Bukan Duka Vivi

0
189
CINDAI

KALAU ada sesuatu yang harus berujung pada air mata, mestikah dinamai duka? Kukira tidak. Tidak semua punca air mata adalah lara. Seringkali ada juga sebab doa, bahagia, juga sukacita. Sebab itu sekadar urusan memberi nama.

Pahami ini, Vivi. Pada hakikatnya, segala adjektiva dalam kepala nisbi belaka. Tidak ada patokan mutlak tentangnya. Bergantung kata apa yang kelak kausandangkan pada setiap peristiwa. Sederhana saja.

“Bagaimana tentang jauh?” tanyamu.

Jauh pun sedemikian adanya. Hanya dalam kepala. Yang pasti itu jarak, karena ada satuannya. Sedangkan jauh atau dekat, bergantung persepsi yang kaubangun dalam jiwa.

“Bagaimana tentang sedih?” tanyamu.

Sedih pun seperti itu juga. Peristiwa macam apa yang lantas perlu kaunamai dengan adjektiva sedih? Karena sedih bagi manusia tidak pernah jelas satuannya. Ada yang tidak bisa melihat, tapi tidak pernah menagis sepanjang hidupnya. Karena ia enggan melekatkan adjektiva sedih atas hidupnya.

“Bagaimana tentang sakit?” tanyamu.

Sama halnya. Sakit juga adjektiva yang bisa kaulekatkan pada setiap keluh dalam hidupmu. Padahal, sakit bagi kita belum tentu bagi orang lain. Pun sebaliknya.

“Jadi seharusnya bagaimana?” tanyamu.

Segalanya bukan duka, Vivi. Semesta dirancang sudah sedemikian sempurna. Menangisinya, meratapinya, membencinya hanya akan menambah duka-Nya abadi. Jadi, bukan duka, Vivi. Bukan.***

Nama : Elvika Vivi Tikviana
TTL : Tanjungpinang, 27 Maret 1999
Alamat : Jalan Brigjen Katamso, Gang Kenanga
Hobi : Berenang, Bernyanyi
Instagram : @elvikavt
Buku Bacaan : Duka-Mu Abadi karya Sapardi Djoko Damono

Foto : Sulaya
Narasi : Fatih Muftih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here