Bunuh Diri Kok Jadi Tren?

0
397
Istiqomah, S.Pi

Oleh: Istiqomah, S.Pi
Aktivis Mahasiswa BKLDK Tanjungpinang

Memasuki awal September lalu masyarakat Tanjungpinang dikejutkan dengan penemuan mayat lelaki (26) yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri (Tanjungpinangpos.co.id). Sempat mengirim pesan WA pada kekasihnya sebelum tewas sampai isu yang berkembang bahwa motifnya ialah tentang asmara, namun hingga kini kematiannya pun masih menimbulkan tanda tanya pasalnya tidak meninggalkan tanda-tanda yang mencurigakan. Tak berselang lama pada tanggal 4 September 2018 peristiwa bunuh diri di Tanjungpinang kembali terjadi. Kali ini dilakukan oleh lelaki (33) pemilik kedai kopi Beranda di Komplek Ruko Jalan DI Panjaitan KM 9, Tanjungpinang. Sebelum nekat melakukan aksinya, ia meninggalkan Viar kepada anaknya yang bertuliskan “Disimpan Ya Nak, Jaga Baik2” (Tanjungpinangpos.co.id).

Angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia sekitar 812 kasus, data ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik Nasional tahun 2015. Jika dikalkulasikan, kematian akibat bunuh diri tiap harinya terjadi 3-4 kasus di Indonesia. Sedangkan menurut WHO, angka bunuh diri di Indonesia sekitar 10.000 kasus pada tahun 2012. Bahkan, angka ini meningkat separuh dari tahun sebelumnya, mencapai 5000 kasus pada tahun 2010. WHO menambahkan bahwa 75% kematian bunuh diri terjadi pada negara-negara dengan ekonomi rendah dan menengah. Aksi-aksi bunuh diri di beberapa negara dilakukan oleh kalangan selebriti dan akibatnya gaya hidup tersebut dapat ditiru oleh masyarakat.

Ahli psikologis dari The Ohio State University Wexner Medical Center mendapati bahwa untuk alasan yang tak sepenuhnya kita pahami, beberapa orang mencapai keputus asaan dan rasa sakit yang mendalam sehingga mulai mempercayai lebih baik mati saja. Keyakinan untuk “lebih baik mati saja” ini tumbuh di dalam diri dan mendorong untuk mati dengan bunuh diri. Faktor yang menyebabkan bunuh diri diantaraya seperti depresi, ekonomi, pelecehan, kekerasan dan kondisi latar belakang sosial. Bahkan, beberapa waktu terakhir bunuh diri pernah dilakukan secara live jejaring sosial media, seperti kasus pria Jagakarsa yang bimbang dan bingung menyikapi hidup yang ia alami selama ini.

Negara dengan ekonomi yang majupun memiliki angka bunuh diri yang tak kalah fantastis, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat, bunuh diri dilakukan dengan rentang usia 10-24 tahun dan kematian akibat bunuh diri mencapai 10.000 orang tiap tahunnya. Bunuh diri menjadi penyebab kematian terbesar di Amerika. Anak-anak muda disana nekat mengakhiri dirinya dengan jalan apapun sehingga bunuh diri ialah alternatif terakhir untuk mengakhiri hidup mereka, larut dalam keputus asaan yang seolah tak ada solusi lagi membuat angka bunuh diri makin meningkat. Lebih memilukannya lagi, bahwa bunuh diri memiliki angka kematian terbesar dari pada perang dan bencana alam (voaindonesia.com).

Mengeksekusi masalah tanpa berfikir jangka panjang berikut dengan resiko yang akan dialami, nyaris mulai hilang dalam tatanan sosial masyarakat modern.

Ekonomi dengan berkemajuan ataupun rendah memiliki kondisi yang tak berbeda, tua, muda, mahasiswa atau tidak, memiliki masalah yang sama yakni “keputus asaan”, hampir dari berbagai hal, bahkan bisa jadi hanya karena urusan yang remeh.

Kapitalisme mengedapankan gaya hidup hedonis, sehingga bagi siapapun yang tak mampu meraihnya tersingkir dari kelompok masyarakat yang royal ini. Rasa simpatik didalam diri menjadi keruh, berlomba-lomba dalam gelimang harta tanpa memikirkan aspek agama sudah menjadi trendi. Sekuler ialah pemisahan agama dari kehidupan telah mencopot sendi-sendi sosial yang menyatu pada tata aturan agama.

Tak ada lagi peran agama yang mengatur untuk menyikapi setiap problem dengan bijaksana. Setiap manusia dilahirkan dengan kelebihan yang berbeda, penciptaan manusia diabadikan dalam Alqur’an.

“Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan?” (QS Al Qiyamah:36-37)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia diciptakan lewat air mani yang terpancar, namun hanya setitik mani saja yang berhasil menjadi manusia. Sekiranya jika kita sebagai manusia berfikir sejenak saja, siapa yang menciptakan, untuk apa hidup yang diberikan dan akan kemana setelah kematian, kita akan tersadar bahwa hidup yang kita peroleh bukanlah kesia-siaan.

Islam telah membebani manusia baligh dengan hukum yang sempurna. Maka sebagai muslim, sudah sewajarnya hidup kita berpedoman dengan segenap aturannya. Kehidupan ialah suatu kenikmatan, sebuah awal untuk memaknai setiap penciptaan Allah dengan segala isinya. Bintang gemintang yang berkelap kelip di angkasa ialah penciptaan yang tiada bandingan. Relahkah kita meningkari aturanNya?

Islam mengajarkan kita untuk bersyukur dengan hidup yang kita arungi, Islampun tidak mengabaikan semua perbuatan tanpa balasan. Sesungguhnya dunia ialah ladang untuk kita menebar benih kebaikan yang akan kita semai nanti di Akhirat.

Sebaik-baik teladan yang pantas ditiru ialah Rasulullah SAW, mengajarkan kita untuk senantiasa tunduk dan taat, menjauhi bentuk-bentuk kemaksiatan agar memperoleh rahmat dari Allah SWT. Hidup itu pilihan, mengakahiri masa depan dengan jalan seperti apakah kita jika tanpa sebenar-benarnya ketaqwaan. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here