Dibuat Pedas Kuah Kental

2
1140
LENDOT: Sajian lendot produksi Dapur Bunda Naufal. f-istimewa

Lendot Dapur Bunda Naufal, Tanjungpinang

KENIKMATAN tak tergantikan dari seporsi sajian lendot adalah kuahnya. Teksturnya yang kental dan disajikan panas-panas mampu menghangatkan badan. Apalagi disantap ketika hujan. Sempurna rasanya.

Bahan baku yang berupa kangkung kemudian diisi pula dengan siput isap menghadirkan rasa tak biasa di lidah. Bagi yang belum pernah menyantapnya tentu akan terkejut. Namun, sungguh kelewat sayang kekentalan kuah sagu dari sajian lendot untuk dilewatkan.

Rahmadian Indriyani percaya itu. Karena itu, sejak pertengahan 2015 lalu, ia tunak mengolah sajian tradisional Melayu di Dapur Bunda Naufal.

“Saya suka saja dengan makanan Melayu. Termasuk lendot ini. Dulunya suka masak saja, tapi kata teman-teman suruh dijual. Keterusan deh sampai sekarang,” ungkapnya.

Perempuan 32 tahun yang akrab disapa Dyan ini menerangkan lendot adalah makanan khas masyarakat Tanjungbatu, Karimun. Dyan sendiri juga asli dari sana. Ibunya, Dara anis Mz, kenangnya, membiasakan anak-anaknya mampu memasak sedari kecil. Sebab itu, tangan Dyan cukup terampil menyulap bahan baku di dapurnya.

Perihal lendot yang kini jadi menu andalan di Dapur Bunda Naufal, Dyan berkisah, tantangan dari penyajiannya adalah perihal bahan baku. Utamanya siput isap. Pernah suatu kali, Dyan kehabisan stok di pasaran. Padahal, kata dia, ciri khas lendot selain pada kuah kentalnya yang pedas terletak pada keberadaan siput ini. Tapi tidak habis pikir bagi Dyan.

“Saya coba ganti sotong atau udang. Saya beri tahu ke pelanggan saya, dan mereka mau. Tapi tetap, selama masih ada siput isap, ya itu yang didahulukan,” ujarnya.

Sementara urusan kuah, bagi Dyan itu bisa opsional. Bagi yang suka pedas, cabai kering menjadi solusi kompromi sekaligus memberi warna merah di kuah yang memikat. Jika tidak suka pedas, bisa dikurangi penggunaan cabai keringnya. Namun, Dyan tetap menyarankan, sebaik-baiknya lendot adalah yang pedas dan disajikan panas-panas.

“Barangkali itu yang bikin cocok di lidah orang Tanjungpinang, yang memang suka pedas-pedas,” ungkapnya.

Kini, Dyan belum tertarik berbisnis dalam bentuk lain. Aktivitas di balik Dapur Bunda Naufal sudah lebih dari sekadar cukup menerbitkan kesenangan dan menyalurkan hobinya dalam memasak. Sudah pasti lendot menjadi daya pikat utamanya, dan Dyan masih terus berkreasi dengan resep-resep kuliner tradisional Melayu. Semisal lakse goreng mercon dan tahu bulat isi krispi (TBC).

“Masih yang pedas-pedas juga sih sesuai selera orang Pinang,” katanya.

Untuk memasarkan produksi dapurnya, Dyan kini lebih tertarik memanfaatkan jalur media sosial. Banyak pelanggannya datang dari sana. Agar semakin dikenal, Dyan juga aktif ikut bazar-bazar kuliner rumahan yang rutin digelar di Tanjungpinang. Kata dia, itu banyak membantu penjualannya.

“Saya juga aktif bersama teman-teman pelaku bisnis kuliner rumahan. Dari situ bisa menambah teman dan juga pelanggan,” pungkas Dyan. (fatih)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here