Dirgahayu Pramuka Sebagai Obat Galau

0
913
Dian Fadillah, S.Sos

Lentera Kecil Dalam Kegelapan

Oleh : Dian Fadillah S.Sos
Wakil Ketua DPD MAPANCAS Kepri dan Pemerhati Jalan-jalan

Pramuka “Praja Muda Karana” yang memiliki arti “Jiwa Muda yang Suka Berkarya” Bila dihubungkan dengan Nawacita Indonesia tentunya dapat terkorelasi secara fluaktuatif mutualisme untuk menghasilkan generasi berkualitas di masyarakat. Kualitas yang dapat dimulai dari bagian dari masyarakat yang paling mayoritas yaitu terkhusus remaja dan anak anak. Konsep pramuka yang ada dalam Gerakan Pramuka Indonesia merupakan organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan dalam kepanduan ruang lingkup sekolah, dijadikan kegiatan ekstra kurikuler wajib sebagai tambahan di dalam program ekstra kurikuler itu sendiri.

Kata Pramuka sendiri sebenarnya merupakan merupakan sebagai sebuah sebutan untuk anggota yang secara organisatoris terdiri dari Pramuka Siaga (7-10 tahun), Pramuka Penggalang (11-15 tahun), Pramuka Penegak (16-20 tahun) dan Pramuka Pandega (21-25 tahun) yang diikuti dengan kelompok anggota yang lain Pembina, Andalan, Korps Pelatih, Pamong Saka, Kartir sampai kepada Majelis Pembimbing Pramuka yang ada di daerah dan Pusat.

Kepramukaan sebagai suatu proses pendidikan di luar lingkungan sekolah pada implementasinya tidak terlepas dari lingkungan standar yaitu keluarga yang merupakan wadah dasar anak yang sudah dibekali kegiatan positif dan menarik di samping menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis dengan konsep dilakukan di alam terbuka.

Prinsip dasar kepramukaan dengan metodenya berbaur dengan alam yang sasaran utamanya terletak pada pembentukan watak, akhlak, serta budi pekerti luhur peserta didik/anak. Di samping itu juga, Kepramukaan memang merupakan sistem pendidikan kepanduan yang disesuaikan dengan keadaan, kepentingan, dan perkembangan masyarakat, dan bangsa Indonesia sehingga pada Kurikulum 2013 dijadikan dalam kegiatan ekstrakurikuler Praja Muda Karana dan dijadikan kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) wajib.

Baca Juga :  Dana Desa dan Pengentasan Kemiskinan

Bukan menjadi mata pelajaran wajib, melainkan tetap menjadi kegiatan ekstrakurikuler (terutama bagi peserta didik di tingkat Sekolah Dasar).
Hal ini diterapkan pada saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dijabat oleh Mohammad Nuh beberapa waktu lalu sampai saat ini kepada wartawan usai penandatangan Nota Kesepahaman dengan Dewan Masjid Indonesia di Gedung A Kemedikbud sebagai Komposisi proses pembelajaran yang merupakan bagian dari intrakurikuler dan ekstrakurikuler.

Apabila dilihat dari sejarah yang ada bahwa Pramuka itu sendiri diawali pada 22 Februari 1857 dipelopori Robert Stephenson Smyth. Ayahnya bernama Powell seorang Professor Geometry di Universitas Oxford, yang meninggal ketika Stephenson masih kecil.

Pengalaman luar biasa Sang Baden Powell yang berpengaruh pada kegiatan kepramukaan yaitu terutama karena ditinggal bapak sejak kecil, maka mendapatkan pembinaan watak ibunya. Sehingga kakaknya mendapat latihan keterampilan berlayar, berenang, berkemah, olahraga dan lain-lainnya di samping sebagai anak yang sangat cerdas, gembira, lucu, suka main musik, bersandiwara, berolah raga, mengarang dan menggambar sehingga disukai teman-temannya dengan prestasi yang gemilang. Sehingga William Smyth seorang pimpinan Boys Brigade di Inggris minta agar Baden Powell melatih anggotanya sesuai dengan pengalaman yang ada yang akhirnya pada awal tahun 1908 Baden Powell menulis pengalamannya untuk acara latihan kepramukaan yang dirintisnya.

Kumpulan tulisannya ini dibuat buku dengan judul “Scouting For Boys” yang kemudian berdiri organisasi kepramukaan yang semula hanya untuk laki-laki dengan nama Boys Scout. Akhir ceirta pada tahun 1920 diselenggarakan Jambore Dunia yang pertama di Olympia Hall, London. Beliau mengundang Pramuka dari 27 negara dan pada saat itu Baden Powell diangkat sebagai Bapak Pandu Sedunia (Chief Scout of The World).

Baca Juga :  Memilih yang Terbaik

Dari rangkaian sejarah Kepramukaan sebenarnya ada dua hal yang menjadi alasan dalam menjadikan Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib :
1. Dasar legalitas yang jelas dalam Undang-undang Nomor 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka.
2. Pramuka mengajarkan nilai kemandiran, kepemimpinan, kebersamaan, sosial, kecintaan alam, hingga kemandirian. “Dari sisi organisasinya juga sudah proven. Jadi, kami sarankan ekstra yang satu ini wajib di semua level, terutama untuk siswa SD/ MI,” ucapnya.

Wacana ini masih diterus dikembangkan dan dimatangkan dengan melibatkan pihak lain dengan segitiga yang akan terlibat dalam pematangan konsep Pramuka menjadi ekskul wajib, yaitu segitiga antara Kemedikbud, Kemenpora, dan Kwartir Nasional (Kwarnas) Pramuka.

Kegiatan kepramukaan itu tentunya dilakukan penataan dengan mendukung Pramuka sebagai ekskul wajib dalam Kurikulum 2013 diantaranya dengan melakukan penataran untuk guru-guru pengajar Pramuka (Guru pengajar mendapat kredit poin dan masuk dalam penghitungan jam mengajar profesi guru) dan revitalisasi organisasi di tiap sekolah serta dukungan pendanaan dari Kemedikbud.

Pramuka sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah tentunya tidak asing lagi yang belakangan ini santer di masyarakat terutama kalangan orang tua menghindari dari kegiatan monoton dengan aktivitas yang bersifat fleksibel berkembang mengikuti zaman.

Baca Juga :  Bersama ICMI Menuju Masyarakat Intelektual & Berwawasan Kosmopolitan

Pengalaman siswa yang masih duduk di bangku sekolah ataupun yang sudah melewatkan bangku sekolah merasakan sekali benar-benar dapat dirasakan manfaatnya yaitu :
· Adanya rasa Kemandirian diri terutama ketika dalam menghadapi kecelakaan di tempat terpencil jauh dari pemukiman, pramuka mengajarkan P3K, memiliki jiwa leadership sebagai modal kepemimpinan dengan kuatnya disiplin, kejujuran, tanggungjawab, serta menjawab semua masalah dan mengatasinya.
· Mendapat keluarga baru yang tidak hanya di sekolah saja tapi di luar sekolah sebagai ajang bertemu di Jambore.
· Dapat menumbuhkembangkan jiwa cinta Lingkungan dengan pelestarian lingkungan alam dalam flora dan fauna melalui penjelajahan di alam bebas penuh dengan keakraban.

Untuk program Kepramukaan saat ini sangatlah bermanfaat sebagai obat anti galau yang mengajarkan kebaikan dan keinovasian sehingga dapat dijadikan modal dasar berkreativitas menghadapi kesulitan kesulitan kehidupan sehari hari dan hendaknya dapat berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi (SLTP, SLTA sampai dengan Perguruan Tinggi).

Sehingga harapan implementasi kepramukaan itu sendiri setidaknya dapat dijadikan landasan dasar seorang pemimpin masa depan sebagaimana yang diterapkan di bangku sekolah yaitu modal utama untuk menjadi manusia berkualitas. Menjadi lentera kecil dalam kegelapan menuju generasi emas Indonesia.***

DIRGAHAYU PRAMUKA KE-56 BEKERJA UNTUK KAUM MUDA MEWARISKAN YANG TERBAIK BAGI BANGSA

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here