Curi Perahu, Tekong Vietnam Tinggalkan Natuna

0
491
TIDUR: Para ABK asing tidur di lantai Kantor Kejaksaan karena tidak memiliki fasilitas Rudenim. F-HARDIANSYAH/TANJUNGPINANG POS

NATUNA – KEJAKSAAN Negeri (Kejari) Natuna masih mengejar empat terdakwa kasus illegal fishing yang melarikan diri, Kamis (20/7) lalu. Dugaan sementara, empat nakhoda kapal ikan berkewarganegaraan Vietnam tersebut sudah meninggalkan Natuna menggunakan perahu nelayan. Sebab, salah satu nelayan asal Batu Hitam, Kelurahan Ranai mengaku kehilangan perahunya yang ditambatkan di dermaga Batu Hitam.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Natuna Efrianto melalui Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Natuna, Waher Tarihoran mengatakan, pihaknya akan menyisir hingga laut utara persisnya ke arah Pulau Laut dengan dukungan kapal cepat milik TNI AL. ”Sejak Jumat (21/7) siang kita sudah sempat menyisir, karena cuaca ekstrem kami kembali ke pelabuhan,” ujar Waher, kemarin.

Pengejaran itu berdasarkan laporan seorang nelayan Batu Hitam yang bernama Usman, yang telah kehilangan pompong miliknya di dermaga Batu Hitam. Terkait kejadian ini, Waher mengaku sudah berkoordinasi dengan seluruh Pos TNI AL (Posal) yang ada di sejumlah kecamatan terutama Posal di Pulau Laut. ”Selain TNI AL, kita juga meminta dukungan dari para nelayan di Pulau Bunguran,” paparnya.

Saat ini, untuk terdakwa yang sedang ditangani Kejaksaan sebelumnya ada 33 terdakwa sekarang tinggal 29 terdakwa. Dan dengan kejadian ini, pihaknya lebih ketat mengawasi gerak terdakwa di rumah tinggal di Kantor Kejari Natuna. ”Pastinya kita akan lebih perketat lagi pengawasannya. Kejadian ini salah satu bukti bahwa keberadaan Rudenim di Natuna sangat penting,” tutupnya.

Kini pencarian empat terdakwa yakni Nguyen Thanh Hung, Ham Van Hung, Phan Be, Nguyen Van Tien belum membuahkan hasil. Efrianto merayakan HUT Adhyaksa ke-57 di Komplek Kejari Natuna menjelaskan, kaburnya terdakwa dari rumah penampungan Kejari Natuna tidak lepas dari kurangnya kewenangan aparat keamanan atas WNA yang tersangkut illegal fiahing.

Selain itu, jumlah personel sangat minim dan hanya berjumlah 13 orang. ”berdasarkan aturan, aparat penegak hukum (TNI AL, Polri dan Kejaksaan) tidak diperkenankan menahan tersangka dan terdakwa asing dengan kasus illegal fishing. Mereka hanya bisa ditampung,” jelas Efrianto.

Kondisi ini diperparah dengan sarana penampungan yang sama sekali tidak layak untuk menampungan terdakwa. Rumah penampungan hanya berupa pondok kecil dan terbuka, dan kini sudah over kapasitas. Dengan kondisi itu, terdakwa terkadang sering tidur berjejer di lantai teras kantor Kejari. ”Tidak layaknya rumah penampungan membuat tahanan WNA itu gampang sekali kabur, dan mereka tidak boleh ditahan dalam sel, mereka hanya boleh ditampung. Sementara kita harus menjaganya, dan personel kejaksaan hanya 13 orang saja,” ungkapnya.

Namun begitu, ia berjanji akan memaksimalkan pengawasan terhadap terdakwa WNA ke depannya. ”Mereka yang kabur, kita tetap cari. Mereka harus kita temukan, karena mereka harus menjalani sidang,” katanya.(HARDIANSYAH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here