Diklatsar Mapala Harus Diawasi Kampus

0
656
PANJAT TEBING: Salah satu aktivitas mapala di alam bebas yakni panjat tebing, yang memiliki tantangan yang menarik. F-ISTIMEWA.

Tanjungpinang – BERGABUNG di salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkup kampus banyak manfaatnya. Di antaranya UKM Pecinta Alam atau Mapala.

Mapala memiliki manfaat tersendiri bagi seorang mahasiswa. Kegiatan di luar perkulihan ini bisa jadi penyalur hobi dan ada beragam aktivitas yang bisa dilakukan di alam bebas yang jauh dari pemukiman.

Hal ini disampaikan Ketua Mapala Hang Tuah dari Stisipol Raja Haji, Aris Setiyawan. Menurut Aris, untuk bergabung di UKM Mapala mesti mengikuti prosedur perekrutan standar yang telah ditentukan. Namun, prosedur perekrutan anggota mapala harus diketahui pembina dalam hal ini adalah seorang dosen di bidang kemahasiswaan.

Tragedi meninggalnya 3 orang calon anggota mapala di UII di Yogyakarta baru-baru ini sangat disesalkan oleh Aris. Ia berharap kejadian serupa tidak terjadi lagi. Kejadian tersebut, menurut Aris akan menambah catatan kelam keluarga besar mapala di seluruh Indonesia.

”Kami sangat menyayangkan hal itu. Teman-teman mapala lain bisa mengambil hikmahnya, untuk mematuhi prosedur standar. Itu juga mesti diketahui oleh pihak kampus dalam melaksanakan kegiatan merekrut anggota baru,” ujar Aris saat bertandang ke Tanjungpinang Pos bersama anggotanya, Kamis (26/1).

Dengan mengikuti informasi kejadian tersebut, lanjut Aris, hal tersebut menjadi pembahasan di hangat di internal Mapala Hang Tuah. Ini dijadikan pengetahuan untuk dipahami para anggota mapala

Aris mewanti-wanti agar anggota Mapala tetap berpegang pada prosedur di setiap kegiatan.
Diakuinya, dalam perekrutan anggota baru di Mapala Hang Tuah, pesertanya harsu mengikuti kegiatan latihan fisik dan itu merupakan hal yang utama.

”Namun ada standar pelaksanaannya di lapangan. Uji fisik tidak menempuh cara seperti perekrutan anggota militer yang harus benar-benar ditekan. Dalam ilmu militer terdapat beberapa kegiatan mengolah fisik. Tetapi tidak untuk diterapkan di perekrutan anggota baru mapala,” sebutnya.

Diakuinya, perekrutan di militer memang baik, terutama dalam mengolah fisik.

”Bahkan mereka mahir bertahan hidup (survival) di alam bebas. Tetapi mereka memang sudah siap untuk menghadapi tugas yang berat, sebagai mana layaknya pasukan tempur,” sebutnya.

Namun untuk mapala, sambungnya, mesti dibedakan dengan kegiatan perekrutan militer.

”Untuk itu, jika memang ada calon anggota yang menderita penyakit tertentu, kami tidak akan melakukan uji fisik. Apalagi yang sampai melampaui batas. Ini yang perlu digaris bawahi,” jelas Aris.

Selanjutnya, kata Aris, tiga minggu sebelum memulai kegiatan, anggota baru yang akan bergabung pada UKM mapala harus mendapatkan surat pernyataan dari orang tua calon anggota. Selain itu, setiap calon anggota harus memeriksa kesehatan di puskesmas terdekat. lalu melampirkan hasilnya saat pendaftaran.

”Hal itu untuk mengetahui tentang kesehatannya. Sedangkan surat izin dari orang tua untuk memastikan, bahwa anaknya diberi izin untuk mengikuti kegiatan. Dengan berbekal hasil cek kesehatan dari puskesmas, maka panitia akan mengerti dan tidak berprilaku di luar batas dalam saat melaksanakan pendidikan dan latihan dasar (Diklatsar) kepada calon anggota baru. Selain itu, walaupun ada calon angota sehat jasmani tetap dilakukan sesuai batasan. Ini sudah ketentuan yang harus dipatuhi,” cetus Aris.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Putra yang juga anggota Mapala Hang Tua. Kata Putra, dalam melaksanakan Diklatsar secara garis besar tidak ada aturan yang mengikat.

”Idealnya harus dipantau oleh pembina agar tidak ada tindakan di luar batas. Diakui Putra kegiatan Diklatsar itu sedikit semi militer. Tetapi tetap tidak melakukan unsur tekanan fisik di luar batas kemampuan, dan tetap dalam pengawasan pembina. Karena kita melakukan kegiatan di luar lingkup kota, yakni alam bebas dan mereka harus mengerti cara cara standar hidup dan bertahan di alam bebas,” sebutnya.

Keuntungan bergabung di mapala, sebutnya, mahasiswa bisa melatih manajemen diri, menyalurkan hobi serta mengenal diri sendiri. ”Terutama menambah kecintaan terhadap alam semesta, dengan aktif melakukan kegiatan yang bersifat melindungi ekosistem alam,” sebut Putra.

Untuk mengantisipasi terjadinya hal yang bersifat darurat, Mapala Hang Tuah selalu koordinasi dengan pihak terkait jika hendak melakukan kegiatan di alam bebas. Untuk yang terdekat, kata Aris, adalah berkordinasi dengan masyarakat setempat serta perangkat RT.

Selain itu, pihaknya juga berkordinasi dengan Badan SAR Nasional (Basarnas), Dinas Kesehatan yakni puskesmas terdekat hingga pihak polsek di daerah yang dituju.

”Koordinasi penting dilakukan. Itu yang lebih awal,untuk dilakukan saat menyusun perencanaan kegiatan. Setelah kegiatan selesai, kami memberikan laporan hasil kegiatan tersebut kepada pembina untuk dievaluasi,” ungkap Aris.

Kegiatan alam bebas sama seperti halnya kegiatan pramuka pelajar sekolah, kata Aris, kegiatan pramuka adalah hal yang mendasar bagi pelajar SD, SMP, SMA untuk mengenal alam bebas.

Ditambah dengan adukasi kepramukaan dan mengajarkan dasar hidup dialam dan menumbuhkan kebersamaan serta kekompakkan. Ditambah permainan seperti halang rintang yang ringan agar menarik. (ADLY BARA HANANI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here