Dampak Penyalahgunaan Narkotika pada Kesehatan Masyarakat

0
1455
Catur Hadiyanto

Oleh : Catur Hadiyanto, S.KM
Penyuluh Narkoba  BNN Kota Tanjungpinang

Konsep penjualan narkotika dapat diibaratkan seperti konsep MLM (Multi Level Marketing). Pengedar narkotika berharap dapat menciptakan jaringan pemasaran narkotika yang semakin luas hanya dengan mengawali penjualan narkotika pada sedikit orang.
Penyalahgunaan narkotika oleh masyarakat berawal dari penawaran narkotika dari bandar. Awalnya calon pembeli mendapat narkotika secara cuma-cuma. Tetapi setelah mereka merasa ketergantungan, maka pengedar atau bandar mulai menjualnya dengan harga yang tinggi. Sifat narkoba yang adiktif memaksa pecandu harus mengkonsumsi narkobasecara terus-menerus dan dalam dosis yang semakin meningkat.

Adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan untuk mengkonsumsi narkoba dengan kemampuan finansial untuk membeli narkoba yang harganya mahal memaksa para pecandu untuk ikut ”memasarkan” narkoba kepada calon pembeli lainnya. Sehingga keuntungan yang diperolehnya dapat untuk membeli narkoba untuk dia pakai sendiri. Lingkaran setan jual-pakai narkoba ini akan berkembang seterusnya seperti jaring laba-laba yang semakin membesar.

Sebenarnya narkotika itu obat legal yang digunakan dalam dunia kedokteran. Dalam undang-undang No.35 Tahun 2009 tentang narkotika, disebutkan bahwa narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintesis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Menurut definisi diatas, jelaslah bahwa narkotika, jika disalahgunakan sangat membahayakan bagi kesehatan fisik dan mental manusia. Bahkan pada pemakaian dengan dosis berlebih atau yang dikenal dengan istilah over dosis (OD) bisa mengakibatkan kematian. Yang harus digaris bawahi disini adalah penyalahgunaan narkotika (drugs abuse). Artinyanarkotika dikonsumsi secara non medical atau ilegal atau tanpa petunjuk medis sehingga dapat merusak kesehatan dan kehidupan yang produktif manusia pemakainya.

Bila seseorang menggunakan narkotika tanpa ada pengawasan dari dokter akan sangat membahayakan si pengguna karena umumnya narkotika mengandung zat-zat beracun yang bisa menyebabkan pengguna narkotika akan selalu ketergantungan atau kecanduan terhadap zat-zat tersebut.

Merusak organ-organ tubuh, mempengaruhi berkurangnya daya pikir seseorang atau membuat pikiran menjadi tidak rasional dan kerusakan otak secara permanen. Akibat yang lebih mengerikan lagi adalah berujung pada kematian. Namun sayang sekali, walaupun sudah tau zat tersebut sangat berbahaya, narkoba masih banyak digemari.

Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang dikalangan masyarakat dewasa ini kian meningkat. Berdasarkan hasil penelitian BNN RI bekerjasama dengan Puslitkes UI pada Tahun 2015 yang lalu,prevalensi penyalahgunaan narkoba pada populasi usia 10 sampai dengan 59 tahun (186.380.400 jiwa) didapati ada 2,20% (4.098.029 jiwa) masyarakat Indonesia yang menyalahgunakan narkoba. Sedangkan untuk angka Nasional, Provinsi Kepri menduduki peringkat 4 dengan prevalensi 2,74% pada populasi usia 10 sampai dengan 59 tahun (1.466.700 jiwa) setara dengan 40.205 jiwa yang menyalahgunakan narkoba. Bila narkotika digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran yang telah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan.

Kecanduan inilah yang akan mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis, karena terjadinya kerusakan pada sistem syaraf pusat (SSP) dan organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal. Dampak fisik dan psikis berhubungan erat. Ketergantungan fisik akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa (sakaw) bila terjadi putus obat (tidak mengkonsumsi obat/zat pada waktunya) dan dorongan psikologis berupa keinginan sangat kuat untuk mengkonsumsi (biasa disebut sugest). Gejala fisik dan psikologis ini juga berkaitan dengan gejala sosial seperti dorongan untuk berbohong, mencuri, pemarah, manipulatif dan lain-lain.

Lantas apa yang harus kita lakukan untuk tidak menyalahgunakan narkotika ?Masih banyak yang bisa kita lakukan untuk mencegah masyarakat menyalahgunakan narkotika dan membantu untuk tidak terjerumus penyalahgunaan narkotika. Ada tiga tingkat intervensi dalam mencegah penyalahgunaan narkotika yaitu : 1). Primer, sebelum penyalahgunaan terjadi, biasanya dalam bentuk pendidikan, penyebaran informasi mengenai bahaya narkotika, dan lain-lain.

Kegiatan ini lebih ditekankan pada intervensi seputar pemberian informasi melalui berbagai bentuk materi yang ditujukan kepada masyarakat, baik melalui penyuluhan langsung tatap muka dengan pola KIE maupun melalui media elektronik dan non elektronik;
2).Sekunder, pada saat penggunaan sudah terjadi dan diperlukan upaya penyembuhan (treatment). Fase ini meliputi : Fase penerimaan awal (initialintake) antara 1-3 hari dengan melakukan pemeriksaan fisik dan mental, dan Fase detoksifikasi dan terapi komplikasi medik, antara 1-3 minggu untuk melakukan pengurangan ketergantungan bahan-bahan adiktif secara bertahap;
3).Tertier, yaitu upaya untuk merehabilitasi mereka yang sudah memakai dan dalam proses penyembuhan. Tahap ini biasanya terdiri dari fase stabilisasi, antara 3-12 bulan, untuk mempersiapkan pengguna kembali ke masyarakat, agar mantan penyalahguna narkotika mampu mengembangkan kehidupan yang bermakna dimasyarakat. Tahap ini biasanya berupa kegiatan konseling, membuat kelompok-kelompok dukungan, mengembangkan kegiatan alternatif dan sebagainya.

Upaya pencegahan terhadap penyalah gunaan narkotika sudah menjadi tanggung jawab bersamaseluruh komponen bangsa, karenajelaspenyalahgunaan narkotika merupakan musuh bersama. Upaya melawan penyalahgunaan narkotika adalah agenda bersama, partisipasimasyarakat. Perlu diketahui bahwa penggunaan narkotika hanya di peruntukkan dibidang kedokteran dan harus dalam pengawasan dokter, dan juga digunakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Sedangkan bagi masyarakat yang tidak memiliki hak, maka menggunakan narkotika dapat menimbulkan akibat atau risiko, baik secara hukum, medis maupun psikososial. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here