Buku vs Milinial Generasi

0
571

Oleh : Nurfitrianti
Kader Forum Studi islam Robbul Izzah, FISIP UMRAH

Indonesia bukannya terbentuk dengan sendirinya karena batas peta. Ada gerak dan peran besar kaum muda (Najwa Shihab Duta Baca Indonesia 2016) hingga negara Ini bisa ada. Yusuf Qardawi dalam tulisannya mengatakan jika ingin melihat masa depan suatu bangsa, maka lihatlah kondisi pemudanya saat ini. Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia tidak akan terlepas dari peran pemuda sebagai tonggak peradaban. Karakteristik pemuda dari zaman ke zaman pun mengalami perubahan.

Sebagai generasi yang hidup di zaman milenial sudah tentu tantangan berbeda. Tantangan yang dihadapi oleh generasi Z atau disebut generasi milenial yang lahir di kisaran tahun berbeda dengan generasi X dan Y yang menghadapi kondisi kehidupan pasca kemerdekaan hingga reformasi.

Tantangan generasi Z tidak terlepas kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Generasi Z merupakan pergeseran dari generasi Y yang biasa disebut generasi millenial, I-generation memiliki karakter yang lebih unik dibandingkan generasi X dan generasi Y. Generasi Z hidupnya sangat tergantung pada teknologi, gadged, dan aktivitas di sosial media. Sehingga cenderung mementingkan populasitas, jumlah followers,banyak like dan sulit untuk diarahkan.

Dalam menghadapi problematika pemuda kontemporer di Indonesia berdasarkan riset Kominfo dan UNICEF yang dipublish melalui website resmi Kominfo 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet dan media digital. Lemahnya daya pikir kritis menjadi masalah tersendiri bagi bangsa ini, hal ini di karenakan sebagai mayoritas pengguna internet pemuda yang lemah minat membaca cenderung mudah terprovokasi sehingga tindakannya kemudian menjadi celurit untuk bangsa ini yang juga mengancam kebinekaaan bangsa.

Diantara karakter yang mudah terbentuk dari pengaruh kemajuan teknologi dan informasi yang tidak terkendali bagi generasi ini ialah terbentuknya pribadi yang malas bergerak dan tidak bekerja keras. Dan berdasarkan penelitian yang dapat menjadi penyeimbang bagi pengaruh pembentukan karakter pemuda dimasa depan ialah dengan buku.

Pada hakikatnya metode membaca buku merupakan hal efektif untuk mendewasakan karakter dan pemikiran pemuda, sebagaimana yang diketahui karakter pemuda yang memiliki adrenalin yang tinggi harus mampu dikendalikan dan di arahkan kepada hal-hal yang positif sehingga mampu memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.

Sebagai jendela dunia minat mencintai buku dikalangan pemuda dapat dikatakan minim hal ini didasarkan pada hasil survei dari Central Connecticut State University in New Britain, menyebutkan Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara. Bahkan dalam hasil penelitian yang dialakukan Unesco pada tahun 2012 minat baca rakyat indonesia 1:1000 yang berarti dari 1000 penduduk hanya ada satu orang yang gemar membaca. Dan dalam setahun hanya jumlah buku yang dibaca rata-rata oleh penduduk Indonesia 3 buku/tahun padahal idealnya jika dirujuk pada negara-negara maju di dunia penduduknya membaca buku 20-30 buku/tahun. Padahal banyak sekali manfaat dari buku sebagaimana yang dikatakan Najwa Sihab Duta Baca Indonesia 2016 beberapa manfaat dari membaca diantaranya, meningkatkan pengetahuan dan wawasan, memperkaya imajinasi, lebih punya keluasan hati, tidak mudah memaki.

Menghadapi milenial generation untuk mencintai buku tidak cukup hanya dengan kampanye, karena karakter generasi Z yang cenderung pragmatis dan fleksibel maka diperlukan inovasi berkala secara konsisten.Agus Gymnastiar mengungkapkan “solusi hanya dimiliki oleh orang-orang kreatif, karena masalah semakin komplek sehingga harus dihadapi dengan ilmu yang salah satunya didapatkan dengan membaca”. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here