Disabilitas Bukan Penghalang Penerus Bangsa

0
377
Annisa Fitri

Oleh: Annisa Fitri
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH

Disabilitas merupakan suatu gangguan fisik atau kertebatasan seseorang didalam tubuhnya sehingga dapat membatasi aktivitas mereka dan juga halangan dalam berpartisipasi. keterbatasan aktivitas di sini diartikan sebuah kesulitan yang dialami seseorang dalam melakukan tugas atau aksi. Sedangkan halangan berpartisipasi berarti sebuah masalah yang dihadapi oleh seseorang dalam menjalani hidupnya.

Bagi masyarakat awam, kata disabilitas merujuk kepada penyandang cacat dan mungkin kata disabilitas terkesan kurang familiar bagi mereka karena mereka pada umumnya hanya lebih mudah menggunakan dengan istilah penyandang cacat. Disabilitas dan Pandangan Masyarakat adalah dua hal yang saling berkaitan, tetapi berbeda. Masyarakat memiliki pandangan yang berbeda terhadap disabilitas yang berada di sekitar mereka. Umumnya masyarakat menganggap jika keberadaan kaum disabilitas ini sebagai sesuatu hal yang merepotkan. Ada yang menganggap keberadaan mereka sebagai aib keluarga, biang masalah, hingga kutukan akan sebuah dosa yang pada akhirnya semakin memojokan disabilitas dari pergaulan masyarakat.

Dalam perkembangan berikutnya, pandangan masyarakat terhadap disabilitas berubah menjadi sesuatu yang harus mereka kasihani dan mereka tolong. Hal ini dikarenakan mereka adalah sosok yang dianggap kurang mampu dan membutuhkan bantuan. Secara garis besar, sikap dan pandangan masyarakat terhadap kaum disabilitas dapat dibedakan menjadi tidak berguna/tidak bermanfaat, dikasihani, dididik/dilatih, dan adanya persamaan hak.

Pandangan masyarakat terhadap kaum disabilitas juga dibedakan menjadi dua model, yaitu individual model dan social model. Individual model menganggap jika kecacatan yang dialami oleh seseorang itu lah yang dianggap sebagai masalahnya. Sedangkan social model menganggap jika masalahnya bukan terletak pada kecacatan yang dialami oleh seseorang, tapi bagaimana cara pandang masyarakat yang negatif terhadap kaum disabilitas ini yang menimbulkan masalah. Perlu diingat bahwa keberadaan kaum disabilitas itu pasti ada dalam sebuah negara. Menurut WHO sebagai organisasi kesehatan dunia, jumlah kaum disabilitas dalam sebuah negara itu setidaknya sebesar 10% dari total keseluruhan penduduk sebuah negara. Di indonesia sendiri menurut catatan dari kementerian sosial jumlah kaum disabilitas mencapai 7 juta orang atau sekitar 3% dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 238 juta pada tahun 2011.

Mengenai masalah disabilitas dan menurut pandangan masyarakat terhadap mereka yang menyandang keterbatasan fisik tersebut merupakan suatu situasi yang sangat ironi. Disabilitas merupakan kelompok yang rentan terhadap diskriminasi, khususnya dalam akses pendidikan, pelatihan keterampilan, dan pekerjaan. Dalam kehidupan sehari-hari mereka sering di diskriminasikan karena keterbatasan mereka, dan ada juga yang ingin menghindari kaum disabilitas dari kehidupan mereka. Alasan mereka sederhana, karena mereka tidak ingin mendapatkan efek negatif dari kaum disabilitas dalam kehidupannya seperti sumber aib, dikucilkan dalam pergaulan, dan permasalahan lainnya.

Padahal orang yang menyadang disabilitas pada umumnya ingin berkehidupan normal seperti sewajarnya orang normal. Mereka juga mempunyai hak dalam melakukan banyak hal walaupun dengan kondisi mereka saat ini kurang memungkinkan, namun mereka juga mempunyai hak dan kewajiban yang sama seperti kita. Mereka tidak pernah sama sekali mempunyai keinginan menjadi orang yang selalu memiliki keterbatasan, tetapi karena keterbatasan fisik mereka karena itulah banyak orang yang memandang mereka seperti itu, dan pendapat dan tindakan itulah yang membuat mereka berkecil hati untuk maju.

Apakah kita pernah berpikir bagaimana perasaan mereka terhadap tindakan-tindakan orang yang merendahkan atau mendiskriminasikan mereka dan bagaimana jika kejadian itu terjadi kepada kita dan tidak ada satupun yang mengerti, memahami dan menghargai akan kondisi keterbatasan tersebut pastinya jawabannya adalah sangat menyakitkan dan membuat kita patah semangat utuk menjalani kehidupan selanjutnya.

Pemerintah sebenarnya sudah sejak lama memiliki pegangan hukum dalam memperhatikan kesejahteraan dan kesetaraan bagi penyandang disabilitas, yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1997 Mengenai Penyandang Disabilitas, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2011 mengenai Pengesahan Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas, sehingga tidak ada lagi alasan untuk menunda. Sementara itu di dalam aturan perundang-undangan sudah jelas menyatakan jika disabilitas mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Meskipun secara jelas pemerintah sudah menetapkan beberapa peraturan perundang-undangan yang melindungi hak-hak kaum disabilitas, tetapi pada praktiknya hal ini tidak berjalan sebagai mana semestinya.

Banyak terjadi pelanggaran terhadap kaum disabilitas terutama pada bidang pendidikan dan pekerjaan. Keberadaan kaum disabilitas ini layak mendapat perhatian yang serius dari pemerintah.

Namun dengan keterbatasan fisik yang dialami seseorang bukan berarti menjadi suatu penghalang bagi orang tersebut untuk meraih prestasi layaknya orang-orang dengan kondisi fisik yang normal. Hal paling penting adalah bagaimana kita semua ini memiliki keterampilan, dan bisa menjadi seperti orang normal lainnya. Di Indonesia terdapat banyak penyandang disabilitas yang mampu memberikan motivasi bagi kita yang memiliki fisik yang lebih sempurna agar tak mudah berputus asa dalam menjalani kehidupan ini. Karena Tuhan telah memberikan kelebihan masing-masing kepada mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Bila penyandang disabilitas memiliki niat untuk hidup lebih maju, pasti mereka akan jauh lebih bersemangat tanpa pantang menyerah untuk menyoba, dan terus berlatih.

Para penyandang disabilitasi yang berakhir sukses dan berprestasi seperti : (1). Di Jombang, Jawa Timur, Nurudin Bramono, ia seorang penyandang disabilitas yang cacat dibagian kakinya namun dia berhasil menempuh pendidikan S-2 secara gratis dan kini menjadi dosen berkat semangatnya yang luar biasa,(2). lalu ada seorang Siswi tunadaksa membuktikan, bahwa keterbatasan fisik tak membuatnya putus asa untuk belajar hingga akhirnya ia mampu meraih gelar juara dalam Olimpiade Sains Nasional dalam mata pelajaran IPA. Tentu saja prestasi Anis ini sangat membanggakan SLB Negeri 1 Bantul Yogyakarta tempat ia menuntut ilmu, (3) Muhammed Zulfikar Rakhmat terlahir tak sempurna.

Sejak lahir dia mengalami gangguan syaraf motorik, sehingga kedua tangannya sulit bergerak. Kondisi itu juga membuatnya gagap, tak lancar bicara. Namun, di balik segala kekurangan itu, pemuda Semarang ini punya prestasi cemerlang. Bulan lalu, dia lulus dari jurusan Hubungan Internasional di Universitas Qatar. Program sarjana itu bisa dia selesaikan dalam kurun tiga setengah tahun saja. Soal nilai, jangan ditanya. Dia lulus dengan nilai hampir sempurna: 3,93. Prestasi mencorong ini pula yang membuatnya mendapat beasiswa penuh untuk kuliah ke jenjang lebih tinggi lagi. dan masih banyak para penyandang disabilitas yang berhasil dengan kesuksesan yang didapati. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here