Digusur, Siswa SD Melati Indah Sekolah di Dewan

0
166
SISWA SD Melati Indah Balai Kebun Batam belajar di Gedung DPRD Batam di Batamcenter, Senin (17/9). F-martua/tanjungpinang pos

BATAM – Siswa SD Melati Indah Balai Kebun, Batam memilih sekolah di Gedung DPRD Batam di Batamcenter karena sekolah mereka digusur.

Mereka menggelar belajar di gedung dewan mulai pagi sekitar pukul 07.30 hingga pukul 12.00 WIB. Walau di hadapan banyak pengunjung gedung DPRD Batam, tapi proses belajar mengajar tetap berjalan. Sementara DPRD Batam sendiri mengikuti paripurna hingga siswa dan guru sekolah itu pulang.

Proses belajar dengan lesehan di gedung dewan itu berlangsung, Senin (17/9) dengan guru pengajar, Watimena. Mereka didampingi kepala sekolahnya, Lenora. Siswa kelas satu sampai kelas enam sekolah itu digabung dengan mendapat pengajaran berbeda-beda.

Sebelum membubarkan diri setelah proses belajar mengajar selesai, mereka kemudian di absen. Mereka kemudian membubarkan diri dengan didampingi guru dan kepala sekolah. Namun sebelumnya, para siswa itu menyalami guru sambil mencium tangan gurunya.

Menurut Lenora, sebagai kepala sekolah, dia bertanggungjawab atas kelanjutan dari pendidikan anak-anak itu. Setelah sekolah yang dipimpinnya dirobohkan, mereka kini tidak memiliki gedung untuk sekolah. ”Mau sekolah dimana? Mereka harus sekolah, karena mereka yang akan memiliki masa depan,” kata Lenora.

Disebutkannya, anak-anak itu merupakan anak-anak yang kurang mampu. Mereka merupakan anak-anak warga yang tinggal di rumah liar (ruli) di Baloi Kebun.

Demikian gedung itu sebelumnya tinggal di ruli itu. Orang tua anak-anak itu disebutkan merupakan pemulung.

”Kalau tidak ada sekolah itu, bagaimana masa depan mereka? Awalnya ini 50 orang. Dengan penggusuran sudah tercerai berai. Tidak tahu sekolah dimana. Yang tinggal 20-an orang,” sebut Lenora.

Penggusuran diakui sudah dilakukan Rabu minggu lalu. Sekolah itu sendiri, diakui sudah ada sejak tahun 2003. Awalnya sekolah itu hanya mendidik siswa mulai TK sampai kelas V.

Kelas VI kemudian dipindahkan ke sekolah lain untuk bisa ikut ujian akhir nasional. Namun beberapa tahun belakangan ini, mereka sudah sampai kelas VI.

”Dari tahun 2003, didirikan ibu yang punya nurani membantu anak-anak pemulung. Karena melihat anak-anak tidak sekolah. Tapi ibu itu sudah tua, jadi diserahkan ke saya,” sambungnya.

Orang yang pertama mendirikan sekolah itu diakui sudah tidak di Batam lagi. Lenora sendiri awalnya tidak mau menerima untuk memimpin sekolah itu. Namun karena panggilan jiwa, akhirnya diterima. Sementara untuk uang sekolah, diakui tidak dipatok. Karena ada juga yang tidak membayar.

”Semampu orang tua saja. Ada yang tidak bayar juga, karena tidak mampu. Jadi kalau ada uang orang tuanya, bayar,” kata dia.

Sementara untuk gaji gurunya, diakui ada Rp500 ribu dan ada yang Rp1 juta. Sekarang, gurunya yang mengajar tiga orang. Namun sayang, terkait peluang ditempatkan di sekolah lain, dia menolak. ”Kami tidak mau. Kami mau gedung sekolah,” cetusnya.

Usai paripurna DPRD Batam, Wawako Batam, Amsakar Achmad mengaku baru tahu soal siswa itu.

”Nanti saya dalami informasinya. Nanti akan saya sampaikan hasilnya. Kalau di tempat liar, kita carilah di tempat yang tidak liar. Berikan waktu saya mendalami, biar tidak salah komentar,” harap Amsakar. (mbb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here