Dinamika Kenakalan Remaja sebagai Permasalahan Sosial

0
1501
Khairul Ikhsan

Oleh: Khairul Ikhsan
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara – Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik UMRAH Tanjungpinang

Suatu perbuatan itu disebut delinkeun apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada pada masyarakat dimana ia hidup, suatu perbuatan yang anti sosial dimana di dalamnya terkandung unsur-unsur anti normatif.

Juvenile delinkquency (kenakalan remaja) bukan hanya merupakan perbuatan anak yang melawan hukum semata akan tetapi juga termasuk di dalamnya perbuatan yang melanggar norma masyarakat. Dewasa ini sering terjadi seorang anak digolongkan sebagai delinkuen jika pada anak tersebut menimbulkan gangguan-gangguan terhadap keamanan, ketentraman dan ketertiban masyarakat, misalnya pencurian, pembunuhan, penganiayaan, pemerasa, penipuan, penggelapan dan gelandangan serta perbuatan-perbuatan lain yang dilakukan oleh anak remaja yang meresahkan masyarakat.

Perbuatan anak-anak muda yang nyata-nyata bersifat melawan hukum dan anti sosial tersebut pada dasarnya tidak disukai oleh masyarakat disebut juga problem sosial. Jadi pada dasarnya problema-problema sosial menyangkut nilai-nilai sosial dan moral, oleh karena menyangkut tata kelakuan immoral, berlawanan dengan hukun dan dapat bersifat merusak. Maka dari itu problema-problema sosial tidak akan mungkin ditelaah tanpa mempertimbangkan ukuran-ukuran masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk.

Problema-problema sosial ini berwujud kenakalan remaja tentu timbul dan dialami oleh sebagian besar kelompok sosial, dan fenomena tadi akan menjadi pusat perhatian sebagian besar anggota masyarakat untuk mendapatkan jalan yang paling efektif di dalam mengatasi baik secara preventif maupun represif . Juvenile delinquency (kenakalan remaja) hanyalah merupakan bagian terkecil dari problema-problema sosial yang dialami oleh masyarakat. Dewasa ini masyarakat sedang dilanda beberapa problem sosial antara lain: Pertama, dengan tingginya kuantitas kelahiran, timbul masalah kependudukan. Kedua, dengan sebab yang beragam, timbul masalah kemiskinan. Ketiga, mungkin karena merosotnya mental, timbul masalaah korupsi. Keempat, karena majunya persenjataan ditunjang dengan kemelut politik, ideologi timbul peperangan. Kelima, barangkali karena degradasi moral dari individu itu, timbul masalah pelacuran baik terang-terangan maupun terselubung.

Pada garis besarnya masalah-masalah sosial yang timbul karena perbuatan-perbuatan anak remaja dirasakan sangat mengganggu kehidupan masyarakat baik di kota maupun di pelosok desa. Akibatnya sangat memilukan, kehidupan masyarakat menjadi resah, perasaan tidak aman bahkan sebagian anggota-anggotanya menjadi terasa terancam hidupnya. Problema tadi pada hakikatnya menjadi tanggung jawab bersama di dalam kelompok. Hal ini bukan berarti masyarakat harus membenci anak nakal (delinkuen) atau mengucilkannya akan tetapi justru sebaliknya. Masyarakat dituntut secara moral agar mampu mengubah anak-anak nakal (delinkuen) menjadi anak saleh, paling tidak mereka dapat dikembalikan dalam kondisi equilibrium.

Keresahan dan perasaan terancam tadi tentunya terjadi sebab kenakalan-kenakalan yang dilakukan anak remaja pada umumnya: Pertama, berupa ancaman terhadap milik orang lain yang berupa benda seperti pencurian , penipuan dan penggelapan. Kedua, berupa ancaman terhadap keselamatan jiwa orang lain seperti pembunuhan dan penganiayaan yang menimbulkan matinya orang lain, contohnya pembegalan. Ketiga, perbuatan-perbuatan ringan lainnya, seperti pertengkaran seperti pertengkaran sesama anak, minuman-minuman keras, begadang atau berkeliaran sampai larut malam.

Problem sosial tersebut secara esensial bukan sekadar merupakan tanggung jawab para orang tua atau wali di rumah, pemuka-pemuka masyarakat, dan pemerintah semata, akan tetapi masalah-masalah tersebut menjadi tanggung jawab para anak remaja sendiri untuk ditanggulangi jadi dihindari demi kelangsungan hidup masa depan mereka. Dalam beberapa hal akan timbul kesulitan yang asasi untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab, akan tetapi secara sosiologis rasa ikut bertanggung jawab untuk mengatasi problema sosial akan timbul dengan sendirinya karena ada unsur solidaritas (sense of solidarity) yang kuat dari mereka terhadap masyarakat.

Unsur solidaritas merupakan pengikat utama di dalam masyarakat. Oleh sebab itu setiap individu didalam, masyarakat harus memilikinya termasuk anak-anak remaja. Solidaritas atau setia kawan timbul karena kesadaran bahwa mereka merupakan satu kesatuan. Solidaritas sosial memiliki peranan penting dalam proses interaksi sosial. Berkaitan dengan besarnya peranan setia kawan di dalam masyarakat membuat individu merasa tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Anak-anak remaja dapat dikatakan memiliki rasa solidaritas di dalam masyarakat, jika rasa kesatuan antar anak-anak remaja dengan anggota masyarakat yang lain benar-benar terasa. Ukuran yang paling mudah untuk menentukan adanya rasa kesatuan di dalam masyaraiat adalah bila penderitaan atau kebahagiaan salah satu anggota masyarakat (karean korban pencurian, keluarganya terbunuh) juga dirasakan sebagai penderitaan yang lain (anak-anak remaja). Demikian pula sebaliknya kesenangan atau kebahagiaan yang lain (anak-anak remaja). Dengan adanya fakta-fakta positif tersebut dapat dipastikan bahwa anak-anak remaja di dalam maryarakat telah memiliki rasa setia kawan atau solidaritas yang kuat, demikian pula jika terjadi fakta-fakta yang negatif maka berarti solidaritas tersebut lemah.

Terdapat perbedaan daya kerja solidaritas antara masyarakat sederhana dengan masyarakat modern. Dalam masyarakat sederhana unsur solidaritas bekerja secara vertical (tegak lurus) yang berpusat pada pimpinan, maksudnya rasa bersatunya setiap anggota masyarakat tersebut melalui pimpinannya. Jadi didalam masyarakat sederhana semua menyerahkan dan mempercayakan seluruh kepentingan dirinya pada pimpinan sehingga yang mencolok adalah pemimpinlah yang menjadi tali pengikat bagi mereka. Jadi bagi masyarakat sederhana pimpinan harus berwibawa, ia harus mampu memberi teladan yang baik terhadap seluruh warganya, sebab dengan demikian pimpinan akan disegani dan akan dipatuhi segala perintahnya serta mereka takut akan murkanya.

Dengan demikian setiap anggota kelompok termasuk anak-anak remaja merasa enggan berbuat sesuatu yang dapat meresahkan masyarakat misalnya mencuri, membunuh dan menganiaya sehingga kehidupan masyarakat akan tenteram dan tertib serta kesatuan kelompok terjalin dengan baik. Sedangkan pada masyarakat modern unsur solidaritas tersebut bekerja secara horizontal (mendatar), rasa setia kawan yang mengikat masyarakat langsung dari anggota kepada anggota, rasa bersatunya anak-anak remaja dengan anggota masyarakat lain bukan karena pimpinan, akan tetapi kesadaran anak-anak remaja itu sendiri. Akibatnya tanggung jawab anak-anak remaja terhadap anggota masyarakat lain atas kesadaran tanggung jawab sendiri bukan karena takut atau perintah pimpinan.

Pada dasarnya secara sosiologis rasa setia kawan perlu dimiliki oleh anak remaja, sebab pada prinsipnya rasa setia kawan dapat melatih mereka untuk memiliki tanggung jawab moral terhadap semua perbuatannya di tengah-tengah masyarakat. Dalam perkembangan berikutnya rasa setia kawan tersebut dapat membimbing mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan memberi dampak positif bagi kemaslahatan dan kepentingan umum. Sebaliknya, unsur setia kawan ini pula dapat mencegah mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat meresahkan dan merugikan masyarakat. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here