Di Batam, Izin Investasi Tuntas Sambil Ngopi

0
496
Lukita D. Tuwo

Oleh: Lukita D. Tuwo
Bekerja di Badan Pengusahaan Batam

Dalam Rapat paripurna Kabinet Kerja pada awal Januari 2018, Presiden R.I – Joko Widodo telah menekankan kepada seluruh Menteri dan Pimpinan Lmbaga bahwa tahun 2018 adalah tahun Investasi dan Ekspor. Untuk itu, semua Kementerian//Lembaga (K/L) dan pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) harus fokus terhadap kedua hal tersebut. Anggaran-anggaran yang ada di masing-masing pihak harus benar-benar diarahkan untuk merangsang (stimulating) terciptanya imvestasi yang lebih besar (terutama investasi asing) dan meroketnya ekspor.

Bahkan, baru-baru ini Presiden RI juga mengundang para pelaku industri manufaktur berorientasi ekspor ke Istana Bogor untuk mendiskusikan bagaimana strategi mendongkrak potensi ekspor nassional. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk memperkuat nilai tukar rupiah (NTR) yang terus merosot dan sudah menembus angka Rp 14.500,- per dollar AS. Kemerosotan ini, harus diwaspadai dapat terus berlanjut mengingat kebijakan Bank Sentral AS Federal Reserve yang akan menaikkan kembali suku bunganya, yang akan kemudian menarik dana-dana masuk ke AS.

Dengan kebijakan AS tersebut dan ditambah lagi adanya ketegangan persaingan dagang AS-Tiongkok yang notabene akan memengaruhi negara-negara maju lainnya turut melakukan normalisasi kebijakan moneternya, maka tidak dapat dipungkiri cenderung berdampak pada pelemahan NTR terhadap USD. Fenomena inilah yang diwaspadai oleh Presiden dan kemudian mengajak semua stakeholders (pemerintah dan swasta) bekerja sama dan sinergis untuk bisa meningkatkan cadangan devisa sebesar-besarnya di dalam negeri baik melalui kegiatan ekspor, investasi, maupun pariwisata.

Dengan meningkatnya cadangan devisa dalam negeri melaui investasi dan ekspor, maka nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pun akan terjaga bahkan menguat karena dollar sudah relatif tersedia di pasar domestik. Dampaknya, biaya input (input cost) untuk industri manufaktur yang berbasis bahan baku/penolong impor akan menurun dan pada gilirannya dapat meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia di pasar manca negara.

Sistem i23j
Menyadari dan menyikapi amanah tersebut, Badan Pengusahaan (BP) Batam juga tidak berdiam diri. Berbagai upaya, sejak November 2017, telah dilakukan dalam rangka untuk menyehatkan kembali kondisi perekonomian Kepri secara umum dan Batam khususnya yang sedang “sakit” kala itu dimana pertumbuhannya hanya 2,01 persen pada 2017, sementara inflasi membubung ke angka 4,02 persen. Artinya, perekonomian Kepri sedang dalam posisi tertekan.

Dalam upaya untuk membangkitkan kembali perekonomian Kepri secara umum dan Batam khususnya, maka kehadiran investasi di Batam menjadi keharusan guna untuk membuka kesempatan kerja yang lebih luas agar para penganggur bisa mendapatkan pekerjaan. Untuk mendorong masuknya investasi ke Kepri/Batam lebih deras, BP Batam telah menerapkan sistem pelayanan perizinan investasi dalam kurun waktu 3 jam, atau dikenal dengan sistem i23j.

Melaui sistem tersebut, pengurusan izin berinvestasi di Batam sudah jauh dimudahkan dan waktu pengurusan yang selama ini bertele-tele hingga mingguan, bulanan dan bahkan tahunan, tidak lagi terjadi. Para investor bahkan bisa menyelesaikan 8 (delapan) perizinan sekaligus dalam kurun waktu kurang dari 3 jam. Izin-izin yang bisa dieproleh, a.l.: izin investasi, akta perusahaan dan pengesahan, NPWP, tanda daftar perusahaan (TDP), rencana penetapan tenaga kerja asing (RPTKA), izin mempekerjakan tenaga asing (IMTA), angka pengenal importir produsen (API-P), dan nomor identitas kepabeanan (NIK).

Kehadiran dan kenyamanan akses sistem i23j, sudah sangat dirasakan oleh para calon investor yang ditandai dengan jumlah investor masuk ke Batam melalui i23j selama periode Januari s/d Mei 2018, sudah mencapai 16 perusahaan atau rata-rata 3 – 4 perusahaan per bulan dengan total investasi sebesar Rp 877,36 milyar, atau senilai US$ 63,79 juta.

Sistem OSS
Komitmen pemerintah untuk dapat merangsang masuknya investasi melalui sistem pelayanan yang cepat dan semudah/senyaman mungkin terus ditingkatkan. Sistem i23j yang sudah dinggap mampu memangkas waktu penyelesaian perzinan dalam 3 jam, ternyata masih menyisakan hambatan (barriers) ketika masalah perizinan ditujukan untuk perizinan berusaha dan komersial. Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Ekonomi terus berupaya untuk bisa memangkas jalur-jalur birokrasi yang masih terus menyusahkan para investor atau calon investor yang ingin berinvestasi atau mengembangkan kegiatan investasi/usahanya. Untuk itu, Presiden R.I Joko Widodo telah mengeluarkan PP 24/2018 tentang sistem berusaha terintegrasi secara elektronik, atau dikenal dengan istilah OSS (Online Single Submission).

Melalui OSS masalah pengurusan izin berinvestasi atau memperluas usaha/investasi sudah dapat diselesaikan dalam kurun waktu kurang dari 1 (satu) jam. Berbagai hambatan (barriers) yang selama ini menjadi momok bagi para investor/calon investor, telah berhasil dikikis. Izin-izin yang dikeluarkan oleh Kementerian/Lembaga (K/L) dan Pemda yang selama ini harus diurus step by step sesuai urutannya, tidak perlu lagi dilakukan karena sistem OSS sudah langsung menanganinya. Dalam hal ini, ego sektoral kelembagaan dan termasuk pemerintah daerah sudah dikikis habis. Dengan demikian kepastian berusaha lebih jelas dan terukur karena waktu penyelesaiannya sudah jelas dan tidak lagi bertele-tele.

Izin Investasi Tuntas Sambil Ngopi
Memahami sepenuhnya bahwa Indonesia membutuhkan investasi untuk menggeliatkan/meningkatkan perekonomian nasional dan regional, maka pemberian kemudahan berinvestasi di wilayah nusantara ini, menjadi kunci penting. Dalam konteks inilah kenapa OSS dikembangkan. Lalu apa yang menjadi ketangguhan sistem OSS itu?

Melalui OSS para investor/calon investor tidak lagi perlu melakukan door to door dalam pengurusan izin berusaha. Mereka cukup mengakses sistem OSS dari rumah/kantor atau di tempat di mana dia sedang berada (luar negeri). Yang penting si investor/calon investor telah memiliki 2 (dua) prasyarat mutlak, yaitu “login” untuk masuk ke OSS dan akta notaris perusahaannya.

Berdasarkn 2 hal di atas, si investor cukup menginput informasi yang ada di akta notaris dan beberapa informasi tambahan ke dalam sistem OSS, seperti besarnya investasi dan lokasi usaha/investasi. Begitu selesai diinput, sistem akan secara otomatis mengesahkan perusahaan tersebut dan kemudian mendapatkan langsung nomor induk berusaha (NIB) sebagai identitas, NPWP, nomor BPJS, dll.

Namun demikian, para investor atau calon investor juga diminta komitmennya untuk mengurus IMB dan Izin lingkungan sebelum izin usahanya keluar. Artinya, mereka tidak lagi perlu mendapatkan izin usaha dan izin lingkungan terlebih dahulu, namun izin operasi usaha sudah dapat keluar. Dengan demikian, si investor sudah bisa beli lahan/tanah atau sewa Gedung dan mulai menyiapkan usahanya. Dan itu semua dapat dikerjakan dalam waktu yang relatif singkat (1 jam atau kurang) dan sambil ngopi izin berusaha sudah selesai alias tuntas. Betapa nyamannya berinvestasi via OSS itu.

Dalam sistem lama, penyelesainnya cukup lama karena semua izin-izin yang begitu banyak harus diselesaikan satu per satu sesuai dengan urutannya, baru izin operasinya bisa keluar. Akibatnya, izin berusaha baru bisa diperoleh setelah bermingu-minggu, atau berbulan-bulan atau bahkan bertahun, dan hal-hal inilah yang dipangkas oleh sistem OSS. Tetapi, walaupun proses untuk memperoleh izin berusaha sudah dipermudah dan diperpendek waktu penyelesaiannya, si investor tetap harus menyelesaikan masalah Amdal, IMB, dan Izin BOM (untuk usaha obat-obatan). Bagusnya, penyelesaian dokumen-dokumen tersebut bisa dilakukan secara simultan dengan proses pendirian usaha/bisnisnya.

Meskipun kemudahan berinvestasi melalui OSS sudah begitu nyaman dan prkatis, tetapi bilamana ada investor atau calon investor membutuhkan bantuan teknis untuk mengakses dan mengoperasikan sistem tersebut, satuan tugas (Satgas) OSS BP Batam dengan senang hati siap untuk membantu/melayaninya. Selanjutnya, bilamana ada keluhan yang mengakibatkan proses perizinan tidak secepat yang dijanjikan, maka segera melaporkannya ke Satgas OSS dan mereka akan segera menindaklanjutinya karena itu adalah komitmen BP Batam.

Stigma yang selama ini muncul terkait dengan pengurusan izin berinvestasi di Batam yang berbelit-belit, panjang birokrasi, dan makan waktu lama, sudah saatnya dikikis habis. Dengan OSS, pengurusan izin investasi sudah berada di ujung jari (fingertip) para investor atau calon investor. Bahakan tidak perlu lagi ada tatap muka atau door to door process dan bisa dilakukan dari tempat/lokasi di mana investor/calon investor berada. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here