Burnout Bisa Tumpulkan Ingatan

0
414
Burhan Latif

Oleh: Burhan Latif
Pengurus KAMMI UMRAH, Tanjungpinang

” Alzheimer menurunkan fungsi otak akibat kematian sel-sel otak secara gradual. Akibatnya, penderita mengalami dimensia atau biasa disebut pikun,” –Samino, dokter spesialis bedah syaraf, Ketua Asosiasi Alzheimer Indonesia.

Apakah belakangan ini Anda merasa bagaikan kuda tua yang lemah? Itu mungkin saja burnout. Saat usia bertambah, hambatan pun kian menghadang. Bila habis daya, semuanya menjadi serba salah. Hidup jadi tanpa variasi dan tanpa gairah karena dihantui stress berkepanjangan. Waspadalah, sebab stress bias jadi merupakan gejala awal Alzheimer!

Setelah 32 tahun bekerja di suatu perusahaan swasta ternama, Pak Kowo, 53 tahun, akhirnya mengalami burnout atau dikenal juga sebagai executive bore syndrome atau kejenuhan kerja. Burnout merupakan semacam stress atau kebosanan ataupun rasa frustasi yang dapat menyebabkan penderitanya jadi merasa letih, mudah tersinggung, nyeri di seluruh tubuh, dan merasa tua. Penderitaannya makin bertambah akibat Pak Kowo sekarang mulai pikun dan sering salah memberikan instruksi pada bawahannya. Akibatnya, kinerja anak buah yang diawasinya jadi tidak produktif, terancam diberhentikan dengan hormat dari perusahaan.

Rasanya memang sangat menyakitkan bila kerja keras bertahun-tahun akhirnya kandas gara-gara “kehabisan bahan bakar”. Anda juga tentunya tidak mau diakhir masa kerja dipermalukan seperti itu. Namun, perlu disadari, sejak sekarang, apakah ketika Anda bangun pagi, Anda merasa usia Anda bertambah 10 tahun? Tubuh terasa seperti habis bertanding tinju kalah KO, dan sulit bangun dari tempat tidur. Apalagi bila belakangan ini, Anda mudah marah dan tersinggung bagaikan singa betina yang salah makan. Atau, Anda merasa sangat berat sekali untuk ke kantor sehingga harus menyeret badan Anda dengan berbagai suplemen penambah tenaga. Jika ya, Anda perlu berhati-hati. Karena tidak diragukan lagi kemungkinan besar Anda telah menderita gejala burnout.

Bisa dipastikan kalau Anda telah kehilangan energy Anda di masa muda, dan telah menghabiskan sebagian besar waktu Anda terlibat dalam pertarungan di tempat kerja tanpa harapan untuk menang. Selain itu, bila Anda merasa kalau segala tindakan Anda mengalami hambatan akhir-akhir ini, kemungkinan besar tingkat produktivitas kerja Anda juga sedang menurun. Hambatan itu sebenarnya tidaklah selalu berupa kendala yang terdapat di medan kerja (tingkat kesulitan kerja, persaingan atau perubahan situasi) saja. Karena hambatan yang paling berat justru sering muncul dari dalam diri kita sendiri.

Burnout akan menguras tenaga cadangan baik mental maupun fisik. Walaupun saat Anda masih remaja seolah-olah energy Anda tidak pernah habis dan tidak pernah merasa lelah. Untungnya, burnout tidak harus membuat Anda merasa tua selama-lamanya dan kondisi ini dapat disembuhkan. Maka kemudian yang seharusnya dilakukan ketika tubuh merasa sangat rentan dan berasa sangat tua adalah lawan burnout tersebut, dalam artian perkuat kepercayaan diri Anda. Karena ketika kita percaya akan hal-hal yang seharusnya sudah menjadi keyakinan kita maka itu semua akan dipermudahkan oleh tuhan kita. Namun, adalagi banyak hal yang seharusnya kita lakukan sepert imengkonsumsi makanan sehat, buah-buahan, dan sebagainya. Kemudian, ada sebuah riset atau penelitian menyatakan bahwasanya salah satu dampak yang ditimbulkan dalam konteks ini adalah penurunan prestasi, ini adalah sebuah kekhawatiran yang besar bagi mahasiswa yang mempunyai target untuk mendapatkan beasiswa, karena salah satu syarat untuk mendapatkan beasiswa adalah dengan mencapai prestasi yang tinggi.

Christina Maslach, seorang psikolog Amerika Serikat mengamati gejala penurunan prestasi yang drastic dari orang-orang yang semula berprestasi dan berdedikasi tinggi dalam kerjannya, tiba-tiba ambruk menjadi lesu dan mengalami ketidak berdayaan. Ia jadi sering membolos, mudah tersinggung, sinis dan menarik diri. Seperti yang dituturkan C.Y. Prawasti dalam Burnout: sebuah sindrom dalam dunia kerja, yang dimuat di media bisnis Indonesia, Minggu 1 Oktober 1996, Maslach telah meneliti masalah ini sejak tahun 1970-an.

Di Amerika gejala ini disebut sebagai habis daya (burnout) pertama kali digunakan oleh freudenberger seorang psikolog klinis, untuk menunjukkan adanya respon stress. Kemudian konsep ini berkembang terus dan diperjelas oleh pakar-pakar lain. Maslach mengelompokkan gejala-gejala ini menjadi tiga bagian, yaitu: Pertama, kelelahan emosi. Kedua, Menurunnya harkat manusia dari individu yang semula dikenal (depersonalisasi). Ketiga, rendahnya keyakinan diri untuk melakukan tugasnya dengan baik. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here