Budidaya Melon Petani Dompak Sukses

0
297
Raja Khairani, Babinsa Dompak panen melon, Selasa kemarin. f-istimewa

DOMPAK – Petani sayuran di kawasan Dompak berhasil mengembangkan budidaya melon yang nilai ekonomisnya tinggi, salah satunya adalah varietas Alisha F1 dari Cap Panah Merah, Selasa (19/3). Mereka adalah petani dari Kelompok Tani Harapan.

Panen raya di lahan petani Sudirman dihadiri Raja Khairani, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kota Tanjungpinang, Babinsa Dompak Sertu Hari dan para kelompak tani. Juga dihadiri dari perusahaan Cap Panah Merah sebagai penyediah benih.

”Varietas F1 Alisha memiliki kulit kuning halus, memiliki daging renyah dan sangat manis, sangat cocok di kawasah eks bauksit,” kata petani Melon, Sudirman, kemarin.

Kata Sudirman, yang akrab disapa Jenderal, karena namanya dikait-kaitkan dengan Jenderal Sudirman pahlawan nasional, sudah tiga kali sukses menanam melon di lahan yang sama.

Ia menanam dua jenis melon yakni Melon Alisha F1 (melon golden) dan melon Madesta Fr (Melon kulit jaring daging orange)

Melon Alisha melon kuning memiliki nilai ekonomis tinggi, hasil panen yang tinggi dan buah yang kualitasnya sangat bagus sehingga akan meningkatkan pendapatannya.

”Saya tanam kurang lebih 3 ribu batang. Satu batang bisa menghasilkan dua buah melon. Berat melon per satunya, rata-rata kurang lebih dua kilogram,” ujarnya.

Sambung dia, ia sangat bangga karena membudidayakan melon kuning tidaklah mudah, memerlukan perawatan dan perhatian besar dan penuh ketelitian dan ia berhasil.

Menurut banyak faktor yang harus diperhatikan petani selama proses budidaya. Mulai dari pemilihan waktu tanam, faktor iklim dan cuaca, pengolahan lahan hingga antisipasi terhadap serangan hama dan penyakit.

Salah satu serangan penyakit yang menakutkan petani adalah serangan virus gemini. Virus yang dibawa oleh serangga kutu kebul (Bemisia tabaci) sangat mudah menular dan merusak tanaman hingga gagal panen dan tidak dapat berproduksi sama sekali.

”Harga pasaran juga lumayan. Per kilonya bisa mencapai Rp17 ribu. Ini harga jual dari petani ke bos penampung, bukan harga konsumen,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Harapan Jaya Katimun, bersyukur anggotanya berhasil mengembangkan budidaya melon di tanah eks bauskit. Para petani kelompok Harapan Jaya berterima kasih kepada pemerintah daerah, terutama kepala Dinas Pertanian yang turun langsung ke kebun, melakukan panen raya bersama.

”Perhatian pemerintah daerah terhadap kelompok tani terus meningkat. Ini yang kita harapkan agar terus ditingkatkan,” harapnya.

Sambung dia, petani Melon Sudirman, menurutnya salah satu petani yang memiliki keahlian menanam melon. Sebab, tidak semua petani sukses menanam melon.

”Yang dihadapi petani saat ini adalah kekurangan air untuk menyiram tanaman. Air kolam sebagai sumber air banyak yang kering karena lama tidak hujan,” ujarnya. Sambung dia, harga melon di tengah masyarakat cukup tinggi.

Dan, permintaan juga cukup tinggi, terutama dari hotel-hotel yang ada di Pulau Bintan. ”Melonnya manis sangat disukai para turis yang datang ke Pulau Bintan. Melonnya laris di tengah masyarakat,” ujarnya. (bas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here