Cepat Dewasa, Melaju Seperti Teknologi

0
386
Erry Syahrial

Ketika Puluhan Anak di Kepri Terjerumus Masalah  

Jumlah anak di Kepri yang bermasalah cukup tinggi. Makin lama, tantangan untuk menjaga anak makin sulit. Bahkan, sikap anak lebih cepat dewasa dari usianya dan melaju secepat kemajuan teknologi informasi.

Tanjungpinang – LAJUNYA perkembangan teknologi tidak dapat dibendung dan harus diterima. Namun, tingkat kedewasaan anak jangan dipaksa sebelum waktunya terutama mengenai seksual.

Mudahnya mengakses internet membuat anak gampang melihat seks namun tidak memahaminya. Sehingga, banyak anak terjerumus. Siswi SMP sudah pacaran dan bahkan ada yang nikah, salah satu penyebab cepatnya pelajar dewasa.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak dan Ibu Daerah (KPAID) Provinsi Kepri, Erry Syahrial mengatakan, kepada anak perlu juga diberi pemahaman tentang seksual baik di sekolah maupun di keluarga.

Sehingga si anak dengan cepat bisa antisipasi diri agar tidak terjerumus dengan perilaku mudahnya menjajakan seks. Jika dibiarkan, kondisi ini akan terus semakin parah.

Sekolah, orangtua maupun pemerintah harus sama-sama mengatasi perilaku anak yang makin banyak menyimpang saat ini. Terlebih di Batam sebagai kota industri yang beragam realitanya.

Di Tanjungpinang, banyak anak terjerumus juga karena teknologi termasuk banyaknya lokasi gelap yang dimanfaatkan untuk pacaran. Untuk itu, perlu peran pemerintah untuk melakukan patroli rutin.

Teknologi, kata dia, membantu si anak mengenal dunia luar. Namun, kebanyakan menggunakannya untuk sisi negatif. Apalagi di dunia maya banyak foto dan video pornografi yang mudah diakses.

Batam, kata dia, dinamika kehidupannya sangat komplek. Di sana multikultur, kota wisata, kota industri, kota wisnus dan kota sibuk. Karena itu, orangtua harus membentengi anaknya dari berbagai kemungkinan buruk.

Masalah anak, bukan hanya pornografi saja di Batam, namun banyak juga bermasalah dengan hukum seperti melakukan kejahatan, narkoba, pencabulan dan lainnya.

Tren banyaknya anak yang bermasalah di Batam tetap tinggi. Karena itu, semua harus sama-sama menjaga ini agar tidak semakin parah ke depan.

”Daerah pulau juga ada kasus cabul. Namun tidak seperti di Batam yang seolah-olah seks itu jadi komersil. Ini sudah parah. Harus keroyokan mengatasi persoalan ini,” ujar Erry kepada Tanjungpinang Pos, Jumat (3/2) kemarin.

Namun, kata dia, orangtua juga perlu memahami bahwa seorang disebut anak jika usianya 18 tahun ke bawah. Dengan usia seperti ini, jiwa mereka belum labil.

Karena itu, segala perbuatan yang menjurus pada hal-hal negatif harus diketahui. Jangan sampai membuat keputusan yang salah karena jiwa mereka belum waktunya untuk menerima itu.

Jika tidak, maka seorang anak akan terjerumus. Misalnya, karena jiwa anak belum stabil, maka mudah dibujuk, dirayu, diiming-imingi. Mereka belum paham risiko yang diterimanya.
Misalnya, seorang anak kenalan di media sosial, kemudian sering komunikasi, dibelikan pulsa, diajak makan, diajak minum, dibawa belanja, diberi uang. Ujung-ujungnya, si anak menjadi korban pencabulan.

”Makanya, dalam pasal-pasal hukuman untuk pelaku disebutkan apabila mengiming-imingi, membujuk rayu dengan menjanjikan sesuatu akan kena pasal. Itu karena anak dianggap belum stabil dan masih mudah terpengaruh,” tambahnya Kadang, anak juga mengalami kekerasan atau pencabulan karena intimidasi, dimanfaatkan sehingga menjadi korban kejahatan. Ada juga yang dijadikan menjadi pelaku kriminal.

Seorang anak bisa menjadi korban apabila kurang perhatian orangtua, kurang pengawasan dan mudah terpengaruh teman, lingkungan serta internet.

Kemiskinan, bukanlah penyebab utama banyaknya anak bermasalah. Jika sudah terjerumus, maka kemiskinan sering dijadikan alasan. Misalnya, mencuri demi uang karena orangtuanya tak mampu.

Karena itu, Erry Syahril mengimbau orangtua agar dengan ketat mengawasi anak, lebih terbuka dengan anak dan jangan biarkan anak lebih banyak curhat kepada orang lain daripada ke orangtuanya.

Tahun 2016, jumlah kasus anak di Kepri sebanyak 54 kasus yakni trafficking 2 kasus, KTA 19 kasus, Hak Anak 9 kasus, Anak Bermasalah Hukum 5 kasus, Anak Perlindungan Anak 14 kasus, Pel Seksual Anak 2, masalah Dalam Pacaran 8 kasus.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here