Cintai Rupiah Ketika Kita di Ambang Krisis

0
216
Rini Pratiwi

Oleh: Rini Pratiwi
Dosen STAI Miftahul Ulum Tanjungpinang

SALAH satu pasangan cawapres menukar dolar miliknya ke rupiah. Pro dan kontra pun melihat kejadian tersebut jadi dua sisi. Bisa untuk pencitraan dan bisa juga sebagai ajakan cintai Rupiah (Rp).

Krisis finansial yang melanda Venezuela, Argentina, Turki mulai terasa di Indonesia. Sehingga isu dollar menjadi salah satu serangan kepada pasangan inkumben yang sedang berkuasa.

Bahkan beberapa negara di tahun ini dilansir The Economist akan mengalami krisis berat seperti Brunei Darussalam, Puerto Riko, Korea Utara dan beberapa negara di Afrika Selatan.

Jadi krisis ini bukan hanya singgah di Indonesia, tapi krisis sekarang berskala besar yang sudah terbukti memporak-porandakan negara seperti Venezuela.

Penggorengan isu rupiah yang melamah bisa menjadi masalah tersendiri karena satu sisi menjadi nilai positif terhadap capres penantang.

Dan isu tersebut menjadi kelemahan petahana yang bisa menggerus dukungan kaum emak emak efek kenaikan dollar terhadap rupiah bisa meningkatkan inflasi sehingga harga barang bisa naik dalam waktu cepat.

Untungnya pemerintah masih sigap mengendalikan inflasi di kisaran 3 persen lebih. Harga barang tetap stabil. Bahkan harga kopi hitam masih Rp4.000.

Kemudian, dari sisi ketahanan perekonomian, isu dollar yang dimainkan akan menambah daya saing ekonomi Indonesia. Investasi asing akan keluar membawa dollarnya ke negara yang dianggap stabil.

Dan itu akan menyebabkan rupiah semakin tertekan. Kebijakan Bank Central AS The Fed menaikkan suku bunga mereka menambah dollar semakian menguat karena dolar keluar dari negara berkembang menuju Paman Sam.

Apalagi pertumbuhan ekonomi AS di bawah kendali Presiden Trump tumbuh di kisaran 4 persen. Artinya kepercayaan dunia investasi ke AS sangat kuat.

Padahal kita harus menjaga kepercayaan publik melalui isu yang berseliweran di dunia maya agar mereka tetap tertarik investasi di Indonesia. Apakah melalui investasi langsung ke industri ataupun ke pasar modal.

Kalau kita bandingkan dengan perekonomian Indonesia tahun 1998 ketika Indonesia mengalami krisis berat, dengan situasi ekonomi saat ini, maka kondisi sekarang jauh lebih baik dan tahan.

Coba kita lihat perbandingan yang disampaikan oleh Deputi II Staf Kepresidenan Yanuar Nugroho.
1. Rupiah 1998 vs 2018 September 1997.
Rupiah berada pada Rp3.030 per USD, sementara September 1998 Rp 10.725 per USD. Sedangkan September 2017 Rp13.345 per USD dan September 2018 Rp15.000 per USD.
2. Cadangan Devisa
Selain itu untuk perbandingan cadangan devisa yang dimiliki antara tahun 1998 dengan 2018 sangat berbeda jauh.
Di mana cadangan devisa 1998 senilai USD 23,61 miliar sedangkan saat ini 2018, cadangan devisa mencapai USD 118,3 miliar. Kemudian net capital inflow atau arus modal bersih pada tahun 1998 triwulan II hanya USD 2,470 miliar. Sementara tahun 2018 pada periode yang sama mencapai USD 4,015 miliar.
3. Pertumbuhan Ekonomi Selanjutnya.
Yang terpenting mengenai pertumbuhan ekonomi. Pada 2018 pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan positif di mana triwulan II tahun ini 5,27 persen.
Sedangkan di tahun 1998 periode yang sama, -13,34 persen. Inflasi pada 2018 juga jauh lebih baik dibandingkan dengan 1998. Agustus 1998 inflasi 78,2 persen, sementara periode sama 2018 berada di 3,2 persen.
Kemudian data dari Spectator Index, menyimpulkan krisis penurunan mata uang negara asing karena jauh terdegradasi. Misalnya Venezuela mata uang mereka melemah -2.500.000 persen. Akibatnya 2 juta warganya pindah ke negara lain.
Argentina melemah -120, persen dari dolar US. Turki melemah hingga -92 persen, Brazil -33 persen, Russia -19 persen, India minus 12 persen. Sementara Indonesia hanya pelemahan 12 persen tidak minus.

Dengan kekuatan ekonomi saat ini, seharusnya Indonesia masih stabil dalam menghadapi keganasan dollar AS yang menyebabkan beberapa negara di Amerika Latin dan Turki mengalami krisis ekonomi.

Hanya saja, Indonesia berada di tahun politik yang bisa menyebabkan perperangan isu negatif menyebabkan invetasi yang menjadi andalan untuk menarik deviasi akan terhambat jika tidak dikelola dengan baik.

Karena dengan masuknya investasi langsung akan membuka lapangan pekerjaan baru bagi rakyat Indonesia. Apalagi produk dihasilkan dari investasi itu untuk tujuan ekspor. Sehingga Indonesia akan mendapatkan devisa.

Karena devisit perdagangan luar negeri menyebabkan Indonesia harus menambah produksi yang orientasi ekspor. Defisit perdagangan kita masih 2 persen lebih dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Karena impor kita dibandingkan ekspor mengalami devisit. Untuk itu, pemerintah melakukan kebijakan singkat dengan menaikkan tarif impor beberapa barang mewah guna mengurangi defisit dan keluarnya dollar ke berlebihan ke luar untuk membayar impor.

Memang agak terasa bagi importir yang memiliki utang dalam bentuk dolar karena tagihan mereka akan bertambah. Sedangkan eskportir Indonesia akan meraup keuntungan dari penjualan ke mata uang asing.

Bahkan Cina sengaja menurunkan mata uang mereka agar barang Cina di pasar Amerika maupun Eropa murah dibandingkan dengan barang dari negara lain. Akhirnya Cina merajai produk produk konsumtif yang tentunya menambah kuat perekonomian negara itu.

Indonesia bisa bertahan melalui kebijakan menambah kunjungan wisata asing yang membawa mata uang asing ke Indonesia secara langsung. Target kunjungan wisman 17 juta orang harus dikejar maksimum.

Kepri salah satu pintu masuk wisman harus maksimal dari sektor ini. Perbaiki infrastruktur yang mendukung pariwisata sehingga Kepri menjadi lebih menarik.

Wisata ke Kepri dinilai Wisman murah dibandingkan dengan negara lain karena nilai mata uang kita yang rendah. Sektor ini juga cara praktis menggerakkan sektor UMKM dan menyerap tenaga kerja.

Lalu, sektor yang potensial di Kepri sangat membantu perekonomian Indonesia adalah ekspor migas dan barang produksinya. Batam, Bintan dan Karimun serta Tanjungpinang sebagai kawasan khusus (kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas) harusnya maksimal memanfaatkan status khusus tersebut.

Banyaknya insentif di kawasan tersebut harusnya bisa menambah daya saing untuk mendapatkan investasi asing di sektor produksi.

Kita harus yakin kepada pemerintah dengan Menteri Keuangan sekelas Sri Mulyani membawa Indonesia bertahan dari gempuran krisis dan perang dagang antara Cina dengan Amerika.

Kita dukung pemerintah menyelesaikan persoalan ekonomi dengan paket paket ekonomi untuk memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia dari ancaman krisis moneter.

Tentu sebagai rakyat kita tidak menyebarkan berita berita ekonomi yang tidak jelas sumbernya atau fakenews apalagi yang bersifat hoak.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here