Cahaya Bulan, Inovasi dan Perguruan Tinggi di Kepri

0
686
Mohammad Endy Febri SE, MH

Oleh: Mohammad Endy Febri
Pernah mengajar di UMRAH, Provinsi Kepri

Bulan pernah jadi pusat hiburan? Percaya sajalah. Dari kisah satu dua generasi diatas saya, diceritakan bahwa malam purnama merupakan malam yang dinanti. Semacam feeling menjemputmalam Minggu jika disandingkan dengan keadaan hari ini. Bahkan, lebih dari itu tingkat keriangannya. Gelapnya malam tanpa cahaya yang memadai, membuat bulan semakin indah bila disematkandalam sebuah puisi, kala itu.

Jika malam Minggu membuat orang bahagia disebabkan esoknya beban kerja lebih kendur, malam terang bulan ditunggu murni karena cahayanya.

Kata keluarga – keluarga tua saya, dibeberapa daerah di Kepulauan Riau (Kepri) yang kala mudanya mereka tinggal dirumah – rumah pelantar kayu diatas laut, terang bulan menjadi malam pesta. Mereka berhidang dengan para tetangga. Dijamu atau membawa menu masing – masing untuk disantap bersama, lazimnya dirumah jiran yang memiliki beranda yang paling luas. Dimeriahkan lagi dengantawa anak – anak yang berlarian menimbulkan kegaduhannya sendiri.

Semua menikmati malam. Tak terkecuali kelompok remaja dan muda – mudi kasmaran, berombongan bersua dipinggir jalan hingga ke tepi pantai. Menikmati terangnya malam dengan celoteh dan lagu – lagu yang mereka sukai. Suasana itu dirasakan dua atau tiga malam saja dalam sebulan. Walau esoknya beraktivitas seperti biasa, malam itu seperti liburan yang luar biasa.

Lalu terfikir saya, mengapa menghadirkan cahaya bulan plus suara deburan ombak, pasir pantai dan hembusan angin laut tak bisa disulap dalam sebuah ruangan ditengah kota? Atau cahaya bulan dengan suasana perbukitan pepohonan rindang yang rumputnya selalu lembab dengan hawa begitu sejuk sekaligus berkabut tipis? Mengadopsi konsep tersebut untuk resto bernuansa nostalgia, bisa untuk candle light dinner nan romantis atau paket keluarga besar.

Tak hanya dinikmati oleh indera pengecap dan penglihatan semata tentunya. Sensasi ruangannya bisa dirasakan oleh kulit dan telinga. Untuk mewujudkan itu semua, pastilah dibutuhkan “riset” sepenuh hati; dari kreasi atmosfer hingga menebak standar psikis calon konsumen. Penelitian ala pebisnis.

Untuk hal yang lebih luas dan bermanfaat bagi orang banyak, riset adalah ruh. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, riset adalah penyelidikan (penelitian) suatu masalah secara bersistem, kritis, dan ilmiah untuk meningkatkan pengetahuan dan pengertian, mendapatkan fakta baru atau melakukan penafsiran lebih sempurna.

Dari kacamata akademis, penelitian dalam bahasa Inggris disebut Research. Darisinilah dikenal istilah riset dalam bahasa Indonesia. Kata riset kerap digunakan untuk mewakili serangkaian kegiatan atau mengartikan sesuatu yang kurang tepat, sehingga perlu diluruskan terlebih dahulu. Untuk memahami riset, kita perlu tahu apa yang bukan dikategorikan riset karena kerap salah kaprah disini.

Menurut Paul D Leedy dalam Practical Research: Planning and Design a Research (2005), perlu diketahui bahwa research bukan cuma mengumpulkan informasi tentang sesuatu atau beberapa hal. Mengumpulkan info hanya bentuk dari usaha pencarian informasi (information discovery)

Riset juga bukan hanya memindahkan fakta dari satu lokasi ke lokasi lain dengan menghilangkan inti dari riset,intepretasi data. Misalnya seorang dosen membuat tulisan tentang suatu hal yang membutuhkan informasi dari berbagai sumber serta format tertentu. Jika sifatnya hanya mengoleksi data dari berbagai referensi, kemudian menyusunnya menjadi sebuah tulisan tanpa intepretasi data, maka tulisan itu tidak bersifat riset.

Riset juga tak sekadar mencari informasi tertentu secara acak. Misal, kita ingin membeli kendaraan, lalu mencari informasi kendaraan yang setipikal,membandingkanharga, spesifikasi mesin dan model merk lain yang ditawarkan melalui brosur – brosur untuk memilih yang terbaik sesuai anggaran.

Terakhir, riset tak pula sekadar jalan untuk mencari perhatian. Beberapa iklan produk mengemas kata riset untuk menarik perhatian konsumen dan meyakinkan calon pembeli bahwa produk mereka berkualitas tinggi.

Terkait riset, Dirjen Riset dan Pengembangan Kemenritekdikti Muhammad Dimyati menyebutkan salah satu penopang kegiatan riset adalah perguruan tinggi, baik itu negeri maupun swasta. Dirjen berharap agar yayasan atau penyelenggara perguruan tinggi swasta memiliki kepedulian mengucurkan dana riset lebih besar kepada pengelola atau rektorat (jpgroup, 17/9).

Dimyati berharap pola pikir pengelola kampus berubah, jangan beranggapan belanja riset hanya menghabiskan uang. Ganti keyakinan bahwa riset adalah investasi baru. Jika sampai pada tahap inovasi, kampus bisa mendapatkan royalti.

Hal ini mengingatkan saya pada ajang Teknologi Tepat Guna (TTG), simpelnya semacam iven lomba inovasi teknologi mesin ‘kerakyatan’ skala kecil dan menengah yang dibuat oleh usahawan pada level tersebut untuk memudahkan pekerjaannya. Umumnya mesin – mesin pendukung kerja untuk mendongkrak pendapatan rumah tangga. Bisa saja kerjasama dimulai dengan melibatkan mereka yang fokus dalam pengelolaan hasil pangan misalnya. Pengalaman mereka merupakan pelajaran sekaligus pengajaran.

Tahun depan, Dimyati menyebut dana riset yang bersumber dari APBN mencapai 23 trilyun. Dana itu mampu menopang 15 ribu proyek penelitian dan tersebar dibanyak kementerian dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK). Saat ini sedang dibahas ketentuan arah riset nasional dan ada sembilan fokus riset pemerintah, diantaranya bidang energi, pangan, kesehatan dan transportasi publik. Bagaimana dengan kampus – kampus di Provinsi Kepri? Apakah kesulitan ekonomi akan menghambatkaryadan inovasi?

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here