan labuh jangkar yang baru-baru ini mulai dikembangkan itu nerupakan salah satu upaya pemanfaatan ekonomi wilayah perairan.

”Intinya secara keseluruhan. Ada banyak yang bisa digarap. Pemerintah Provinsi belum memaksimalkan pengembangan potensi ekonomi kemaritiman. Butuh keseriusan dalam mengembangkan, serta mampu menjadikan sektor kelautan sebagai tulang punggung perekonomian Kepri,” tutupnya. (ADLY BARA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here