Depresi dan Dehumanisasi di Balik Potret Idola Kekinian Ala Korea

0
494
Istiqomah, S.Pi

Oleh : Istiqomah, S.Pi
Aktivis BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus) Tanjungpinang

Akhir tahun lalu, segenap dunia hiburan Korea berduka atas tewasnya artis papan atas Jonghyun vokalis ‘SHINee’. Kronologis kematiannya menarik perhatian dunia. Pasalnya kematian idola remaja ini ditemukan tewas secara tiba-tibadekat apartemennya pada hari Senin (18/12), diduga penyebab kematian Jonghyun karena sengaja menghirup karbon monoksida. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Jonghyun meninggalkan pesan melalui sebuah tulisan dan mengungkapkan nada penyesalan yang amat sebagai seseorang yang dikenal dunia, pesan singkat ituditujukan untuk para fans setianya. Didalam isi surat tersebut Jonghyun mengutarakan perasaannya selama ini, isi suratnya berbunyi:

“Diri saya hancur dari dalam. Depresi perlahan menggiring saya dan telah melahap saya. Saya tidak dapat mengatasinya,” tulis Jonghyun. “Saya telah kerja keras. Bahkan bila kalian tidak tersenyum saat saya pergi, tolong jangan salahkan saya,” kata Jonghyun. Miris, idola kebanggaan para remaja ini mengalami depresi berat justru disaat karirnya cemerlang, Jonghyun pemuda asal Korea Selatan dikenal sebagai dancer, penulis lagu sekaligus penyanyi.

Komoditas industri hiburan Korea cukup menonjol dikalangan remaja apalagi kalau membahas tentang film dan lagu. Style dan budaya mereka (Korea), menjadi bagian yang tak terpisahkan dikalangan kehidupan para remajatrend masa kini. Keuntungan yang diraup dari industri hiburan K-Pop asal Korea Selatan dapat mencapai 4,7 miliar US$ pada tahun lalu atau setara dengan 63,45 triliun rupiah, sumber ini dikutip dari The Korea Creative Content Agency (KOCCA) sebagai lembaga pemerintahan. Pendapatan di peroleh dari penjualan CD, tiket konser, streaming music, barang dagangan dan layanan terkait sejak 2013 lalu.

Perkembangan industri hiburan K-POP tumbuh pesat seiring dengan iming-iming yang cukup menggiurkan dari kalangan agen industri. Tuntutan yang mengerikan dari pihak agen dan penggemar membuat idola harus tampil prima dan sempurna. Bahkan kehidupan mereka didikte sedemikian rupa oleh pihak Agen untuk memenuhi tuntutan hiburan, sehingga muncul perbudakan kontrak kerja yang tak manusiawi dan membuat depresi sang idola. Kejadian terus berlangsung selama bertahun-tahun dimulai dari masih debut sampai pujaan. Menurut Dorothy Advincula, Asisten Editor di situs berita hiburan Kpopstarz, menyebut hal ini sebagai ekonomi kelangkaan untuk menjaga keteneran dan mengembangkan bisnis para agen industri hiburan Korea.

Keuntungan yang lebih besar banyak mengalir pada pihak agen, sementara sang idola seringkali tidak mendapatkan kompensasi yang semestinya. Belum lagi ditemukan cara-cara kotor dari pihak agen dengan pemaksaan untuk operasi plastik dan bahkan tindakan pelecehan seksual kepada artis mereka, menurut Lembaga Fair Trade Commission menyelidiki 20 agensi hiburan menemukan 200 kasus selebritis terjebak dalam kontrak kerja perbudakan. Belum lagi segala aktivitas mereka dalam menjalani kesehariannya seperti makan, fashion, segala hal pribadi baik ponsel dan waktu istirahatnya pun juga diatur untuk menunjang kualitas saat tampil dilayar kaca. Rata-rata artis Korea memiliki waktu istirahat kurang dari lima jam semalam,menurut Korea times saat mereka merilis album baru setidaknya membutuhkan seluruh waktu mereka untuk menyenangkan hati penggemarnya. Penelitian oleh Park Jin-hee memaparkan 4 dari 10 artis Korea menderita depresi berat dan telah membeli alat untuk bunuh diri. Jin hee mewawancarai sebanyak 260 artis dari pendapatan terendah hingga tertinggi, hasilnya 40 % mengalami depresi.

Keberhasilan artis Korea tidak terlepas dari fans yang setiap waktu selalu menguntit kehidupan idola mereka. Prilaku paparazzi para fans fanatik (sasaeng fans) sering kali melakukan hal ekstrem untuk memantau kehidupan idolanya. Misalnya saja saat idola sedang kasmaran dengan wanita sesama profesinya, disaat itu juga fans ini tak ragu melakukan aksi bullyinghabis-habisan, tak rela siapapun mendekati sang idola pujaan. Nyaris 24 jam penuh kehidupan artis K-POP seperti diawasi kamera CCTV. Artinya segala hal yang sifatnya pribadipun dapat dipertontonkan ke hal layak ramai dan menjadi konsumsi publik. Dampak dari hingar bingar keartisan ala K-POP stars sanjungan idola anak-anak kekinian (kids jaman now red.) berakhir tak seindah pada aksi drama yang sering mereka lakonkan.

Inikah hal yang kita banggakan, wahai pemuda? Merubah rupa untuk mendapat kebahagiaan semu, diraih dengan melukis strory board, dikemas dalam film dan lagu berisi adegan percintaan yang indah tanpa masalah.Potret idola masa kini yang mengarah pada dehumanisasi dan berakhir pada kisah pilu penuh tekanan dan depresi. Kesempatan semacam ini tidak akan pernah mendapat ruang dalam ciri peradaban mulia islam rahmatan lil alamin. Anda, saya dan semua generasi muda selalu dipertontonkan budaya yang hedonis serta konsumtif atau bahkan menjadi korban dalam pergaulan bebas peradaban buatan manusia kapitalis sekuler. Maka tidak heran, jika kehidupan ini penuh dengan sandiwara, terlihat anggun depan layar kaca, namun rapuh dari dalam.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS Al-Ankabut 64)

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, tetapi mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (Q.S. Ali Imran: 169).

Untuk itu bagi kita pemuda islam, letak idola yang sesungguhnya adalah mereka yang mencontohkan prilaku suri tauladan menuju kehidupan Akhirat. Ciri itu didapatkan dari orang-orang beriman yang menyemai kebaikan kepenjuru alam. Bagi orang beriman dunia yang sementara ini hanyalah tempat untuk taat. Ujian seberat apapun, masalah sepelik apapun dan tantangan sebesar apapun adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dunia sebentar, sementara dan sekejap. Kehidupan akhirat itu selamanya. Maka, jangan sampai kita mengorbankan kehidupan yang abadi untuk kehidupan yang sebentar saja.

Berbagai potret idola masakini yang kosong dengan ilmu,kelak jika kita jelaskan Alan Turing atau Andrea Hirata pada generasi selanjutnya, khawatir mereka malah mengira sebagai artis Korea. Kehidupan dengan landasan sistem buatan manusia nyaris tak pernah terdengar idola layaknya Sholahuddin Al Ayyubi, Muhammad Alfatih, Maryam Al-sturlabi Abu Al Qasim Al Zahrawi. Mereka hidup dimasa saat kegemilngan islam berjaya dan mereka itu asing bagi pemuda untuk masa kini. Sesungguhnya jika kita mengambil Islam sebagai panduan, ia layaknya bintang dan rembulan, yang bisa menerangi kegelapan malam dengan kemilau cahayanya. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here