Darurat Air, SWRO Harus Dioperasikan

0
765
Riono, Heru Sukmoro, Rudi Chua dan utusan dari Kejati saat minum air hasil produksi SWRO.f-istimewa

TANJUNGPINANG – Untuk mengatasi persoalan kesulitan air yang dialami masyarakat saat ini, salah satunya adalah dengan mengoperasionalkan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Batu Hitam.

Anggota DPRD Tanjungpinang, Reni menyarankan, SWRO harus beroperasi untuk menolong warga yang semakin kesulitan mendapatkan air bersih.

Dalam dua bulan terakhir ini, kata dia, banyak warga Tanjungpinang mengeluh kesulitan air lantaran musim kemarau. Sumber air warga seperti sumur dan PDAM sudah tidak maksimal.

Bahkan ada pelanggan PDAM Tirta Kepri yang tidak bisa dilayani sejak Waduk Gesek tak beroperasi 10 hari lalu. Bagi warga yang mengandalkan sumber air sumur pun sudah mulai mengering.

Untuk itu, meski tidak ada alokasi anggaran khusus untuk SWRO, namun bisa menggunakan pos dana darurat. Ini menjadi salah satu sumber di luar hal lainnya yang nantinya diupayakan.

Baca Juga :  Ada Karaoke Buka hingga Pagi

Untuk diketahui, Pemko Tanjungpinang melalui Dinas PUPR Tanjungpinang tidak mengalokasikan anggaran operasional SWRO 2019 ini.

”Kita tahu sudah beberapa bulan ini SWRO tidak dioeprasionalkan karena tidak ada alokasi anggaran. Tetapi kondisi sekarang sudah darurat. Hampir seluruh warga mengeluh. Jadi wajar pemerintah membantu melalui dana darurat yang disediakan,” ujarnya kepada Tanjungpinang Pos, Rabu (20/3).

Dituturkannya, krisis air di Tanjungpinang sudah masuk kategori darurat bila hujan tidak turun dalam seminggu ke depan. Pemko harus sudah memiliki trik atau solusi membantu warga.

Dituturkannya, bagi rumah warga yang sudah memiliki sambungan bisa langsung disalurkan. Sedangkan bagi penduduk lainnya, khususnya kawasan Batu 2 sampai ke Batu 16 bisa menggunakan tanki milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tanjungpinang.

Baca Juga :  Lanud RHF Santuni Anak Yatim Piatu

”Kami akan sarankan ini ke pemerintah, mudah-mudahan didengar demi kepentingan warga,” ucapnya.

Dituturkannya, menghidupkan SWRO lebih baik bila dibandikan membiarkan warga mencari sumber air sendiri. Khawatir air yang dibeli warga nantinya tidak layak konsumsi.

Ini juga akan berdampak kepada kesehatan serta kenyamanan warga. Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan pemerintah perlu mencarikan solusinya.

Sesuai hasil komunikasi sebelumnya, anggaran pengadaan obat-obat SWRO tersebut diperkirakan sekitar Rp150 juta. Obat yang diperlukan ada tiga jenis yang artinya harganya berkisar Rp50 juta per jenis.

Salah satu warga Tanjungunggat RT5/6, Kelurahan Tanjungunggat, Dewi kepada Tanjungpinang Pos, mengeluhkan susah mendapatkan air bersih.

Baca Juga :  Krisis Air Mulai Melanda

Sumber air dari sumur bor yang biasa digunakan warga kini kualitasnya tidak bagus. Air tersebut tidak bisa untuk diminum sebab warnanya tidak bening.

Ia meminta Pemko Tanjungpinang bisa merespon dan segera mengoperasionalkan SWRO. Meskipun Dewi menuturkan, air SWRO biasa juga tidak bisa untuk diminum sebab kurang jernih.

Hanya saja sudah membantu untuk kebutuhan sehari-sehari. Seperti mandi, mencuci pakaian dan lainnya.

”Kami hanya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Kondisi airnya memang tidak berbau, tidak asin maupun payau tapi tidak begitu putih bersih jadi tak berani minum langsung,” ucapnya. (dlp)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here