Di Pemping Penjaga Gas Bumi Merindu

0
198
Teknisi PT Transgasindo, anak perusahaan PT PGN Tbk, memantau aktivitas stasiun matering gas di Pulau Pemping, Kamis (27/9). f-martua/tanjungpinang pos

‎Dibalik Cahaya Batam-Singapura

“Kami tinggalkan keluarga dan hidup di pulau terpencil, karena ini tanggungjawab. Gangguan gas disini, akibatnya ‎Batam dan setengah dari Singapura gelap‎,” Sepriansyah, teknisi PT Transgasindo, anak perusahaan ‎PT PGN‎.

Laporan, Martua P Butarbutar, Batam

Pulau kecil, Pulau Pemping, terletak diantara Batam dan Singapura. Pulau ini termaksud pulau terluar Indonesia di Batam, yang mendapat status objek vital Indonesia. Tapi pentingnya Pulau Pemping, tidak hanya bagi Indonesia. Tapi juga bagi negara tetangga, Singapura. Pulau ini pendukung penting kehidupan masyarakat dan dunia usaha di Batam.

Peran pulau ini, sangat besar pengaruh, pada pertumbuhan ekonomi nasional, Batam dan Singapura. Lewat pulau ini juga pasokan gas dijual Indonesia ke Singapura. Lewat perusahaan transporter gas bumi ini juga, Batam mendapatkan pasolkan dan stabilitas jarum, digit angka meteran gas bumi di pantau.

Gas itu menjadi konsumsi, mulai rumah tangga, PLN Batam, kawasan-kawasan industri, UMKM, hingga kebutuhan Singapura.

Setengah kebutuhan energi di Singapura, ditentukan dari pulau yang dekat negara tetangga itu. Pasokan gas bumi yang dipasarkan PT PGN sebagai energi murah ini, dijaga delapan teknisi, dibawah bendera PT Transgasindo (TGI). ‎Para teknisi ini yang kemudian ditemui Tanjungpinang Pos, Kamis (27/9) di Pulau Pemping.

Tiga dari delapan orang teknisi itu, Weldi, Sepriansyah dan Marelon Sianturi,‎ terlihat duduk santai dengan menggunakan seragam orange bertuliskan, PT Transgasindo. Perusahaan ini sendiri, merupakan perusahaan patungan ‎PT PGN, Talisman Energi, ConocoPhillips, Petronas dan Singapore Petroleum.

‎Tidak lama berselang, saat perbincangan berlangsung, seorang pria paruh baya dengan perawakan sedang bernama Zulfan, menghampiri dan dengan membawakan air mineral.

Tanjungpinang Pos sendiri tiba dilokasi bersama, Humas PGN Batam, Riza, ‎Head Sales Area ‎Amin Hidayat‎ dan ‎Manger Regional Office (RO) Transgasindo Batam, Oddi Jaka Rinaldi, serta lainnya.

Zulfan sendiri merupakan satu dari empat petugas dari perusahaan Intrafood. Pria asal Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri itu, menjalankan tugas, membantu menyediakan kebutuhan para teknisi yang mengurus gas disana. Mereka menyediakan makanan, minuman, menyuci, menggosok pakaian, hingga membersihkan tempat tidur para teknisi.

Walau tinggal di pulau terpencil, para teknisi gas bumi itu mendapat pelayanan terbaik, sebagai fasilitas yang disediakan perusahaan. Mereka menjadi bagian kontrol distribusi gas atau transfer kustodi. Berkat kerjasama dengan TGI juga, PGN menyalurkan gas untuk 4.842 pelanggan di Batam. Dimana, pelanggan itu diantaranya 93 industri dan komersial, 29 pelanggan kecil serta 4.720 pelanggan rumah tangga.

Diantara pelanggan itu, ada UMKM, restoran hingga kawasan industri di Batam, ada kawasan industri Batamindo, Kabil, Panbil Industrial Park, Taiwan, Tunas, Cammo dan kawasan industri Executive. Ini keberpihakan PGN untuk meningkatkan roda perekonomian di Batam dengan penyediaan gas bumi.‎

Bahkan, tugas pria-pria tangguh yang rela meninggalkan keluarganya itu, sangat menentukan bagi negara tetangga, Singapura. Dimana Singapura mendapat pasokan gas untuk menggerakkan pembangkit listrik mereka dalam memenuhi setengah kebutuhan energinya.

‎”Meninggalkan keluarga karena tugas, kami nikmati. Kami merindu (menahan rindu) tapi keluarga tetap mendukung. Kalau disini terganggu, Batam dan setengah dari Singapura gelap‎,” ujar Sepriansyah, yang diamini Weldi.

Menyadari tanggungjawab yang besar, mereka tidak pernah mengeluh, karena harus terpisah jauh dari keluarga. Dari pengaturan jadwal kerja, diakui mereka puas. Setiap dua minggu kerja, mereka mendapat satu minggu, waktu libur.

Hak yang tidak jauh berbeda didapatkan pekerja yang membantu menyediakan makanan bagi teknisi. Khusus karyawan Intrafood libur satu minggu setiap tiga minggu. Waktu libur itu yang dimanfaatkan mereka untuk kembali ke keluarga.

Keluarga para teknisi itu ada tinggal di daerah berbeda, mulai dari Batam, Palembang hingga Nias, Sumatera Utara. Salah satu teknisi itu, Marelon Sianturi, yang anak dan istrinya sampai saat ini masih tinggal di Nias, Sumatera Utara. “Biar aja di kampung, di Nias sana. Tetap saja tidak bisa tinggal bersama, karena paling bisa di Batam,” ujar Marelon beralasan.

‎Walau jauh dari keluarga, mereka kini dimudahkan dengan fasilitas video call yang tersedia dan murah diaplikasi ponsel saat ini.

Video call menjadi fasilitas yang memudahkan mereka bertatap muka dengan anak dan istri, karena internet di Pulau Pemping, khususnya kawasan wilayah kerja Transgasindo lancar. Dari atas bukit Pulau Pemping mereka melepas rindu lewat fasilitas itu.

Jaringan internet sendiri, menjadi fasilitas yang disiapkan untuk mendukung kinerja mereka dalam melaporkan kondisi gas. Dukungan komunikasi yang mudah dengan keluarga, membuat mereka lebih ‘enjoi’ menikmati pekerjaannya.

“Ini juga kan pekerjaannya untuk membantu negara. Jadi mirip dengan tentara di barak, jadi harus kita nikmati. Tiap hari kita lihat istri dan anak lewat video call. Gratis juga wifi disini,” sambung Weldi, yang memiliki istri dan anak masih tinggal di Palembang, Sumatera Selatan.

Weldi sendiri memilih pulang setiap libur, per dua minggu. “Ongkos lumayan, pulang pergi Pulau Pemping-Batam-Palembang, tapi resiko. Penting bisa kerja dan bisa ketemu keluarga,” sambung Weldi.

‎Pekerjaan diakui menjadi terutama saat ini, karena terkait dengan kehidupan masyarakat banyak. Tidak hanya itu, perekonomian juga akan terganggu. Baik perekonomian Singapura dan Batam. ‎

Gangguan perekonomian di Batam disadari, akan mengganggu perekonomian Indonesia. Dimana tidak hanya masyarakat yang bekerja di industri di Batam, namun terkait juga dengan kepercayana investor.

“Kalau gas terganggu, investor tidak percaya untuk masuk ke Batam. Perekonomian kita (Indonesia) terganggukan. Kepercayaan pelanggan (Singapura) juga turun,” tegasnya.

Weldi yang sudah berkerja sejak tahun 2013 di Pulau Pemping mengakui, mereka harus memantau pasokan gas dan mengirim data pemakaian per jam ke pusat kontrol gas di  Batam. Sementara laporan harian dikirim ke Jambi. Kalau gangguan, selama ini diakui lebih karena faktor alam.

“Selama ini, kalau ada trouble, lebih karena alam. Maintance kita rutin, tapi tidak mengganggu, karena ada cadangan kita siapkan,” beber Weldi.

‎Hal yang sama disebutkan rekannya yang lain, Sepriansyah. Apa yang diamanatkan perusahaan, mereka jalankan dan jaga. Dirasakan, bagaimana pentingnya keberadaan gas di perbatasan Indonesia itu.

Tidak hanya menyangkut kepercayaan Singapuran untuk PGN sebagai pemasok. Namun juga terkait dengan kepercayaan investor untuk memananmkan investasi di Batam.

Sehingga, walau jauh dari kantor perwakilan di Batam dan pusat gas controling di Jambi, namun mereka menjaga kewajibannya. Ke Jambi juga mereka setiap hari mengirim laporan billing gas, yang datangkan dari Grissik, Sumsel dan dipasok ke Batam-Singapura.‎ ‎Pengiriman data harian melalui email selama ini diakui lancar.

“Jauh dari keluarga dan hidup dipulau terpencil, karena tugas dan tanggungjawab. Kalau gas terganggu, ‎Batam dan setengah dari Singapura akan gelap. Dampaknya ekonomi dan kepercayaan masyarakat dan investor,” ujar Sepriansyah.

Sepriansyah yang juga tidak bisa menghindar dari kewajiban, harus berpisah dari keluarga. Tapi dia lebih beruntung dari rekannya yang lain, karena anak dan istrinya sudah tinggal di Batam. Sehingga dari biaya transportasi untuk bertemu lebih murah. Soal intensitas pertemuan, tetap mengikuti jadwal libur, dua minggu kerja, satu minggu kerja.

“Kita harus tertib administrasi. Absen sudah ‎pakai finger print. Tak bisa diam-diam juga keluar. ‎Kami ‎tidak bisa lalai (dengan tangungjawab),” bebernya.

Sistem kerja yang diterapkan, tetap menggunakan sistem sift. Setiap orang bekerja delapan jam. Selebihnya mereka bisa beraktivitas disekitar lokasi atau sekitar pulau Pemping. Mereka harus standbye delapan jam per hari di lokasi perusahaan untuk menjaga dan melaporkan pasokan gas. Selebihnya bisa digunakan beraktifitas lain.

“Kalau selesai jam kerja, biasanya main internet. Ada juga yang main ke tempat penduduk disekitar sini. Ada bercocok tanam atau memancing,” cerita Sepriansyah.

Sepriansyah sendiri memilih mengisi waktu kosong dengan hobby-nya memancing. Dia kerap menyewa pompong atau sanpan bermesin, untuk memancing. “Saya sewa sekitar Rp200 ribu satu harian. Teman yang lain ada juga yang bercocok tanam. Ada juga buat kolam ikan,” bebernya.

Aktivitas itu menjadi pengisi waktu mereka, agar tidak jenuh dan mengurangi kerinduan dengan keluarga. Namun untuk moment tertentu, mereka tidak bisa menghilangkan rasa sedih yang jauh dari keluarga.

“Kalau malam takbiran ‎(Idul Fitri), paling sedih. Tapi sekarang kita gantian liburan lebaran. Biar bisa gantian jaga disini,” ujar pria yang sudah bertugas di Pulau Pemping, sejak tahun 2008.

Kerinduan dengan keluarga juga terobati dengan hubungan kekeluargaan diantara teknisi dan termaksud dengan juru masak. Untuk perusahaan, terucap perlakuan perusahaan yang memuaskan mereka.Karyawan diperlakukan dengan baik dan segala kebutuhan hidup mereka disiapkan.

“Makan disiapkan, pakaian dicuci, disetrika dan tempat tidur dibereskan. Hidup disini memang ibarat kita gratis. Kalaupun ada pengeluaran, hanya untuk beli pulsa, karena saya tidak merokok,” imbuh Sepriansyah.

Keberihakan Bagi Warga Sekitar Perusahaan
Diceritakan, selama ini selain hubungan antar karyawan, dukungan perusahaan, fasilitas hingga tanggungjawab, juga dukungan warga setempat.

‎Lokasi perusahaan dan warga di pulau itu sekitar 50 sampai 100 meter. Namun hubungan sosial mereka tidak berjarak. Warga juga cukup mendukung kegiatan mereka dipulau itu.

“Selama ini, tidak pernah ada gangguan dari warga di pulau itu. Dimana, dipulau kecil itu, ada sekitar 200 kepala keluarga. Mereka tersebar di ‎Air Johor, Tanjung Panang, Kampung Tengah dan Mongkol,” cerita Sepriansyah.

Beroperasinya TGN di Pulau Pemping, yang membantu PGN memasok gas bagi warga dan industri, disebut berdampak positif bagi warga sekitar. Weldi membenarkan pernyataan Sepriansyah. Diakui, dukungan masyarakat dipulau itu sangat besar, untuk pengoperasian perusahaan patungan PGN dan mitra bisnisnya itu.

TGN membantu pendidikan anak-anak warga pulau Pemping. Seperti mendirikan pendidikan anak usia dini (PAUD). Bahkan beasiswa diberikan untuk anak-anak disana, hingga kuliah.

“Untuk juara 1 sampai 10 SD, SMP/MTs, SMA dan anak yang berhasil kuliah di perguruan tinggi negeri di Jawa, kita berikan beasiswa,” beber Weldi, yang dibenarkan warga Pulau Pemping, Izari.

Izari yang jadi Ketua RT 01, RW 02, Pemping menyebutkan, selain beasiswa, ada juga bantuan kapal yang bisa memuat sekitar 25 orang anak-anak sekolah SMU. Kapal dibutuhkan, karena anak-anak disana menuntut ilmu di pulau lain, tepatnya Pulau Kasu. Untuk siswa SD sampai MTS sudah ada Pulau Pemping.

“Kami juga dibantu lapangan volly, sepak bola, batu miring, peralatan komputer SD,” ujarnya.

Karyawan TGN juga diakui aktif sosialisasi. Termaksud menghadiri acara-acara warga. TGN juga merekrut warga sebagai staf yang bertugas dikawasan perusahaan, sebagai security atau Satpam.

“Kami bersyukur dengan kehadiran perusahaan gas dan nendukung aktivitasnya. Warga juga diberikan pekerjaan sesuai kebutuhan perusahaannya,” ungkap Izari.

Sementara ‎‎‎Manger Regional Office (RO) Transgasindo Batam, Oddi Jaka Rinaldi yang juga ikut berkunjung ke Pulau Pemping, mengapresiasi hubungan antar petugas. Demikian dengan kegiatan diluar jam kerja yang dinilai positif. Demikian tugas yang diberikan perusahaan, berjalan baik, untuk memastikan pasokan gas berjalan lancar.

“Sudah berjalan baik dan itu yang utama. Kami harus menjamin pengiriman gas alam yang aman dan dapat dipercaya pada para pelanggan,” tegasnya.

Saat ini, diakui mereka menjaga membantu memasok dan menjaga pasokan gas ke Singapura, sebesar 380 MMSCFD. Selain itu, ke ke Batam sebesar 56 MMSCFD, Tanjung Uncang Batam, 27 MM‎ MMSCFD dan lainnya.

“Ada juga ke Tanjungpinang, tapi kecil. Untuk warga juga ada di pulau ini. Sumber gas, kita dari selain dari Sumsel, ada juga dari Natuna‎,” bebernya.

Sementara ‎Sales Area Head PGN Batam, Amin Hidayat mengakui puas dengan kinerja TGN. Membantu Batam tetap konpetitif untuk menarik investor. Terlebih kontrak kerja pasokan gas‎ ke Batam, sudah diperpanjang, hingga tahun 2021. Walau diakui, soal harga gas, belum diputuskan pemerintah pusat.

“Tapi penting, kontrak sudah diperpanjang. Ini memberikan kepastian bagi masyarakat dan dunia usaha. Dampak positif bagi perekonomian Batam, Kepri dan Indonesia,”‎ ujar Amin.

Kontrak yang berakhir Oktober 2018 itu, disebutkan Amin diperpanjang ConocoPhillips Indonesia Frissik Ltd dengan PT PGN Tbk sebesar 30 BBTUD.

Dengan demikian, suplay gas tersebut akan sepenuhnya digunakan PGN untuk mengalirkan gas bumi ke pelanggan mulai dari industri, komersial, rumah tangga hingga stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) di Batam.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here