Demi Apapun di Bilik Suara, Pentingkah?

0
464
Mohammad Endy Febri SE, MH

Oleh: Mohammad Endy Febri
Warga Tanjungpinang

Kerap terjadi perbedaan pandangan menyikapi sebuah peristiwa atau gagasan dan itu biasa. Tak penting bagi kelompok satunya, tapi maha penting bagi kelompok lain. Misal, baru – baru ini “Kapal PELNI”, kapal plat merah yang bertonase cukup besar bila dibanding kapal kayu para saudagar dipulau, sudah dapat merapat di dermaga Pulau Midai dan Letung, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Peristiwa yang seolah sederhana itu, merupakan hal luar biasa bagi penduduk tempatan.

Tapi, bagi yang tak pernah bersentuhan dengan dinamika itu, membaca judul berita tersebut dilayar ponsel, takkan membuat mata berhenti beberapa jenak, walau sama-sama warga Kepri sekalipun.

Selama puluhan tahun, Kapal PELNI atau Kapal Perintis, begitu dulunya disebut, hanya parkir dilaut depan pulau. Berhenti dua atau tiga jam untuk menurun – naikkan penumpang. Dari darat, pompong atau kapal kayu bertenaga mesin berdaya tampung sepuluh sampai tigapuluh orang akan menghampiri, merebut rezeki sekaligus menyelesaikan seluruh proses transit dan transfer itu.

Dalam alunan gelombang, momentum meloncat dari badan pompong ke tangga kapal cukup mengkhawatirkan. Terlebih bagi dara, ibu dan anak – anak. Bayangkan bila kapal ngetem dimusim tertentu, musim angin bertiup kencang. Resikonya berlipat. Wajar rasanya peristiwa bersandar perdana di pelabuhan mendapat rating tinggi dari warga.

Ada juga pemikiran lain yang mungkin menurut subjektif saya, penting direnungkan buat saya pribadi, tidak sama sekali untuk siapapun. Misal, pemikiran tentang “daya awet” kehidupan. Tak jarang saya berfikir; mengapa secara umum, daya pembusukan antar “golongan” makhluk hidup berbeda. Jasad manusia dan hewan cukup cepat mengundang pemangsa kecil berpesta mengurai kulit dan isinya, sedangkan tumbuhan layu tidak.

Sebab itu buah bisa diperam. Sebab itulah pula tumbuhan bisa lebih lama bertahan sebelum menjadi santapan. Apa karena mereka tak ada darah? Walaupun Tuhan menciptakan sesuatu yang bernyawa pasti sama – sama memiliki sistem kerja yang sama untuk terus hidup dan tumbuh sesuai kadarnya. Hanya wadah saja yang berbeda. Entahlah, tak penting mungkin bagi orang lain.

Begitu pula dengan pemilihan anggota legislatif, kepala daerah, bahkan pemilihan presiden. Tiap pemilih pasti memiliki kesimpulan lalu jawaban untuk para calon itu. Penting bagi seluruh warganegara untuk terlibat langsung peristiwa itu, agar terpilih sosok terbaik bagi negeri, minimal sesuai standar pemilih dan memuaskan hati mereka. Terlebih, bagi yang merasa akan mendapat ganjaran jika calon yang diusungnya menang. Lumrah, karena penyatu terbaik adalah kepentingan.

Bisa jadi kehidupan berdemokrasi adalah kehidupan yang maha penting. Lalu, fair play dan sportif juga turut berperan penting. Tapi, tak berarti juga menjadi jago debat yang penting menang menjadi krusial. Tak sedikit yang muak melihat perseteruan panjang nan kasar di media sosial oleh barisan pendukung setia.

Situasi berdiam diri diruang sosial juga wujud dari sebuah pilihan. Tempat itu bebas diisi pelakon dan karakter apapun selama tak merusak adab dan tatanan yang disepakati. Banyak penggiat demokrasi merasa hal tersebut adalah cara yang biasa; bersitegang tanpa santun, menyindir nyinyir, menjelekkan atau mencibir asal tak tergelincir pasal hukum, sah – sah saja. Tapi, saat diladeni atau ditimpali oleh pemain watak tertentu akan berujung melelahkan bagi kesehatan demokrasi itu sendiri. Susah bagi kita semua menjadi dewasa di arena dan area itu.

Tipikal individu – individu yang malas membaca perseteruan dan enggan berkomentar untuk sekadar memuji, menyangkal atau menghujat merupakan sisi lain dari sebuah koin tertutup yang tak pernah terdeteksi. Misterius. Kemudian, lahirlah tim malas layan. Dan jumlah mereka sangat banyak, hemat saya.

Malas dan layan merupakan padanan kata yang cukup sering disandingkan oleh orang Kepri. Menunjukkan identitas yang tak mau ambil peduli. Dalam media sosial, kelompok malas layan adalah kumpulan kedua setelah maqamnya para pemuja atau penghujat terbuka menurut saya. Entah karena profesi ataupun karakter pemilih yang membuat keberadaan tim misterius ini juga harus diperhitungkan dalam pemenangan.

Menyangkut itu semua, dalam bab nilai – nilai luhur yang menjiwai anak berkarakter di buku Pendidikan Karakter karya Profesor Maswardi Muhammad Amin; ia mengutip perkataan Umar bin Al-Khattab dari kitab Al-Ghunyah, “beradablah kalian, setelah itu baru belajar.” Profesor juga menjelaskan beberapa sifat yang harus ditanamkan untuk membentuk anak yang berkarakter dalam perilaku, misalnya: menghormati orangtua, toleransi sesama teman, rukun dan damai dalam pergaulan serta tidak mengganggu teman lain.

Membaca itu, haruskah proses demokrasi yang kita agungkan berbungkus kebebasan dan keterbukaan ini, mengubah cara pandang anak – anak kita terhadap kata kebaikan dan persaudaraan?

Apakah tuduhan terstruktur, fitnah sistematik atau prasangka jahat yang diorganisir lalu menimbulkan hujatan massal sebanding dengan menggadaikan jiwa anak-anak kita menjadi buta simpatinya dan tumbuh jadi pengumpat hebat karena begitu dahsyatnya satu suara? Semoga perkara ini penting bagi kita semua.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here