Dewi Kumalasari Motivasi Kemampuan Diri Kohati

0
167
ANGGOTA DPRD Kepri Hj Dewi Kumalasari menerima nasi tumpeng dari Kohati Tanjungpinang-Bintan, usai menjadi narasumber dalam seminar keperempuanan di era millenial, Sabtu (21/9). f-yusfreyendi/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Anggota DPRD Kepri Hj Dewi Kumalasari memotivasi kemampuan diri Korp Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) wati (Kohati) Tanjungpinang-Bintan, pada kegiatan seminar keperempuanan di Asrama Haji Tanjungpinang, Sabtu (21/9).

Dalam seminar ini, Hj Dewi Kumalasari membahas tentang menggali potensi perempuan di era milenial.

Selain Hj Dewi Kumalasari MPd, hadir narasumber lainnya Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Pemprov Kepri Misni SKM MSi, dan Psikolog Afitri Susanti SPsi MMcht.

Dalam materinya, Dewi Kumalasari mengatakan, perempuan memiliki potensi yang sangat besar. Tidak hanya penikmat hasil pembangunan, melainkan memiliki andil yang tinggi sebagai pelaku pembangunan.

”Kita semua memiliki kesempatan yang sama, yang membedakan hanya lah kesungguhan. Saya yakin, adik-adik semua memiliki jiwa yang optimis dan semangat yang tinggi, untuk menentukan masa depan yang lebih baik,” ujar Hj Dewi Kumalasari.

Dari pengalaman di bidang politik dan duduk di DPRD Kepri dengan perolehan suara signifikan, Dewi Kumalasari mengharapkan, generasi-generasi perempuan saat ini, mampu mengembangkan semangat dan jiwa optimis.

Karena akan menjadi peluang bagi kemajuan individu, maupun untuk daerah dan bangsa di masa mendatang.

”Sudah banyak perempuan yang berhasil dalam berbagai bidang dari tingkat daerah, nasional bahkan internasional. Seperti Sri Mulyani, Ibu Risma, Susi Pudjiastuti dan lainnya. Jadikan sebagai motivasi bagi diri masing-masing, dan buktikan bahwa perempuan itu bisa,” tuturnya.

Di era milenial saat ini yang serba digital, teknologi menjadikan pola pikir manusia menginginkan segala sesuatu secara simpel dan mudah.

Selain berdampak positif, efek yang ditimbulkan dari penyalahgunaan teknologi, tak sedikit membawa pengaruh buruk. Seperti pornografi, hoax, penipuan dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, Dewi berpesan, agar perempuan yang terlahir sebagai anak dan nantinya akan menjadi istri dan seorang ibu, harus mampu mengimbangi perkembangan teknologi. Sesuaikan dengan kebutuhan dan menghindari dampak-dampak negatif.

”Teknologi harusnya memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kebutuhan kita. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk menyaring bagi pengaruh buruk teknologi,” demikian dipaparkan Hj Dewi Kumalasari.

Sekedar informasi, berdirinya HMI di Jogjakarta tanggal 5 Februari 1947 digerakkan oleh 15 orang mahasiswa yang diantaranya terdapat 2 orang mahasiswi yaitu Misyarah Hilal dan Siti Zainah.

Dalam perkembangan selanjutnya muncullah Siti Baroroh, Tujimah, dan Tedjaningsih. Kehadiran mereka memberikan kesadaran untuk secepatnya membentuk Kohati.

Kohati didirikan pada tanggal 2 Jumadil Akhir 1386 H bertepatan dengan tanggal 17 September 1966 pada Kongres VIII di Solo.

Secara khusus motivasi mendirikan wadah khusus keperempuanan didasarkan berbagai faktor yaitu, semangat ke-Islaman HMI-Wati yang tinggi.

Semangat emansipasi wanita yang membawa keberhasilan diberbagai bidang. Semangat persatuan yang didasarkan rasa senasib dalam memperjuangkan kemerdekaan fisik maupun spiritual para wanita Indonesia.

Rasa tanggung jawab yang besar dalam membangun masyarakat. HMI-Wati mempunyai cita-cita yang mulia, untuk itu memerlukan wadah dalam membina dan mengembangkannya.

HMI sendiri membutuhkan kekuatan massa yang besar dalam segala aspek perjuangan. (fre)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here