Dewan Minta Gubernur Reshuffle Kepala OPD

0
796
PARIPURNA: Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak didampingi Sekdaprov menerima berkas juru bicara fraksi saat pandangan rancangan KUAPPAS 2018 di Dompak, kemarin. f-suhardi/tanjungpinang pos

DOMPAK – Tugas berat dihadapi jajaran Pemerintah Provinsi Kepri dalam menyusun Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2018 nanti. Nota keuangan yang dibacakan Gubernur Kepri Nurdin Basirun dikritik mayoritas fraksi DPRD Kepri.

Tak hanya mengkritisi, rencana prestisius Gubernur membuat proyek Gurindam 12 di Tanjungpinang yang penganggarannya menggunakan skema multiyears ditolak Fraksi PKS-PPP.

”Terkait proyek multiyears yang menelan anggaran Rp 530 miliar, PKS-PPP meminta untuk menunda atau tidak dianggarkan,” kata juru bicara PKS-PPP Suryani saat paripurna DPRD Kepri, Selasa (21/11).

Penolakan ini bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah keuangan Pemerintah Provinsi Kepri yang saat ini masih rendah. Proyek multiyears, dikhawatirkan akan membebani keuangan daerah dan membuat pembangunan yang direncanakan Pemprov Kepri tidak dapat berjalan.

Baca Juga :  Firdaus Prioritaskan SMSI Menjadi Konstituen Dewan Pers

”Alasan kami adalah kondisi fiskal daerah yang lemah. Dengan anggaran multiyears yang besar ini, akan menyedot dan mengurangi sektor lain,” kata Suryani.

Pendapat senada juga disampaikan Fraksi Golkar. Lewat juru bicaranya, Asmin Patros, Golkar meminta agar pembiayaan proyek Gurindam tidak bergantung seratus persen dari APBD. ”Kami mendukung pembangunan infrastruktur. Namun, pembangunan infrastruktur tidak boleh bergantung kepada APBD, karena dikhawatirkan memangkas kebutuhan dari masyarakat lain. Kami menawarkan agar pembiayaan juga dibantu oleh anggaran dari pusat,” kata Asmin.

Baca Juga :  Padang Melang Seperti Aquarium

Kinerja tim keuangan Pemprov Kepri juga jadi sorotan dari fraksi-fraksi DPRD Kepri. Gubernur dituntut untuk melakukan evaluasi tim anggaran karena realisasi penerimaan pemerintah Kepri selalu tidak tercapai.

”Semua rencana yang diajukan Pemprov Kepri harus didukung pembiayaan yang cukup. Namun, pada kenyataannya, pendapatan pemerintah provinsi Kepri selalu memprihatinkan khususnya pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tidak sesuai dengan harapan,” kata juru bicara Hanura Yusrizal.

Menurut Yusrizal, rata-rata realisasi pemprov Kepri hanya sekitar enam puluh persen dari target. Maka dari itu, Pemprov Kepri harus segera melakukan evaluasi dan bila perlu dilakukan reshuffle pada kabinetnya. ”Jika pendapatan hanya terealisasi 60 persen, kemana empat puluh persen lainnya. Apa karena OPD tidak tidak tegas, atau memang tidak mampu,” kata Yusrizal tegas.

Baca Juga :  Disperindag Gandeng Polisi Sidak Sembako

Selain ketidakmampuan OPD, Fraksi PDIP melihat penyebab lambatnya kinerja Pemprov Kepri ini disebabkan Gubernur bekerja sendirian. ”Mengingat peran Wagub untuk pembangunan dan pengawasan, kami meminta agar pembahasan Wagub dapat diselesaikan tahun ini juga,” kata Sahat. (ais)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here