Bulan Istimewa yang Ditunggu-tunggu

0
763
Muhammad Idris DM.

Oleh: Muhammad Idris DM.
Dosen tetap PSN UMRAH Tanjungpinang dan Dosen di berbagai Perguruan Tinggi di Tanjungpinang dan sekitarnya

“Yaa ayyuhaa alladziina aamanuu kutiba ‘alaykumu shshiyaamu kamaa kutiba ‘alaa ladziina min qablikum la’allakum tattaquun”
(Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
(AQS al-Baqarah/2: 183)

Pertukaran waktu sedemikian cepat. Detik demi detik, menit ke menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan bulan demi bulan yang kita lalui, telah mengantar kita memasuki bulan suci Ramadan. Bulan yang agung, bulan yang mulia, bulan yang ditunggu umat Islam yang di dalamnya diwajibkan untuk melaksanakan ibadah shaum (puasa).

Lebih kurang tiga ratus tiga puluh (330) hari atau sebelas (11) bulan lamanya bersebunyi dalam lipatan masa, kini kekasih Ramadhan muncul kembali ditengah-tengah kaum muslimin dengan tersenyum tersungging, memperlihatkan waja yang berseri-seri. Kita ucapkan salamat datang ke kasih Ramadan, marhaban yaa Ramadan.

Kehadiran kekasih Ramadan kembali memberikan pengharapan dan optimism kepada setiap orang mukmin/mukminat, karena Ramadan membawa kenikmatan jiwa dan rohaniyah dalam hidup dan kehidupan.

Perpisahan selama sebelas bulan itu terasa terlalau sangat lama, seandainya kalaulah ada jalan untuk mempercepat proses pergantian atau pertukaran malam dan siang, tentulah orang-orang yang beriman akan menempuh jalan jalan tersebut, agar supaya kekasih Ramadan yang ditunggu-tunggu itu bisa datang lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan.

Walaupun demikian tentu ada juga orang yang keki dan kesal dengan kedatangan bulan Ramadan, menyambutnya dengan sangat menggerutu dan muka yang masam, karena dianggapnya mendatangkan kerugian baginya, paleng tidak mengekang keinginan dan kebebasannya. Mereka bersanggapan bahwa kedatangan bulan suci Ramadan tidak lagi bebas makan dan minum di waktu siang hari, mengepulkan asap rokok, harus tenggang menenggang dan segan terhadap sesama muslim yang menjalankan ibadah puasa, ia merasa hak asasinya dibatasi, menganggap bertentangan dengan perinsip-perinsip kebebasan.

Tetapi bagi umat Islam yang beriman sudah barang tentu menyambut gembira atas kedatangan bulan suci Ramadan yang sudah lama dinanti-nantikan. “Sebaimana Sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Barag siapa yang hatinya gembira (senang) menyambut kedatngan bulan suci Ramadhan, Allah mengharamkan jasadnya dengan api neraka” (al-Hadits) karena memang kita diperintah untuk menyambut bulan ini dengan penuh rasa kegembiraan sebagaimnan termaktub dalamsabda Rsulullah SAW yang artinya: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka hendaklah engkau mengucapkan selamat datang kepadanya. Telah datang bulan puasa dengan segenap berkah di dalamnya maka hendaklah engkau memuliakannya. (al-Hadits).

Baca Juga :  Menanti Provinsi Pulau Tujuh

Bulan ini adalah bulan yang diberkati, bulan ini adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, bulan ini adalah bulan terjadinya peristiwa Lailatul Qadar, sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan dan di bulan juga merupakan bulan dimana pintu maghfirah (ampunan) dibuka selebar-lebarnya serta segenap amal kebajikan dilipat gandakan pahalanya. Mengingat betapa mulianya bulan ini, maka alangkah bahagianya jika pada momentum Ramadhan ini kita dapat bersama-sama meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita serta mengisinya dengan segala kebajikan.

Bulan Ramadan istimewa, Ramadan bulan yang diberkati, Ramadan bulan diturunkannya Al-Qur’an, Ramadan bulan terjadinya peristiwa Lailatul Qadar, sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan dan di bulan ramadhan juga merupakan bulan dimana pintu maghfirah (ampunan) dibuka selebar-lebarnya, pintu neraka ditutp dengan rapatdan dikunc, syaithan dibelenggu dan diikat, do’a-do’a dijabah/diterima, serta segenap amal kebajikan dilipat gandakan pahalanya Mengingat betapa mulianya bulan bulan ramadhan ini, dan banyak lagi keistimewaa-keistimewaan yang lainnya, oleh karena itu alangkah bahagianya jika pada momentum Ramadhan ini kita dapat bersama-sama meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita serta mengisinya dengan segala kebajikan-kebaijian.

Dari seluruh keistimewaan Ramadan, yang paling penting bagi kehidupan umat manusia terletak pada kewajiban untuk melaksanan puasa sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur’an Surah al-Baqarah/2: 183).
Dari seluruh keistimewaan Ramadhan, yang paling penting bagi kehidupan umat manusia terletak pada kewajiban untuk melaksanan puasa sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur’an Surah Al-Baqarah/2 ayat 183 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (AQS al-Baqarah/2: 183).

Dengan melaksanakan puasa kita dapat merendahkaan diri, merendhkan hati, bahkan memahami ayat al-Qur’an dan mengalkannya dalam kehidupan sehari-hari (khususnya Surah al-Baqarah ayat 183), dengan berpuasa berlapar-lapar berarti diajarkan membelenggu berutal, yang insyaa Allah pada gilirannya menempatkan diri orang yang berpuasa untuk selalu dekat kepada Allah SWT.

Hal itu kita lakukan karena bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah, penuh dengan ampunan (magfirah), penuh dengan rahmat, dibulan Ramadan pintu syurga dibuka, pintu neraka dikunci, oleh karena Allah SWT mewajibkan kita melaksnakan ibadah puasa Ramadan. sebaiamna sabda Rasulullah SAW yang artinya : “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah, Allah SWT mewajibkan kamu berpuasa selama satu bulan ini, dalam bulan Ramadan semua pintu syurga dibuka selebar-lebarnya dan pintu neraka ditutup dan dikunci dengan rapat, semua syaithan dibelenggu, dalam bulan Ramadan terdapat satu malam yang lebih bauk dari pada seribu bulan, siapa yang malam itu tidak diberkan kebajikan berarti telah dihamkan baginya kebajikan. (HR. Ahmad, Nasai’ dan al-Baihaqy).

Baca Juga :  Berkendaraan Nyaman Melalui Tertib Berlalulintas

Oleh karena itu, dalam mejalankan ibdah puasa kita perlu berhati-hati agar pahala puasa yang kita kerjakan tetap lestari, didalamnya dilarang berkata keji, dilarang marah, dilarang menggungjing, dilarang memaki orang lain, dilarang mengungkipkan aib orang lain, jika ada orang mengajak kita untuk ucapan-ucapan atau perbuatan demikian, hendaklah kita katakana “inniy shaa’imun” (saya sedang berpuasa), karena barangsiapa tidak suka meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan kotor, perbuatan keji dan sebagainya, maka Allah SWT tidak membutuhkan puasa yang dikerjakannya, walaupun ia menahan lapar dan dahaga.

Rasulullah SAW bersabda yang artintya “barang sia yang tidak sanggup mengendalikan lisannya dari perkataan bohong, kepalsuan, bahkan dengan kepasuannya itu ia juga bertingkah laku, maka Allah tidak memerlukan puasanya walaupun sudah membuktikan meninggalkan makan dan inum.” (HR. Bukhari).

Begitu jelas dan sempurna penegasan Rasulullah SAW itu, didalmnnya mengandung pembelajaran, bahwa kita ditunut untuk tidak berkata keji, tidak berkata bohong dan melaksnakan sumpah palsu, karena puasanya tidak medapat pahala dan tidak akan diterima bila dilakukan sambil menindas, memeras, mencuri, berdusta, atau melaksakan perbuatan-perbuatan kotordan keji diluar ketentuann syariat Islam.

Pada dasarnya orang melaksnakan puasa yaitu puasa lahir dan bathin. Puasa lahir terbatas menahan lapar dan dahaga, ibadah seperti ini mudah luntur oleh lingkungan sekitarnya. Puasa bathin adalah puasa tertanam dan bersemayang dalam hati seseorang, bagi yang menunaikan puasa batin tidak dibatasi ruang dan keadaan bagaimanapun, ada orang atau tidak, sepi atau ramai, ia tetap konsisten, tetap berpuasa. Puasa bathin tidak dipengaruhi oleh sesuatu yang dapat membatalkan puasanya dan yang dapat mengurangi nilai-nilai serta membatalkan pahala puasanya.

Sebagai orang yang beriman dituntut untuk berpuasa lahir bathin, luar dalam, perpaduan puasa lahir dan bathin, sehingga membuat iman seseorang tidak tergoyahkan, iman itu memperoleh pakaian taqwa dan buahnya adalah amal kebaikan. Kalau kita kembali memperhatikan sabda Nabi SAW puasa lahir bathin ialah ibadah yang tidak dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW terdapat dalam Hadits Qudsi yang artinya: “Dari Abu Hurairah radhiya Allahu ‘anhu berkata, Rasulullah SAW bersabda Allah SWT telah berfirman semua amal, tingkah laku anak Adam dapat dicampuri dengankepentingan hawa nafsu, kecuali puasa, maka puasa itu semua untuk-KU (Allah) dan Allah sndiri yang akan embalasnya. (HR. Bukhari dan Muslin).

Baca Juga :  Menyambut Indahnya Bulan Suci Ramadan

Ibadah puasa yang dikerjakan merupakan ibadah yang bersifat rahasia, karena di dalamnya tidak ada unsur pamer, tidak ada unsur popularitas, yang mengetahui seseorang itu bahwa dia berpuasa hanyalah Allah SWT dan dirinya sendiri, berbeda dengan ibadah lainnya, dapat dilihat dan diketahui oleh manusia lainnya.

Dengan demikian puasa diprioritaskan pahalanya langsung dari Allah swt. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW dalam Hadits Qudsi yang artinya : “ Tiap-tiap perbuatan anak Adam (manusia) adalah hak milik-Nya, kecuali puasa, sebab puasa adalah bagi Allah, dan Allah yang membalasnya.
Puasa yang dilaksakan umat Islam mempunyai tiga tingkatan: Pertama: Puasa Umum yaitu puasa yang dikerjakan oleh kebanyakan umat atau orang-orang awam, yang mengekang atau menahan diri tidak makan dan tidak minum serta tidak bercampur dengan suami isteri disiang hari atau waktu yang telah ditentukan, tetapi tidak memperhatikan hal-hal yang dapat mengurangi atau menghilangkan nilai-nilai pahala puasa itu sendiri.

Kedua: Puasa Khusus yaitu puasa yang kebanyakan dikerjakan oleh para shalihin, ia mengekang anggota badan dari segala perbuatan yang membatalkan puasa dan mengurangi nilai-nilai pahala puasa atau perbuatan-perbuatan yang mendatangkan dosa. Puasa semacam ini dapat dicapai dengan mengusai 5 (lima) perkara : 1) Menundukkan pandangan mata dari hal-hal yang tercelah menurut agama yang dapat mendatangkan dosa. 2)Memelihara lidah dari ghibah, dusta, adu domba, sumpah palsu, hal-hal dapat membangkitkan syahwat dan sebagainya yang dapat menimbulkan dosa. 3)Memelihara telinga dari mendengarkan hal-hal yang dibenci oleh agama. 4)Melihara segenap anggota badan dari hal-hal yang dibenci oleh agama. Dalam artian memelihara perut dari makanan yang syubhat ketika berbuka puasa, karena apalah artinya dengan mengekang atau menahan diri tidak makan dan minum disiang hari, lalu berbuka dengan makan yang haram. 5)Tidak terlalu banyak mengisi perut disaat berbuka, sekalipun dengan makanan yang halal.

Ketiga: Puasa Khawasul Khawas, yaitu memelihara gerakan hati dari hal-hal yang bersifat keduniaan, semata-mata hanya mencari ridha Allah. Tingkatan puasa seperti ini apabila memikirkan selain Allah, maka menganggap gugurlah puasanya, puasa secam ini adalah puasa yang setingkat puasa para nabi dan para shiddiqin. Pada hakekatnya kedudukan puasa semacam ini menghadapkan jiwa raga sepenuhnya kepada Allah SWT dan berpaling selain Allah.
Demikian semoga …… !!! ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here