Dekker & Devira

0
116
Devira Ilhah

AKU tahu, semula tidak pernah kausangka bahwa sosok utama di balik buku bersampul marun di tanganmu itu adalah nama yang sudah akrab di telingamu. Tapi bukan sebagai Max Havelaar atau Multatuli. Tapi, Tuan Dekker.

“Maksudnya, Douwes Dekker?” tanyamu.

Siapa lagi Dekker pesohor yang sama terngiang ke telinga kita lewat buku-buku sejarah di sekolah.

Nama lengkapnya adalah Eduard Douwes Dekker (1820 – 1887). Seorang Belanda yang mendapat tempat terhormat dalam skena perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Keprihatinannya akan kelangsungan nasib dan pendidikan pribumi kala itu mempertemukannya dengan Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara yang kemudian menuju pada pendirian sebuah organisasi Indische Partij.

Pengabdian selama 18 tahun sebagai asisten residen di Lebak bukan sesuatu yang penting-penting amat bagi Dekker. Justru, ia menebus kesalahan bangsanya melalui gugatan novel biopik yang sedang ada dalam tanganmu itu, Devira.

“Max ini kisah seorang Dekker?” kejarmu.

Iya. Sebuah novel yang, kata Pramoedya Ananta Toer kepada New York Times, berhasil membunuh kolonialisme di Hindia Belanda.

Terbit pertama kali pada tahun 1860 di Belanda, buku Max Havelaar ini menggegerkan negeri itu. Kisah-kisah kejamnya kolonial seolah terbongkar dengan diterbitkannya buku ini. Kebenaran dari isi cerita di buku ini pun tak pernah diperdebatkan. Douwes Dekker sendiri menantang pemerintah Belanda untuk membuktikan kekeliruan kisah dalam bukunya.

Dari sini, kita sama tahu Devira, bahwasanya perlawanan juga bisa diwujudkan lewat goresan pena. Angkat senjata tentu jadi pilihan lain. Namun, lewat sebuah karya, kita jadi tahu arti nirbatas bekerja untuk keabadian.

“Saya pikir harus menulis kisah saya sendiri juga. Siapa tahu itu bentuk perlawanan yang lain,” katamu.***

Nama : Devira Ilhah
TTL : Tanjungpinang, 22 April 2001
Alamat : Jalan Tg. Uban Km. 40 Kangboi
Sekolah : SMA Negeri 1 Teluk Bintan
Instagram : dvrailha22
Hobi : Membaca, Jalan-jalan
Buku Bacaan : Max Havelaar Karya Multatuli

Foto : Yandi Oi
Narasi : Fatih Muftih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here